Minggu, 20 Oktober 2019 | Jakarta, Indonesia

Dicari: Presiden Pro Pasar

Bambang Aji Setiady

Senin, 15 April 2019 - 15:03 WIB

Ilustrasi IHSG pasca Pemilu.Sumber: AGolf Design
Ilustrasi IHSG pasca Pemilu.Sumber: AGolf Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Seluruh penduduk Indonesia yang berotak normal, pasti menginginkan pemilihan presiden berjalan lancar dan aman. Termasuk orang-orang di pasar modal dan pasar uang. Sebab, pilpres yang berlangsung mulus akan menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah mau pun perdagangan saham. Intinya, pasar yang di akhir pekan kemarin mulai menyepi lantaran investor bersikap wait and see, akan bullish alias ramai bila pilpres tidak disertai kerusuhan.

Siapa pun yang terpilih? Ya, siapa pun presidennya, yang penting tidak rusuh. Sebab, dari pengalaman yang sudah-sudah, pemilu yang berlangsung aman dan tertib ternyata mampu mendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG). Tahun 2004, misalnya, IHSG melesat 44,6% ketika pasangan Susilo Bambang Yuhoyono  – Jusuf Kalla berhasil mengungguli pasangan Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi. Sementara pada pemilu 2009 dan 2014 IHSG berhasil menguat  hingga 87% dan 22,3%.

Hanya saja, tidak semua pelaku pasar sepakat dengan pendapat tersebut. Kata mereka, pasar modal dan pasar uang akan bergairah kalaulah presiden yang terpilih  sesuai dengan proyeksi lembaga-lembaga survey. Sebab, kinclongnya performa IHSG dalam tiga pemilu terakhir (2004, 2009, 2014) memiliki kesamaan, dimana presiden yang terpilih sesuai dengan proyeksi mayoritas lembaga survey.

Nah, jika hasil lembaga survey yang dijadikan patokan, maka pasar modal akan bergairah bila yang terpilih  adalah pasangan Joko Widodo  – Ma’ruf Amin.  Sebab, menurut sejumlah survey, pasangan 01 lebih unggul ketimbang pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. Tapi, kalau pun  akhirnya kandidat 02 yang terpilih, pasar juga sebenarnya masih bisa menerima. Soalnya, Prabowo – Sandiaga Uno merupakan pebisnis yang dinilai mengerti persoalan ekonomi.

Bagi investor (terutama asing), status pro atau tidak pro pasar ini sangat penting artinya. Pemodal akan berlomba melakukan pembelian saham (yang akhirnya mendorong kurs rupiah) jika pemerintahan baru dianggap mumpuni dalam melakukan perbaikan ekonomi. Makanya, kalau harapan pelaku pasar terpenuhi, bukan tak mungkin IHSG dan nilai tukar rupiah akan kembali melesat seperti pada Pemilu-pemilu sebelumnya.

Sayangnya, seperti biasa, sentimen positif selalu dibayangi dengan kemungkinan-kemungkinan negatif. Misalnya, kalau pilpres berlangsung kurang mulus. Maka, bursa akan bergejolak dan dan IHSG bakal naik-turun dengan tajam. Investor pun akan kembaliwait and see. Keadaan bursa akan semakin parah jika pemilihan berlangsung ricuh. Ini juga bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Sebab, salah satu pendukung capres menyatakan akan menggelar aksi people power bila pemilu dinilai curang.

Mengerikan, memang. Makanya, doa pertama yang harus dipanjatkan kepada Allah SWT adalah supaya pilpres berlangsung aman. Pemenangnya pasangan 01 atau 02 tak masalah, yang penting (sekali lagi) aman. Sebab, jika sampai rusuh, bukan mustahil investor asing akan memindahkan dananya ke negara yang dianggap lebih stabil.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…