Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

OJK: Likuiditas Lembaga Keuangan Terjaga

Edy Purnomo

Kamis, 28 Maret 2019 - 16:21 WIB

Gedung OJK. Ilustrasi oleh AGolf Design
Gedung OJK. Ilustrasi oleh AGolf Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Selama Februari 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) minilai stabilitas dan likuiditas sektor jasa keuangan tetap terjaga. Kinerja intermediasi dan profil risiko lembaga keuangan juga stabil.

Demikian kesimpulan Rapat Dewan Komisioner OJK yang disiarkan di Jakarta, Kamis (28/3/2019). OJK mengingatkan terdapat sentimen global yang mempengaruhi kondisi sektor keuangan. 

Sentimen itu antara lain perlambatan perekonomian global diikuti kebijakan moneter negara-negara utama yang lebih longgar (dovish). Indikator perekonomian AS, Eropa, Jepang dan Tiongkok cenderung berada di bawah ekspektasi dan mendorong penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2019.

Perkembangan tersebut mendorong The Fed memutuskan untuk tidak menaikkan Federal Funds Rate (FFR) pada 2019 dan menghentikan program normalisasi neraca mulai September 2019. 

Bank Sentral Eropa dan Jepang juga tetap mempertahankan suku bunga kebijakan 2019 serta berkomitmen untuk menyediakan likuiditas yang dibutuhkan pasar. 

Pemerintah Tiongkok juga berencana memberikan insentif moneter dengan pelonggaran suku bunga dan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) serta insentif fiskal dengan menurunkan tarif pajak.

"Kondisi tersebut mendorong berlanjutnya inflow ke emerging markets, termasuk Indonesia. Arus modal itu masuk ke pasar surat utang dan meningkatkan likuiditas di pasar keuangan," kata Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK Yohanes Santoso Wibowo dalam siaran pers, Kamis (28/3).

Sejalan dengan perkembangan likuiditas dan tren global, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga kebijakannya.

Selama Februari 2019l, pasar saham dan nilai tukar Rupiah melemah tipis masing-masing sebesar 1,37% dan 0,64% mtm. Pada periode itu, investor nonresiden membukukan net sell di pasar saham sebesar Rp3,4 triliun. Namun demikian, secara ytd IHSG masih meningkat sebesar 4,02% dengan investor nonresiden membukukan net buy sebesar Rp10,5 triliun.

Secara sektoral, kontributor terbesar penurunan IHSG berasal dari sektor aneka industri dan pertanian. Sementara itu, pasar SBN menguat dengan yield  rata-rata turun 26,7 bps. Investor di pasar SBN tercatat membukukan net buy sebesar Rp32,8 triliun,

Pada Februari 2019, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan meneruskan tren perbaikan. Kredit perbankan melanjutkan tren peningkatan, yakni tumbuh sebesar 12,13% yoy. 

Pada periode yang sama, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 4,61% yoy. Pertumbuhan kredit/pembiayaan di dorong oleh tingginya pertumbuhan kredit/pembiayaan untuk kegiatan investasi, memberikan harapan peningkatan aktivitas ekonomi ke depan.

Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,57% yoy. Sementara itu, asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi berhasil menghimpun premi masing-masing sebesar Rp15,4 triliun dan Rp8,5 triliun padaFebruari 2019. 

Di pasar modal, korporasi berhasil menghimpun dana Rp13,4 triliun  sepanjang Februari 2019, dengan jumlah emiten baru sebanyak dua perusahaan. Dana kelolaan investasi tercatat sebesar Rp767triliun, meningkat 5,68% dibandingkan posisi yang sama 2018.

OJK menilai, perbaikan kinerja intermediasi tersebut disertai dengan terjaganya profil risiko lembaga jasa keuangan. Rasio nonperforming loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,59% (NPL net: 1,17%). 

Sementara itu, rasio nonperforming financing (NPF) perusahaan pembiayaan stabil pada level 2,70%. Risiko pasar perbankan juga berada pada level yang rendah, dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan sebesar 1,92%, di bawah ambang batas ketentuan.

Pertumbuhan intermediasi juga didukung likuiditas perbankan yang memadai, tercermin dari liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar  218,45% dan 107,25%. 

OJK menilai  jumlah total aset likuid perbankan yang mencapai sebesar Rp1.162 triliun pada akhir Februari  2019, berada pada level yang memadai untuk mendukung pertumbuhan kredit ke depan.

Selain itu, pertumbuhan industri jasa keuangan juga didukung oleh permodalan yang kuat. Capital Adequacy Ratio perbankan meningkat menjadi sebesar 23,86% pada Februari 2019. Sementara itu, Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 316% dan 442%, jauh diatas ambang batas ketentuan.

Ke depan, OJK terus akan memantau pengaruh dovish-nya kebijakan moneter negara-negara utama serta perkembangan perundingan dagang AS-Tiongkok dan kesepakatan Brexit terhadap stabilitas sistem keuangan serta kondisi likuiditas di pasar domestik.

"OJK bersama otoritas terkait senantiasa memperkuat koordinasi untuk mengambil langkah-langkah terkait untuk memacu pertumbuhan dan mengantisipasi potensi risiko di sektor jasa keuangan ke depan," tutupnya. 

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…