Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Ditopang Geliat Ekonomi China

Bambang Aji Setiady

Kamis, 11 April 2019 - 20:41 WIB

dolar
dolar
A A A

Majalahreviewweekly.com - Apa yang diduga pelaku pasar kini terbukti sudah. Notulensi Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret, yang dirilis Rabu kemarin, kembali menegaskan bahwa The Fed akan lebih bersabar dalam menaikan suku bunganya di masa depan. Bahkan sejumlah analis begitu yakin, tingkat suku bunga The Fed (Fed Fund Rate) tidak akan berubah sampai akhir tahun ini.

Rilis notulensi rapat FOMC bulan Maret yang cenderung dovish itulah yang, menurut beberapa analis, membuat nilai tukar rupiah menguat. Seperti kita saksikan bersama, hari ini (Kamis, 11/4) nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank  menguat 13 poin (0,09%) ke level Rp 14.140 per dolar. Tidak besar karena, ya itu tadi, kebijakan The Fed tersebut sudah diperkirakan pasar sejak jauh-jauh hari.

Kalau melihat tingkat inflasi inti consumer price index (CPI) yang kurang dari 2%, memang sudah sewajarnya The Fed mempertahankan suku bunga yang kini berada di level 2,25% - 2,50%.  Apalagi, belum lama ini lembaga keuangan internasional (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika. “Risalah rapat The Fed tidak memberi dampak karena sesuai dengan perkiraan pasar,” ujar Stephen Massocca, Senior VP di Wedbush Securities.

Memang, ada beberapa faktor lain yang ikut berperan mengerek rupiah. Salah satunya adalah kabar dari Energy Information Administration AS bahwa produksi minyak mentah AS tahun ini naik 1,43 juta barel per hari (bph) menjadi  12,39 bph. Kabar ini, setidaknya, mengurangi kecemasan terhadap rencana pemangkasan produksi oleh OPEC.

Kesediaan Uni Eropa (UE) untuk memperpanjang tenggat waktu Brexit sampai Oktober depan, juga cukup melegakan hati pelaku pasar. Sebab, dengan perpanjangan tersebut, peluang Inggris ke luar dari UE dengan kesepakatan semakin besar. Betul, di sisi lain, perpanjang waktu ini berisiko menimbulkan ketidakpastian politik antara Inggris dengan anggota UE selama enam bulan ke depan.

Keputusan European Central Bank (ECB) untuk mempertahankan suku bunga pun sudah sesuai dengan perkiraan pasar. Cukup? Belum. Ibrahim, Direktur Utama Garuda Berjangka, justru lebih menyoroti inflasi tingkat produsen (PPI) dan inflasi tingkat konsumen (CPI) China bulan Maret yang masing-masing tercatat 0,4% dan 2,3%. “Ini menandakan ekonomi China mulai pulih,” ujar Ibrahim.

Nah, menggeliatnya perekonomian China ini berpotensi membuat mata uang yuan menguat, dan secara tidak langsung menahan penguatan dolar AS terhadap mata uang Asia seperti rupiah. Tapi, nanti dulu, itu bukan berarti rupiah bakal langsung menguat. Sebab, masih banyak hal yang akan menghambat pergerakan mata uang RI. Salah satunya adalah menghangatnya perang dagang AS - UE.

Ibrahim menilai, peluang penguatan rupiah masih lebih besar ketimbang kemungkinan koreksi. Kalau pun nanti ada koreksi terhadap rupiah, sifatnya hanya sementara dan terbatas. Apalagi, ya itu tadi, kemungkinan besar suku bunga The Fed tidak akan naik sampai akhir tahun ini.  Untuk Jum’at besok (12/4), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.110 – Rp 14.190 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…