Senin, 24 Juni 2019 | Jakarta, Indonesia

Memaknai Laba

Bambang Aji Setiady

Senin, 08 April 2019 - 14:45 WIB

Ilustrasi laba perusahaan besar oleh AReview Design
Ilustrasi laba perusahaan besar oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Bila membaca kinerja 2018 KOMPAS 100, perusahaan besar macam Bank BRI dan Bank BCA mampu meraup laba bersih dalam jumlah fantastis: Rp 32,4 triliun dan Rp 25,9 triliun. Lalu Astra dan Indofood masing-masing sukses membukukan laba bersih Rp 21,7 triliun dan Rp 4,2 triliun.

Nah, apa yang mula-mula terpikirkan oleh kita? Mungkin sebagian dari kita berpikir bahwa perusahaan-perusahaan itu telah menarik margin laba terlalu tinggi atas barang/jasa yang mereka jual. Mungkin kita tidak seharusnya membayar biaya yang tinggi setiap mengecek saldo bank. Mungkin harga mobil Avanza bisa di bawah Rp 221 juta.

Singkat kata, kita merasa selama ini telah membayar mahal atas barang/jasa sehingga perusahaan-perusahaan itu bisa meraup untung besar. Tetapi bukan berarti perusahaan tidak boleh untung besar. Dan terlalu naif bila kita menilai perusahaan hanya dari nilai labanya saja. Hanya saja, sebaiknya, keuntungan itu diperoleh secara wajar.

Kita bukan ingin mengkritik perusahaan-perusahaan yang mampu meraih laba besar. Kita hanya ingin menghimbau agar perusahaan seperti Nestle atau Kalbe Farma tidak mengambil keuntungan yang besar dari produk susu bayi dan supaya perusahaan-perusahaan farmasi menggali laba lebih dalam dari produk suplemen saja, bukan obat-obatan medis. Bangsa ini perlu melindungi bayi dan orang sakit, setelah Bulog mengontrol harga beberapa kebutuhan pokok.

Kita senang ada perusahaan untung besar, apalagi jika perusahaan itu perusahaan nasional atau milik negara (BUMN). Tapi bila ada perusahaan nasional atau BUMN melaba sangat besar, kita patut bertanya: “Mengapa harus melaba sangat besar dari rakyat sendiri?” Pemerintah mestinya mengevaluasi BRI yang mayoritas nasabahnya adalah penduduk desa yang pendapatanya pas-pasan dan pengusaha kecil (UMKM).

Percayalah, margin bunga bersih (NIM) dan biaya administrasi perbankan Indonesia sampai saat ini masih yang tertinggi di kawasan ASEAN.  Jasa telekomunikasi kita juga masih tergolong mahal. Begitu pula dengan harga obat-obatan. Logikanya, dengan pasar yang sangat besar (saat ini penduduk Indonesia sekitar 270 juta jiwa),  mestinya mereka bisa menjual barang/jasa dengan harga miring.

Sayang, selama ini kita tidak dapat mengomentari perusahaan-perusahaan yang menjual barang/jasanya kelewat tinggi. Langkah itu hanya seperti orang yang menabrakkan dirinya pada kereta api. Mana ada manusia yang menang lawan kereta api? Bank-bank besar sangat pongah dan memberi jawaban bernada menantang kepada nasabah yang suka protes. “Kalau tak puas, jangan jadi nasabah di sini”.

Kalau yang bicara seperti itu adalah customer service bank, mungkin bukan masalah yang berarti. Tapi bila hal itu diucapkan petugas PLN, apa yang bisa kita perbuat? Makanya, kita hanya bisa ngedumel ketika pemerintah menempuh cara instan dengan menaikkan tarif listrik untuk menyehatkan PLN ketimbang mencari lebih banyak pelanggan.

Ingat, ini zaman modern. Perhitungan laba/rugi bukan cuma pendapatan dikurangi pengeluaran, tapi juga menyangkut banyak aspek. Bukankan BRI atau PLN memiliki direkstur treasury, yang tugasnya pengelola penerimaan tunai (dalam jumlah besar) dari pelanggannya untuk mengkompensasi kerugian akibat tidak menaikkan harga? Lagi pula, sebuah perusahaan tak bakal serta merta bangkrut bila hanya rugi setahun tetapi melaba puluhan tahun.

Pada zaman ilmu ekonomi sudah berkembang jauh, laba bisa dieksplorasi. Lebih baik menerima tunai segera ketimbang menyimpan barang lama-lama. Waktu adalah laba tanpa wujud yang mesti kita pahami. Hal ini menjelaskan, mengapa mata cangkul buatan China bisa lebih murah dari besi tua. Pabrik di China berani menjual dengan margin tipis asal ada yang berani membayar tunai dalam dolar.

Tag

  1. bank
  2. laba
  3. bumn

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 14 menit yang lalu

Kemenhub Kaji "O Bahn Sebagai Angkutan Massal

Kementerian Perhubungan tengah mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama “O-Bahn”.

Business 1 jam yang lalu

Pemerintah Mulai Prioritaskan Pasokan Batubara untuk Dalam Negeri

Produksi batubara tahun 2018 lalu mencapai 528 juta ton.

Global 6 jam yang lalu

Di Paris, Airbus Raih Kontrak 595 Pesawat

Airbus mendominasi lapangan udara Le Bourget. Pada ajang Paris Air Show.

Business 7 jam yang lalu

Kemenperin dan Blibli.com Gelar Kompetisi Creativepreneur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap e-Commerce menjadi gerbang bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk melakukan transformasi.

Global 7 jam yang lalu

Carrefour Jual 80% Sahamnya di China

Raksasa ritel Prancis, Carrefour Group, Minggu (23/6/2019), mengumumkan, pihaknya telah setuju untuk menjual 80% saham ekuitas di Carrefour China kepada Suning.com, peritel terkemuka China Suning.com…

Money 8 jam yang lalu

Bitcoin Kembali Menembus Puncak

Harga bitcoin terus mencetak posisi tertinggi baru.

Money 24 jam yang lalu

LPS Siapkan Proses Likuidasi BPR Legian

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan melakukan pembayaran klaim penjaminan simpanan dan proses likuidasi PT BPR Legian. Langkah itu sebagai tindak lanjut atas keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang…

Global 23/06/2019 11:55 WIB

Konsumen Pakaian AS Terbebani Kenaikan Tarif

Sebuah studi mengungkapkan, ancaman kenaikan tarif 25% pada tambahan impor China senilai USD300 miliar akan membuat konsumen AS membayar USD4,4 miliar lebih banyak setiap tahun untuk pakaian.

Business 23/06/2019 11:26 WIB

Bank Dunia Pinjami USD150 Juta untuk Rekonstruksi Sulteng

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman USD150 juta untuk membiayai rekonstruksi maupun penguatan perumahan dan fasilitas umum yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi di Sulawesi Tengah.

Global 23/06/2019 10:13 WIB

2021, Pasar VR China Capai USD7,5 Miliar

Pasar realitas virtual (VR) China terus berkembang.