Senin, 24 Juni 2019 | Jakarta, Indonesia

Mempersoalkan Kinerja

Bambang Aji Setiady

Jumat, 12 April 2019 - 08:46 WIB

Jokowi Vs Prabowo. Ilustrasi oleh AGolf Design
Jokowi Vs Prabowo. Ilustrasi oleh AGolf Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Dalam setiap debat capres, kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kabinetnya kerap menjadi topik pembahasan. Kelompok pendukung Jokowi sudah pasti berpendapat bahwa kinerja petahana cukup bagus. Sementara itu kubu capres Prabowo Subianto berkata, pemerintah payah. Masing-masing punya argumen dan alasan.

Dalam menilai kinerja atau rapot pemerintah, kita selalu melihat angka-angka. Sebab, hal itu dapat menjelaskan kemajuan atau kemunduran. Kalau jumlah ekspor naik, misalnya, berarti Kementerian Perdagangan berhasil. Sebaliknya, jika turun, berarti gagal. Padahal, mestinya, penilaian bersifat komprehensif. Volume dan nilainya juga mesti diamati supaya diketahui meningkat atau merosot.

Penilaian terhadap Kementerian Tenaga Kerja mungkin lebih sulit lagi. Apalah banyak mengirim tenaga kerja ke luar negeri berarti kinerja Muhammad Hanif Dhakiri cemerlang? Atau sebaliknya, kinerja Pak Hanif jeblok karena menandakan terbatasnya lapangan kerja di dalam negeri.

Jika angka pengangguran naik, memang Kementerian Tenaga Kerja-lah yang pertama-tama diberi nilai merah. Tetapi patut dipertanyakan pula prestasi Kementerian Pendidikan dan Kementerian Perindustrian. Apakah produk perguruan tinggi selama ini cukup bermutu dan apakah industri yang dibangun banyak menyerap tenaga kerja?

Masalahnya, jika disinggung soal kinerja, semua kementerian pasti akan menjawab seluruh program yang dicanangkan sudah terlaksana dan berhasil 100%. Padahal, kita sendiri mungkin tidak tahu program yang dimaksud. Pihak yang anti pemerintah pun sama gamangnya. Pokoknya asal melontarkan kritik negatif. Jadi, tak ada ukurannya dan tak ada prestasi yang dapat diukur secara akurat, bahkan tak ada data yang dapat diperdebatkan.

Mestinya prestasi kerja harus dapat diukur atau dibadingkan dengan target. Tapi kalau target tidak diumumkan atau tidak diketahui, pencapaiannya tentu tidak mungkin diukur. Kementerian-kementerian pasti punya program kerja, namun mungkin mereka lalai mengumumkannya sehingga sulit dikontrol rakyat. Contoh sederhana, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat seyogyanya mengumumkan ruas-ruas jalan yang diprioritaskan diperbaiki sehingga rakyat bisa mengontrolnya.

Sesungguhnya, bagi kebanyakan orang biasa, mereka tidak peduli dengan program kerja di setiap kementerian. Mereka juga tak ingin tahu apakah nilai rapot kementerian merah atau biru.  Hal yang dinilai masyarakat adalah apakah anak-anak mereka bisa bersekolah gratis atau murah, tidak sulit mencari pekerjaan, harga kebutuhan pokok terjangkau, dan apakah air bersih bisa mengalir selama 24 jam?

Jika hal-hal pokok tersebut (terutama pelayanan publik) masih menjadi persoalan, lantas apa faedahnya kita bernegara? Repot sekali bila setiap rumah tangga kudu mengoperasikan generator sendiri karena belum mendapat aliran listrik PLN.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 44 menit yang lalu

Pemerintah Siapkan Skema Pembiayaan Perumahan untuk Generasi Milenial

Saat ini diperkirakan terdapat 81 juta jiwa generasi milenial yang belum memiliki rumah dan menjadi pasar potensial perumahan.

Business 58 menit yang lalu

Kemenhub Kaji "O Bahn" Sebagai Angkutan Massal

Kementerian Perhubungan tengah mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama “O-Bahn”.

Business 2 jam yang lalu

Pemerintah Mulai Prioritaskan Pasokan Batubara untuk Dalam Negeri

Produksi batubara tahun 2018 lalu mencapai 528 juta ton.

Global 7 jam yang lalu

Di Paris, Airbus Raih Kontrak 595 Pesawat

Airbus mendominasi lapangan udara Le Bourget. Pada ajang Paris Air Show.

Business 7 jam yang lalu

Kemenperin dan Blibli.com Gelar Kompetisi Creativepreneur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap e-Commerce menjadi gerbang bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk melakukan transformasi.

Global 8 jam yang lalu

Carrefour Jual 80% Sahamnya di China

Raksasa ritel Prancis, Carrefour Group, Minggu (23/6/2019), mengumumkan, pihaknya telah setuju untuk menjual 80% saham ekuitas di Carrefour China kepada Suning.com, peritel terkemuka China Suning.com…

Money 9 jam yang lalu

Bitcoin Kembali Menembus Puncak

Harga bitcoin terus mencetak posisi tertinggi baru.

Money 23/06/2019 15:50 WIB

LPS Siapkan Proses Likuidasi BPR Legian

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan melakukan pembayaran klaim penjaminan simpanan dan proses likuidasi PT BPR Legian. Langkah itu sebagai tindak lanjut atas keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang…

Global 23/06/2019 11:55 WIB

Konsumen Pakaian AS Terbebani Kenaikan Tarif

Sebuah studi mengungkapkan, ancaman kenaikan tarif 25% pada tambahan impor China senilai USD300 miliar akan membuat konsumen AS membayar USD4,4 miliar lebih banyak setiap tahun untuk pakaian.

Business 23/06/2019 11:26 WIB

Bank Dunia Pinjami USD150 Juta untuk Rekonstruksi Sulteng

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman USD150 juta untuk membiayai rekonstruksi maupun penguatan perumahan dan fasilitas umum yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi di Sulawesi Tengah.