Senin, 24 Juni 2019 | Jakarta, Indonesia

Paruh Kedua 2019, Ekonomi Baru Meningkat Lagi

Edy Purnomo

Rabu, 10 April 2019 - 08:08 WIB

Ilustrasi Investasi. Sumber: Istimewa
Ilustrasi Investasi. Sumber: Istimewa
A A A

Majalahreviewweekly.com - Perkembangan ekonomi berubah cepat dalam beberapa tahun terakhir. Setahun lalu, kita disuguhi optimisme yang begitu menyejukkan. Dua tahun lalu, kegiatan ekonomi menunjukkan tren positif setelah mengalami perlambatan akibat sejumlah resesi di sejumlah negara. Bahkan, pemulihan ekonomi dianggap begitu cepat di berbagai belahan dunia.

Setahun kemudian, situasinya berubah. Ketegangan perdagangan AS-China merontokkan optimisme para pelaku ekonomi. China pun mengetatkan keran kreditnya. Tekanan makroekonomi melanda Argentina dan Turki. Sektor otomotif di Jerman terganggu. Negara-negara maju lebih memperketat keuangannya. Bersamaan dengan itu, otoritas moneter negara-negara maju mulai melonggarkan kebijakan moneternya.

“Semua itu berkontribusi secara signifikan dalam pelemahan ekspansi global, terutama paruh kedua 2018,” tulis Gita Gopinath, seperti dilansir IMFBlog, Selasa (9/4/2019).

Pelemahan itu berlanjut hingga paruh pertama 2019. Dana Moneter Internasiional (IMF, dalam World Economic Outlook (WEO), memproyeksikan perlambatan pertumbuhan pada 2019 untuk 70% ekonomi dunia. Pertumbuhan global melambat menjadi 3,6% pada 2018 dan diproyeksikan menurun lebih lanjut menjadi 3,3% pada 2019.

Revisi pertumbuhan ke bawah itu mencerminkan revisi negatif untuk beberapa ekonomi utama, termasuk kawasan euro, Amerika Latin, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia.

Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan meningkat lagi pada paruh kedua 2019. Hal itu didorong oleh kebijakan kebijakan moneter yang signifikan oleh negara-negara besar. Sikap otoritas moneter negara-negara besar telah bergeser. Kebijakan mereka lebih akomodatif. Hal itu mulai ditunjukkan Federal Reserve AS,  bank sentral Eropa, Bank of Jepang, dan Bank of England.

 Di sisi lain, China telah meningkatkan stimulus fiskal dan moneternya untuk mengatasi dampak negatif dari tarif perdagangan. Selain itu, prospek ketegangan perdagangan AS-Cina telah meningkat seiring prospek perjanjian perdagangan yang terbentuk.

Berdasarkan kajian IMF, respons kebijakan itu bisa membalikkan pengetatan kondisi keuangan ke berbagai tingkat di berbagai negara. Pasar negara berkembang mulai merasakan kembali aliran portofolio. Biaya pinjaman mulai menurun. Mata uang mereka mulai menguat terhadap dolar AS.

Sayangnya, peningkatan yang begitu cepat masih sebatas di pasar keuangan. Pergerakan ekonomi riil terkesan lambat meresponsnya. Produksi industri dan investasi masih lemah, baik di negara maju maupun negara berkembang. Sektor perdagangan global belum pulih sepenuhnya.

Melihat prospek perbaikan pada paruh kedua 2019, pertumbuhan global pada 2020 diproyeksikan akan kembali ke 3,6%. Pertumbuhan negara-negara berkembang diproyeksikan meningkat dari 4,4% pada 2019 menjadi 4,8% pada 2020. Secara khusus, ini bergantung pada pemulihan di Argentina dan Turki, perbaikan di negara berkembang lainnya.

Sebaliknya, pertumbuhan di negara maju akan sedikit melambat pada 2020. Pemulihan parsial terjadi di kawasan euro. Penyebabnya, dampak stimulus fiskal AS mulai memudar. Pertumbuhan cenderung terjadi pada kelompok ekonomi  yang sederhana. Sebab, penduduk di negara-negara itu mengalami tren usia penuaan dan pertumbuhan produktivitasnya rendah.

Setelah 2020, pertumbuhan global diperkirakan akan stabil sekitar 3,5%. Hal itu didukung terutama oleh pertumbuhan di China dan India. Bobot ekonomi kedua negara itu meningkat terhadap pendapatan dunia. Pertumbuhan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang akan stabildi kisaran 5%. Meski begitu, variasinyag cukup besar. Sebab, pertumbuhan negara berkembang Asia lebih cepat daripada kawasan lain.

Pola serupa berlaku untuk beberapa negara berpenghasilan rendah, Negara-negara yang menjadi importir komoditas bisa tumbuh cepat tetapi pendapatan per kapitanya tertinggal jauh di belakang negara maju.

Risiko Global

Ke depan, ekonomi global terus tumbuh pada tingkat wajar. Resesi global tidak lagi masuk dalam radar  proyeksi dasar. Ada banyak penurunan risiko. Namun, ketegangan perdagangan dapat memanas lagi dan terjadi di area lain. Di sektor industri otomotif, misalnya, gangguan besar akan terjadi pada rantai pasokan global.

Pertumbuhan ekonomi sistemik seperti kawasan euro dan China kemungkinan mengejutkan pada sisi negatifnya. Di sisi lain, risiko di sekitar Brexit tetap tinggi. Memburuknya sentimen pasar dapat dengan cepat memperketat kondisi pembiayaan, terutama terkait utang sektor swasta dan publik yang besar di banyak negara.

Mengingat risiko-risiko tersebut, IMF mengingatkan para pengambil kebijakan untuk menghindari kesalahan kebijakan.  Pembuat kebijakan perlu memastikan bahwa ketidakpastian kebijakan tidak melemahkan investasi. Kebijakan fiskal, misalnya, perlu disesuaikan dengan permintaan dan melindungi pengeluaran sosial. Yang tak kalah penting adalah memastikan bahwa utang publik tetap berada di jalur yang berkelanjutan.

Kebijakan sektor keuangan harus mampu menangani kerentanan secara proaktif dengan menggunakan alat makroprudensial. Kebijakan suku bunga hendaknya ditahan tetap rendah dalam waktu lebih lama. Kebijakan moneter harus tetap didasarkan pada data yang akurat. Ekspektasi inflasi harus terjangkar dengan baik.

Semua pelaku ekonomi harus bertindak untuk meningkatkan potensi output, meningkatkan inklusivitas, dan memperkuat ketahanan. Kerja sama multilateral yang lebih besar perlu diperkuat untuk menyelesaikan konflik perdagangan. Kerja sama multilateral juga dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim dan risiko dari keamanan siber. Kerja sama ini juga untuk meningkatkan efektivitas perpajakan internasional.

Ini adalah saat yang sulit bagi perekonomian global. Perekonomian global akan pulih kembali, Syaratnya, tekanan risiko menurun dan dukungan kebijakan diberlakukan efektif.  Sebaliknya, bila salah satunya tidak terwujud, maka pemulihan ekonomi  akan tertekan lagi.

Negara-negara yang ekonominya bergantung pada ekspor dan utang luar negeri dapat tergelincir. Dalam hal ini, pembuat kebijakan perlu menyesuaikan. Semua bergantung pada keadaan. Yang jelas, setiap negara memerlukan sinkronisasi fiskal yang dilengkapi dengan kebijakan moneter yang akomodatif.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 19 menit yang lalu

Kemenhub Kaji "O Bahn Sebagai Angkutan Massal

Kementerian Perhubungan tengah mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama “O-Bahn”.

Business 1 jam yang lalu

Pemerintah Mulai Prioritaskan Pasokan Batubara untuk Dalam Negeri

Produksi batubara tahun 2018 lalu mencapai 528 juta ton.

Business 7 jam yang lalu

Kemenperin dan Blibli.com Gelar Kompetisi Creativepreneur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap e-Commerce menjadi gerbang bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk melakukan transformasi.

Money 8 jam yang lalu

Bitcoin Kembali Menembus Puncak

Harga bitcoin terus mencetak posisi tertinggi baru.

Money 24 jam yang lalu

LPS Siapkan Proses Likuidasi BPR Legian

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan melakukan pembayaran klaim penjaminan simpanan dan proses likuidasi PT BPR Legian. Langkah itu sebagai tindak lanjut atas keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang…

Business 23/06/2019 11:26 WIB

Bank Dunia Pinjami USD150 Juta untuk Rekonstruksi Sulteng

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman USD150 juta untuk membiayai rekonstruksi maupun penguatan perumahan dan fasilitas umum yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi di Sulawesi Tengah.

Business 22/06/2019 08:36 WIB

Indonesia-Italia Optimalkan Kerja Sama Industri

Indonesia dan Italia akan mengoptimalkan kerja sama di bidang industri yang mendominasi perdagangan antarkedua.

Money 21/06/2019 18:59 WIB

Mudah-mudahan AS Tak Menyerang Iran

Efek sikap dovish The Fed masih akan terasa pekan depan. Karena itu, diduga rupiah akan menguat. Sedangkan pasar saham masih terancam panas dingin.

Business 21/06/2019 16:36 WIB

Seksi 1-3 Tol KLBM Citarget Beroperasi Akhir 2019

Pembangunan konstruksi jalan Tol Krian – Legundi – Bunder – Manyar (KLBM) di Provinsi Jawa Timur sepanjang 38,29 Km hingga Mei 2019 telah mencapai 70,24%.

Business 21/06/2019 15:35 WIB

Kementerian ESDM: Isu Kenaikan Tarif Tenaga Listrik Tak Benar

Kementerian ESDM menegaskan tidak ada kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL), seperti yang beredar di media sosial akhir minggu ini.