Senin, 24 Juni 2019 | Jakarta, Indonesia

Setelah Indeks Amblas

Budi Kusumah

Jumat, 08 Maret 2019 - 20:24 WIB

Bei turun
Bei turun
A A A

Majalahreviewweekly.com - Keyakinan akan hasil perundingan AS – China buyar. Masih ada hal terberat untuk mencapai kesepakatan.

Prediksi para analis, bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) masih akan menguat di pekan ini, berantakan sudah. Sejak hari pertama (Senin 4/3) hingga penutupan pekan indeks terus merosot. Bahkan di penghujung pekan turun 1,16% ke level 6.383,07, nyaris ke titik terendah dalam dua bulan terakhir. Jika dihitung dalam seminggu, indeks telah melemah 118,88 poin atau sekitar 1,84%.

Pelemahan serupa juga terjadi di beberapa bursa utama kawasan Asia. Indeks Shanghai longsor 4,4%, Nikkei anjlok 2,01%, Hang Seng terkoreksi 1,91%, indeks Straits Times terpangkas 1,03%, dan indeks Kospi turun 1,31%.

Cabutnya investor dari pasar saham disebabkan adanya pengumuman dari Perdana Menteri Li Keqiang (Selasa, 5/3). Dalam pertemuan tahunan parlemen China ia mengatakan, target pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 dipangkas menjadi ke kisaran 6%-6,5%. Sebelumnya, target pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dipatok di kisaran 6,5%.

Jika yang terealisasi nanti-nya adalah target pertumbuhan ekonomi di batas bawah (6%), maka itu akan menjadi pertumbuhan ekonomi terlemah dalam nyaris 3 dekade. Pada tahun 2018, pertumbuhan ekonomi China tercatat sebesar 6,6%.

Fakta menunjukkan bahwa China memang sedang susah. Ekspornya periode Februari 2019 terkontraksi sebesar 20,7% secara tahunan. Jauh lebih dalam dibandingkan konsensus yang hanya memperkirakan penurunan sebesar 4,8% YoY.

Sementara itu, impor turun hingga 5,2%, juga lebih dalam dari ekspektasi yakni penurunan sebesar 1,4%. Alhasil, surplus neraca dagang hanya tercatat senilai US$ 4,12 miliar, di bawah ekspektasi yang senilai US$ 26,38 miliar.

Ditengah tekanan terhadap perekonomian China yang begitu besar, perang dagang dengan AS mungkin belum akan selesai dalam waktu dekat. Kemarin, raksasa produsen perangkat telekomunikasi asal China yakni Huawei resmi mengajukan tuntutan kepada pemerintah AS.

Huawei menuntut AS terkait penggunaan sebuah peraturan yang melarang lembaga pemerintah untuk membeli produk-produk besutan perusahaan. Tim pengacara dari Huawei menyebut bahwa peraturan tersebut menyalahi konstitusi dari AS sendiri.
Sebelumnya, AS sudah terlebih dulu mendakwa Huawei lantaran diyakini mencuri teknologi dari perusahaan penyedia layanan telekomunikasi asal AS yakni T-Mobile. AS juga mendakwa Huawei karena diyakini telah melanggar sanksi AS atas Iran.

Mengingat posisi Huawei yang begitu penting bagi denyut nadi perekonomian China, negosiasi dagang AS-China yang kini sudah memasuki tahapan akhir bisa menjadi buyar. Jika itu yang terjadi, AS dan China akan terlibat dalam perang bea masuk yang semakin panas dan semakin sulit untuk diselesaikan.

Berdasarkan fakta itulah, investor sebaiknya ekstra hati-hati dalam menyikapi pasar pekan depan. Tapi, biasanya, kalau sudah terkoreksi sangat dalam indeks harga saham gabungan menggeliat alias rebound.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 22 menit yang lalu

Kemenhub Kaji "O Bahn Sebagai Angkutan Massal

Kementerian Perhubungan tengah mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama “O-Bahn”.

Business 2 jam yang lalu

Pemerintah Mulai Prioritaskan Pasokan Batubara untuk Dalam Negeri

Produksi batubara tahun 2018 lalu mencapai 528 juta ton.

Global 6 jam yang lalu

Di Paris, Airbus Raih Kontrak 595 Pesawat

Airbus mendominasi lapangan udara Le Bourget. Pada ajang Paris Air Show.

Business 7 jam yang lalu

Kemenperin dan Blibli.com Gelar Kompetisi Creativepreneur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap e-Commerce menjadi gerbang bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk melakukan transformasi.

Global 7 jam yang lalu

Carrefour Jual 80% Sahamnya di China

Raksasa ritel Prancis, Carrefour Group, Minggu (23/6/2019), mengumumkan, pihaknya telah setuju untuk menjual 80% saham ekuitas di Carrefour China kepada Suning.com, peritel terkemuka China Suning.com…

Global 23/06/2019 11:55 WIB

Konsumen Pakaian AS Terbebani Kenaikan Tarif

Sebuah studi mengungkapkan, ancaman kenaikan tarif 25% pada tambahan impor China senilai USD300 miliar akan membuat konsumen AS membayar USD4,4 miliar lebih banyak setiap tahun untuk pakaian.

Business 23/06/2019 11:26 WIB

Bank Dunia Pinjami USD150 Juta untuk Rekonstruksi Sulteng

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman USD150 juta untuk membiayai rekonstruksi maupun penguatan perumahan dan fasilitas umum yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi di Sulawesi Tengah.

Global 23/06/2019 10:13 WIB

2021, Pasar VR China Capai USD7,5 Miliar

Pasar realitas virtual (VR) China terus berkembang.

Global 22/06/2019 09:59 WIB

Huawei Tetap Diterima di Banyak Negara

Keputusan Amerika Serikat (AS) yang memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam ternyata tidak menyurutkan sejumlah negara untuk menggandeng perusahaan asal China itu.

Business 22/06/2019 08:36 WIB

Indonesia-Italia Optimalkan Kerja Sama Industri

Indonesia dan Italia akan mengoptimalkan kerja sama di bidang industri yang mendominasi perdagangan antarkedua.