Selasa, 20 Agustus 2019 | Jakarta, Indonesia

Paruh Kedua 2019, Ekonomi Baru Meningkat Lagi

Edy Purnomo

Rabu, 10 April 2019 - 08:08 WIB

Ilustrasi Investasi. Sumber: Istimewa
Ilustrasi Investasi. Sumber: Istimewa
A A A

Majalahreviewweekly.com - Perkembangan ekonomi berubah cepat dalam beberapa tahun terakhir. Setahun lalu, kita disuguhi optimisme yang begitu menyejukkan. Dua tahun lalu, kegiatan ekonomi menunjukkan tren positif setelah mengalami perlambatan akibat sejumlah resesi di sejumlah negara. Bahkan, pemulihan ekonomi dianggap begitu cepat di berbagai belahan dunia.

Setahun kemudian, situasinya berubah. Ketegangan perdagangan AS-China merontokkan optimisme para pelaku ekonomi. China pun mengetatkan keran kreditnya. Tekanan makroekonomi melanda Argentina dan Turki. Sektor otomotif di Jerman terganggu. Negara-negara maju lebih memperketat keuangannya. Bersamaan dengan itu, otoritas moneter negara-negara maju mulai melonggarkan kebijakan moneternya.

“Semua itu berkontribusi secara signifikan dalam pelemahan ekspansi global, terutama paruh kedua 2018,” tulis Gita Gopinath, seperti dilansir IMFBlog, Selasa (9/4/2019).

Pelemahan itu berlanjut hingga paruh pertama 2019. Dana Moneter Internasiional (IMF, dalam World Economic Outlook (WEO), memproyeksikan perlambatan pertumbuhan pada 2019 untuk 70% ekonomi dunia. Pertumbuhan global melambat menjadi 3,6% pada 2018 dan diproyeksikan menurun lebih lanjut menjadi 3,3% pada 2019.

Revisi pertumbuhan ke bawah itu mencerminkan revisi negatif untuk beberapa ekonomi utama, termasuk kawasan euro, Amerika Latin, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia.

Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan meningkat lagi pada paruh kedua 2019. Hal itu didorong oleh kebijakan kebijakan moneter yang signifikan oleh negara-negara besar. Sikap otoritas moneter negara-negara besar telah bergeser. Kebijakan mereka lebih akomodatif. Hal itu mulai ditunjukkan Federal Reserve AS,  bank sentral Eropa, Bank of Jepang, dan Bank of England.

 Di sisi lain, China telah meningkatkan stimulus fiskal dan moneternya untuk mengatasi dampak negatif dari tarif perdagangan. Selain itu, prospek ketegangan perdagangan AS-Cina telah meningkat seiring prospek perjanjian perdagangan yang terbentuk.

Berdasarkan kajian IMF, respons kebijakan itu bisa membalikkan pengetatan kondisi keuangan ke berbagai tingkat di berbagai negara. Pasar negara berkembang mulai merasakan kembali aliran portofolio. Biaya pinjaman mulai menurun. Mata uang mereka mulai menguat terhadap dolar AS.

Sayangnya, peningkatan yang begitu cepat masih sebatas di pasar keuangan. Pergerakan ekonomi riil terkesan lambat meresponsnya. Produksi industri dan investasi masih lemah, baik di negara maju maupun negara berkembang. Sektor perdagangan global belum pulih sepenuhnya.

Melihat prospek perbaikan pada paruh kedua 2019, pertumbuhan global pada 2020 diproyeksikan akan kembali ke 3,6%. Pertumbuhan negara-negara berkembang diproyeksikan meningkat dari 4,4% pada 2019 menjadi 4,8% pada 2020. Secara khusus, ini bergantung pada pemulihan di Argentina dan Turki, perbaikan di negara berkembang lainnya.

Sebaliknya, pertumbuhan di negara maju akan sedikit melambat pada 2020. Pemulihan parsial terjadi di kawasan euro. Penyebabnya, dampak stimulus fiskal AS mulai memudar. Pertumbuhan cenderung terjadi pada kelompok ekonomi  yang sederhana. Sebab, penduduk di negara-negara itu mengalami tren usia penuaan dan pertumbuhan produktivitasnya rendah.

Setelah 2020, pertumbuhan global diperkirakan akan stabil sekitar 3,5%. Hal itu didukung terutama oleh pertumbuhan di China dan India. Bobot ekonomi kedua negara itu meningkat terhadap pendapatan dunia. Pertumbuhan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang akan stabildi kisaran 5%. Meski begitu, variasinyag cukup besar. Sebab, pertumbuhan negara berkembang Asia lebih cepat daripada kawasan lain.

Pola serupa berlaku untuk beberapa negara berpenghasilan rendah, Negara-negara yang menjadi importir komoditas bisa tumbuh cepat tetapi pendapatan per kapitanya tertinggal jauh di belakang negara maju.

Risiko Global

Ke depan, ekonomi global terus tumbuh pada tingkat wajar. Resesi global tidak lagi masuk dalam radar  proyeksi dasar. Ada banyak penurunan risiko. Namun, ketegangan perdagangan dapat memanas lagi dan terjadi di area lain. Di sektor industri otomotif, misalnya, gangguan besar akan terjadi pada rantai pasokan global.

Pertumbuhan ekonomi sistemik seperti kawasan euro dan China kemungkinan mengejutkan pada sisi negatifnya. Di sisi lain, risiko di sekitar Brexit tetap tinggi. Memburuknya sentimen pasar dapat dengan cepat memperketat kondisi pembiayaan, terutama terkait utang sektor swasta dan publik yang besar di banyak negara.

Mengingat risiko-risiko tersebut, IMF mengingatkan para pengambil kebijakan untuk menghindari kesalahan kebijakan.  Pembuat kebijakan perlu memastikan bahwa ketidakpastian kebijakan tidak melemahkan investasi. Kebijakan fiskal, misalnya, perlu disesuaikan dengan permintaan dan melindungi pengeluaran sosial. Yang tak kalah penting adalah memastikan bahwa utang publik tetap berada di jalur yang berkelanjutan.

Kebijakan sektor keuangan harus mampu menangani kerentanan secara proaktif dengan menggunakan alat makroprudensial. Kebijakan suku bunga hendaknya ditahan tetap rendah dalam waktu lebih lama. Kebijakan moneter harus tetap didasarkan pada data yang akurat. Ekspektasi inflasi harus terjangkar dengan baik.

Semua pelaku ekonomi harus bertindak untuk meningkatkan potensi output, meningkatkan inklusivitas, dan memperkuat ketahanan. Kerja sama multilateral yang lebih besar perlu diperkuat untuk menyelesaikan konflik perdagangan. Kerja sama multilateral juga dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim dan risiko dari keamanan siber. Kerja sama ini juga untuk meningkatkan efektivitas perpajakan internasional.

Ini adalah saat yang sulit bagi perekonomian global. Perekonomian global akan pulih kembali, Syaratnya, tekanan risiko menurun dan dukungan kebijakan diberlakukan efektif.  Sebaliknya, bila salah satunya tidak terwujud, maka pemulihan ekonomi  akan tertekan lagi.

Negara-negara yang ekonominya bergantung pada ekspor dan utang luar negeri dapat tergelincir. Dalam hal ini, pembuat kebijakan perlu menyesuaikan. Semua bergantung pada keadaan. Yang jelas, setiap negara memerlukan sinkronisasi fiskal yang dilengkapi dengan kebijakan moneter yang akomodatif.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Money 24/07/2019 17:02 WIB

Penantian Yang Masih Panjang

Modal asing diperkirakan akan terus ke luar dari BEI sampai rapat FOMC usai. Makanya, indeks dan rupiah kemungkinan baru akan menguat pekan depan.

Business 24/07/2019 15:17 WIB

Mendag Resmikan ITPC Shanghai

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meresmikan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Shanghai yang merupakan pusat promosi Indonesia pertama di China, Senin (22/7/2019).

Money 24/07/2019 14:45 WIB

Semester I, Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga

Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulan Juli menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan pada semester I-2019 dalam kondisi terjaga, sejalan dengan kinerja intermediasi sektor…