Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Istirahat Dulu, Baru Menguat Lagi

Bambang Aji Setiady

Jumat, 22 Maret 2019 - 21:06 WIB

Riset
Riset
A A A

Majalahreviewweekly.com - Libur di akhir pekan adalah dambaan semua orang. Tak terkecuali para pemain di pasar uang. Makanya, tak terlalu mengherankan bila hari ini (Jum’at, 22/3) aksi ambil untung terlihat marak. Apalagi, rupiah telah menguat terhadap dolar selama lima hari berturut-turut. Alhasil, kurs rupiah pun melemah 0,16% ke level Rp14.162 per dolar.

Namun menurut Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka, penurunan itu lebih karena penyelesaian Brexit yang masih belum ada kepastian. “Tak ada data signifikan yang mendorong pelemahan dolar kecuali soal Brexit” ujarnya. Ia menjelaskan, ketidakpastian Brexit telah mendorong investor kembali ke dolar. Makanya, tak hanya terhadap rupiah, dolar juga menguat atas mata uang sejumlah negara.

Penyelesaian Brexit memang makin tak menentu. Betul, pemimpin Uni Eropa (UE) akhirnya bersedia memperpanjang batas waktu Brexit hingga 22 Mei. Syaratnya, PM Inggris Theresa May harus mampu membuat Parlemen Inggris menyetujui opsi Brexit dengan kesepakatan. Tetapi jika House of Commons kembali menolak, maka 12 April depan Inggris harus ke luar dari UE. “Kecuali Inggris memutuskan untuk mengambil bagian dalam pemilihan parlemen Eropa,” ujar Donald Tusk, Presiden KTT Dewan UE.

Cukup mendebarkan, memang. Soalnya, ekonomi Inggris terancam kacau bila negara sepak bola ini ke luar dari UE tanpa kesepakatan. Situasinya makin keruh setelah lebih dari 2 juta orang  meneken petisionline. Mereka mendesak pemerintah Inggris untuk membatalkan Brexit. Nah, berdasarkan regulasi di Inggris, setiap petisi yang melebihi 100.000 tanda tangan memenuhi syarat untuk diperdebatkan oleh parlemen.

Ketidakpastian itulah yang membuat pemilik uang menjadi was-was. Menurut Ibrahim, kebuntuan Brexit ini menguntungkan dolar sebagai aset safe haven. Makanya, hingga pekan depan, para pemain valas cenderung akan mengoleksi mata uang dolar. “Ini akan mendorong dolar menguat terhadap mata uang lain, termasuk mata uang Garuda,” ujarnya.

Selain soal Brexit, indeks manufaktur AS dan pengumuman inflasi dari BPS juga bakal menentukan nasib rupiah di pekan depan. David Sumual, Ekonom Bank BCA, melihat peluang rupiah untuk menguat masih cukup terbuka. Sebab, pekan depan pemerintah akan kembali menggelar lelang surat utang negara. “Dana asing masih akan mengalir masuk ke pasar domestik,” ujar David.

Dengan proyeksi inflasi yang masih cukup rendah plus sokongan dari aliran dana asing, David memperkirakan pekan depan rupiah masih akan bergerak stabil dalam rentang Rp14.050 – Rp14.400 per dolar. “Sampai pertengahan April tampaknya masih akan seperti itu,” ujarnya.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…