Senin, 16 Desember 2019 | Jakarta, Indonesia

Gagal di Manufaktur, Gagal Tumbuh

Ria Martati

Senin, 01 April 2019 - 15:20 WIB

Jokowi Vs Prabowo. Ilustrasi oleh AGolf Design
Jokowi Vs Prabowo. Ilustrasi oleh AGolf Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Indonesia akan segera menggelar hajatan demokrasi 5 tahunan, Pemilu. Dalam hitungan belasan hari, pesta demokrasi ini akan menentukan siapa presiden berikutnya. Apakah masih Joko Widodo atau berpindah tangan pada Prabowo Subianto. Lalu kemana ekonomi Indonesia hendak dibawa di tangan kedua calon presiden ini.

Dalam lima tahun kepemimpinan Jokowi, ekonomi tak tumbuh sepesat yang dijanjikan ketika ia terpilih lima tahun lalu. Janji ekonomi tumbuh 7% nyatanya masih jauh api dari panggang. Terakhir BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 hanya 5, 17%. Meskipun angka pertumbuhan ini naik setiap tahunnya. Pada 2015 ekonomi tumbuh 4,88%, 2016: 5,03%, dan pada 2017: 5,07%.  

Apa yang menjadi faktor penghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Sementara pemerintah sudah berusaha menggerakkan ekonomi dari pinggiran dan pedesaan dengan menggelontorkan dana desa. Tak tanggung-tanggung dana desa sebesar Rp187,7 triliun telah mengucur sejak 2015 hingga 2018. Pemerintah masih menganggarkan Rp70 triliun pada 2019. Sehingga selama lima tahun ini Pemerintah akan mengucurkan Rp257 triliun dana desa.

Dari dana ini, menurut Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi telah terbangun 191,6 ribu km jalan desa, 58.931 unit sarana irigasi dan sarana prasarana penunjang, 1,41 juta meter jembatan, 4.175 embung desa, 37.830 unit BUMDesa dan sarana penunjang kualitas hidup masyarakat desa.

Soal infrastruktur yang oleh Bank Dunia dikatakan memiliki kesenjangan USD1,5 triliun dibanding negara berkembang lain juga telah rajin-rajinnya dibangun Pemerintah. Sejak 2015 hingga 2019, anggaran infrastruktur pemerintah terus naik. Jika pada 2015 tercatat Rp256,1 triliun, 2016: Rp269,1 triliun, 2017: Rp388,3 triliun, 2018: Rp410 triliun, dan 2019: Rp415 triliun.

Tapi itu belum cukup untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur dari negara berkembang lain. Nyatanya menurut The Global Competitiveness Report 2018 yang dirilis World Economic Forum (WEF), daya saing infrastruktur Indonesia ada di peringkat ke-71 dari 140 negara. Di tingkat Asia Tenggara, daya saing infrastruktur Indonesia masih kalah di bawah Singapura, Malaysia, Brunei Darusalam dan Thailand.

Gareth Leather, ekonom senior Capital Economics dilansir AlJazeera, mengungkapkan pandangan mengenai mandeknya pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Saya rasa secara fundamental, ini adalah kegagalan merevitalisasi sektor manufaktur,” sebut Leather.

Sektor manufaktur menurutnya adalah kunci, terutama soal tenaga kerja di sektor ini. “Di Indonesia, sangat mahal untuk mempekerjakan dan memecat pekerja,” katanya.

Hal inilah yang menyebabkan para investor lebih suka menanamkan modalnya dan membangun fasilitas-fasilitas manufaktur di negara Asean lain yang lebih murah seperti Vietnam.

“Saya pikir itu yang adalah alasan kunci mengapa pertumbuhan gagal mendekati target pemerintah,” tukas Leather.

Menurut Leather, Jokowi telah berhasil membuat beberapa kemajuan dalam anggaran infrastruktur. Tapi kunci lain yang harus dimainkan oleh Jokowi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah reformasi pasar tenaga kerja.

“Saya pikir tanpa itu maka Indonesia benar-benar akan berjuang untuk menarik jenis sektor manufaktur yang perlu untuk benar-benar meningkatkan pertumbuhan di atas lima persen yang saat ini tampaknya sedang mandek.”

Selain soal tenaga kerja, Indonesia menurutnya juga harus berjuang dalam melakukan reforma agraria. "

Nah, apakah program ekonomi Jokowi atau Prabowo dalam lima tahun ke depan berhasil mengidentifikasi dan menawarkan solusi untuk masalah ini? Silakan cermati.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…

Money 24/07/2019 17:02 WIB

Penantian Yang Masih Panjang

Modal asing diperkirakan akan terus ke luar dari BEI sampai rapat FOMC usai. Makanya, indeks dan rupiah kemungkinan baru akan menguat pekan depan.

Business 24/07/2019 15:17 WIB

Mendag Resmikan ITPC Shanghai

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meresmikan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Shanghai yang merupakan pusat promosi Indonesia pertama di China, Senin (22/7/2019).

Money 24/07/2019 14:45 WIB

Semester I, Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga

Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulan Juli menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan pada semester I-2019 dalam kondisi terjaga, sejalan dengan kinerja intermediasi sektor…

Global 24/07/2019 14:13 WIB

Huawei Siap Tambah Investasi USD436 Juta

Huawei Technologies Co Ltd  berencana untuk berinvestasi tiga miliar yuan (USD 436 juta) selama lima tahun ke depan.

Business 24/07/2019 13:40 WIB

Kemenperin Jaring Pelaku Industri Ikuti Hannover Messe 2020

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai menjaring pelaku industri untuk menjadi peserta Hannover Messe 2020.