Minggu, 20 Oktober 2019 | Jakarta, Indonesia

Mewaspadai Beban Utang

Edy Purnomo

Kamis, 11 April 2019 - 09:30 WIB

Ilustrasi Investasi. Sumber: Istimewa
Ilustrasi Investasi. Sumber: Istimewa
A A A

Majalahreviewweekly.com

Dana Moneter Internasional (IMF) kembali mengingatkan sejumlah pihak untuk mengerem utang. Bahkan, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengemukakan kekhawatirannya terhadap masalah utang ini.

Dia pun meminta perusahaan maupun negara untuk menciptakan transparansi utang yang lebih besar. Yang pasti, utang bukan sesuatu yang gratis. Utang harus dibayar oleh semua pihak. Bentuk yang harus dibayar itu bisa sangat memengaruhi kondisi perekonomian nasional sebagai bangsa yang berdaulat.

Di Amerika Serikat, misalnya, rasio utang perusahaan terhadap produk domestik bruto (PDB) berada pada tingkat rekor tertinggi. Di beberapa negara Eropa, bank kelebihan beban dengan obligasi pemerintah. Di China, profitabilitas bank menurun, dan tingkat modal tetap rendah pada pemberi pinjaman kecil dan menengah.

Menyadari risiko yang bakal muncul akibat tingginya beban utang, Perdana Menteri Mahathir Mohamad meninjau ulang dan membatalkan sejumlah proyek. Langkah itu dilakukan demi mengurangi beban utang. Bahkan, Pemerintahan Malaysia akan menegosiasikan ulang proyek Jalur Sutra Maritim China yang disebutnya tidak menguntungkan Malaysia.

Langkah serupa dilakukan Filipina. Presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta kabinetnya meninjau semua kontrak pemerintah, termasuk pinjaman dari China. Duterte meminta agar kabinetnya menghapus semua ketentuan yang memberatkan. Pemerintahan akan fokus pada perjanjian konsesi dan kontrak pinjaman dengan ketentuan yang tidak menguntungkan Filipina.

Bagaimana dengan Indonesia? Kusfiardi, analis ekonomi politik dari Fine Institute, mengingatkan Indonesia harus berhati-hati terhadap jebakan utang di balik proyek ambisius China, Proyek Jalur Sutra Abad 21. Saat ini sudah ada banyak negara yang mengoreksi kesepakatan utang yang terkait pembangunan infrastruktur proyek tersebut.

Dia lantas mengutip data Bank Indonesia, Posisi utang Indonesia ke China melambung hingga 74% pada 2015. Pada 2014, total utang RI ke China adalah USD 7,87 miliar. Angkanya melesat menjadi USD 13,6 miliar pada 2015. Pada 2016, utang ke China menjadi USD 15,1 miliar di 2016 dan USD 16 miliar per Januari 2018.

Tanpa upaya mengeram, jumlah utang itu bakal membengkak. Terlebih  lagi, Pemerintah Indonesia menawarkan 28 proyek di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) II Belt and Road Initiative yang digelar di Beijing April 2019. Tak tanggung-tanggung, nilai proyek yang ditawarkan bernilai USD 91,1 miliar atau setara dengan Rp 1.296 triliun.

Menurut Kusfiardi, penawaran proyek tersebut masih sangat jauh dari pengetahuan masyarakat. Terutama dampaknya terhadap kepentingan nasional seperti penguasaan sumber-sumber ekonomi, maupun penguasaan objek vital seperti pelabuhan dan bandara.

Berdasarkan Laporan Stabilitas Keuangan Global, IMF juga mengingatkan adanya peningkatan kerentanan utang di ekonomi negara maju dan negara berkembang. Belum semua negara membunyikan bel alarm.

Ketika kondisi keuangan masih longgar, upaya pembangunan memang dapat memperkuat ekonomi darui guncangan. Pembangunan juga bisa menghambat penurunan ekonomi yang parah beberapa tahun ke depan.

Meski begitu, pengambil kebijakan harus memilih formula campuran kebijakan yang tepat. Negara dapat mempertahankan pertumbuhan sambil menjaga kerentanan tetap terkendali.

Ini menimbulkan dilema bagi para pembuat kebijakan. Mereka berusaha untuk melawan ekonomi global yang melambat. Bank sentral juga harus lebih sabar mengambil kebijakan moneternya. Bank sentral dapat mengakomodasi risiko penurunan yang berkembang terhadap ekonomi.

Jika pelonggaran kondisi keuangan bertahan terlalu lama, kerentanan justru akan terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi pun akan merosot di beberapa titik.

Berita baiknya, IMF menilai, risiko jangka pendek terhadap stabilitas keuangan global masih rendah. Namun, dalam jangka menengah, risiko tetap tinggi. Terlebih lagi, beberapa negara menghadapi tantangan di sektor fiskal. Hal ini dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Kondisi ini tentua tidak baik bagi posisi keuangan lembaga keuangan.

Tag

  1. utang
  2. imf
  3. pdb

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…