Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Nyaris, Tak Ada Kabar Baik

Bambang Aji Setiady

Kamis, 28 Maret 2019 - 21:11 WIB

Ilustrasi Nilai Tukar. Sumber: Istimewa
Ilustrasi Nilai Tukar. Sumber: Istimewa
A A A

Majalahreviewweekly.com - Seperti telah diramalkan sebelumnya, hari ini nilai tukar rupiah kembali melemah. Ini terjadi karena investor, kelihatannya, tak tahan lagi melihat berbagai sentimen negatif yang muncul di berbagai negara, terutama  Jerman. Laporan buruk tentang perekonomian negeri itu, yang ditandai dengan jatuhnya imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun,  membuat para investor untuk segera mengambil langkah penyelamatan dengan memborong dolar.

Memburuknya perekonomian Jerman, negara paling kuat  di benua Eropa, telah mendorong Mario Draghi angkat bicara. Gubernur European Central Bank (ECB) itu mengatakan, dibutuhkan kebijakan moneter yang akomodatif untuk mengatasi kelesuan ekonomi di Eropa.  Pernyataan yang cenderung bernada dovish itu oleh pasar diartikan bahwa ECB akan kembali menggulirkan stimulus.

Perburuan dolar tampaknya masih akan berlangsung setelah kemarin Reserve Bank of New Zealand mengungkapkan niatnya untuk memangkas suku bunga. Hal ini membuat daya tarik dolar semakin bersinar. “Imbal hasil treasury (AS) memang lebih rendah. Tapi ini tak mempengaruhi dolar karena imbal hasilnya masih baik ketimbang obligasi Euro dan Selandia baru,” ujar Takuya Kanda, Manajer Umum di Gaitame.Com Research Institute.

Nyali para investor pun makin ciut setelah mengetahui voting parlemen Inggris kembali menolak delapan skenario Brexit yang ditawarkan PM Inggris There May. Dengan begitu, kemungkinan Inggris akan ke luar dari Uni Eropa April depan tanpa kesepatan (No - Deal Brexit). “Karena Inggris merupakan negara dengan perekomian terbesar kelima di dunia, maka dampaknya akan terasa ke negara lain,” ujar Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka.

Benar-benar tidak ada kabar yang baik. Makanya, jangan heran bila di hari penutupan pasar spotKamis ini (28/3) nilai tukar rupiah melemah 0,25% ke level Rp 14.243 per dolar. Pelemahan yang terjadi pada mata uang RI memang tidak terlalu dalam. Itu lantaran  tadi siang yen Jepang, yang juga menjadi salah satu aset safe haven, menguat sebesar 0,34 poin (0,31%) ke level 110,17 yen per dolar.

Kini para pemilik uang masih memantau perundingan dagang AS – China berlangsung Kamis ini di Beijing, China. Jika hasilnya positif, kemungkinan dolar bisa melemah terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah. Tapi menurut Ahmad Yudiawan, Analis Monex Investindo Futures, harapan rupiah untuk menguat  sangat tipis. “Ketidakpastian telah menggerus aset berisiko, termasuk rupiah,” ujarnya. Ia memperkirakan Jum’at besok (29/3) rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.150 – Rp 14.320 per dolar.
 

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…