Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Semoga Berjalan Lancar

Bambang Aji Setiady

Minggu, 14 April 2019 - 08:56 WIB

Dok. Review
Dok. Review
A A A

Majalahreviewweekly.com - Hiruk-pikuk yang terjadi di jagat perpolitikan, terbukti, tak banyak berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.  Lihat saja, sepanjang pekan ini nilai tukar rupiah boleh dibilang relatif stabil karena hanya menguat 0,09% ke level Rp 14.120 per dolar.  Selain suhu politik di dalam negeri yang cukup kondusif,  memang ada beberapa faktor yang membuat mata uang RI cukup anteng selama sepekan terakhir.

Salah satu penyebabnya adalah rilis notulen Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret yang cenderung dovish.  Seperti sudah diketahui bersama, posisi rupiah aman karena The Fed belum akan menaikkan tingkat bunganya. Nah, menurut sejumlah analis pasar uang, sepanjang perbedaan BI – 7 day reserve repo rate dengan Fed Fund Rate masih lebar, tidak ada yang perlu dicemaskan.

Laporan data perekonomian AS yang ternyata di bawah perkiraan plus pemangkasanoutlook perekonomian dunia oleh IMF,  juga telah mendorong investor melakukan aksi buang dolar. Mata uang AS semakin dijauhi investor setelah Uni Eropa (UE) bersedia memperpanjang tenggat waktu Brexit dari April menjadi Oktober depan. “Hal ini membuat beberapa mata uang utama berhasil menguat terhadap dolar,” ujar Josua Pardede, Ekonom Bank Permata.

Dari dalam negeri, rupiah mendapat tambahan tenaga dari rilis data ekonomi yang cenderung positif. Misalnya, naiknya cadangan devisa bulan Maret menjadi US$ 124,5 miliar. Sementara itu indeks penjualan ritel domestik bulan Februari berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,2%.  Yang membuat suasana hati menjadi lebih adem adalah tingkat inflasi bulan Maret yang masih cukup terkendali.

Semua kondisi di atas itulah, menurut Faisyal, Analis Monex Investindo Futures, pada akhirnya mendorong rupiah lebih berotot. Penguatan rupiah ini sejalan dengan menguatnya mata uang lain, seperti yen dan euro terhadap dolar. Pelemahan dolar ini, selain dipengaruhi anjloknya outlook perekonomian dunia dan faktor Brexit, juga didorong oleh penurunan harga minyak untuk pengiriman bulan Mei.

Pekan depan, Faisyal memperkirakan, pergerakan nilai tukar rupiah akan dipengaruhi rilis data manufaktur zona Eropa dan hasil pertemuan anggota OPEC. Sementara dari dalam negeri, kinerja rupiah akan dipengaruhi rilis neraca perdagangan RI bulan Maret. “Jika hasilnya buruk, kemungkinan rupiah untuk melemah cukup besar,” ujar Faisyal.

Pilpres dan Pileg, yang akan berlangsung 17 April depan, diduga akan mendorong pelaku pasar mengambil sikap wait and see.  Karena itu, Faisyal melihat pasar uang dan pasar modal pekan depan akan cenderung bearish alias sepi. Ia memprediksi, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.030 – Rp 14.230 per dolar. Sementara itu Josua meramal rupiah akan berada pada level Rp 14.000 – Rp 14.150.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…