Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Di Sini, Kampanye Telah Usai

Bambang Aji Setiady

Senin, 15 April 2019 - 19:20 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
A A A

Majalahreviewweekly.com

Hari tenang sebelum pelaksanaan pemilu rupanya cukup menenangkan hati kalangan investor di pasar modal maupun di pasar uang. Buktinya, begitu atribut-atribut capres dan caleg dibersihkan dari ruang publik, indeks harga saham gabungan (IHSG) pun ditutup dengan penguatan cukup tajam ke level 6.435,15.

Begitu pun di pasar spot antar bank. Hari ini (Senin, 15/4), nilai tukar rupiah menguat 57 poin (0,41%) ke level Rp 14.063 per dolar. Seorang analis mengatakan, penguatan rupiah dipicu oleh keyakinan mayoritas pelaku pasar bahwa pemilu yang berlangsung pada 17 April akan lancar-lancar saja.

Namun, menurut Reny Eka Putri, Ekonom PT Bank Mandiri (Pesero), penguatan rupiah hari ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor politik. Ia justru menilai, rupiah menguat karena pengaruh faktor ekonomi murni. Lebih jauh Reny mengatakan, berkurangnya kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi dunia telah mendorong investor untuk kembali masuk ke emerging market seperti Indonesia.

Itu sebuah penjelasan yang cukup masuk akal. Soalnya, memang, bukan hanya rupiah saja yang berhasil menguat terhadap dolar. Hari ini, hampir sebagian mata uang di kawasan Asia juga menguat terhadap si green back. Won Korea, misalnya, berhasil menguat 0,54% ke level 1133,40 won per dolar.

Selain itu, penguatan rupiah juga didorong oleh laporan neraca perdagangan yang baru saja diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS). Laporan BPS menyebutkan, neraca perdagangan RI bulan Maret mencatat surplus US$ 540 juta. “Ada kemungkinan defisit neraca perdagangan Maret lebih rendah dibandingkan dengan konsensus pasar. Ini tentu menjadi sentimen positif bagi rupiah,” ujar Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka.

Ada lagi faktor lain yang membuat nilai tukar rupiah menguat. Menurut Ibrahim, faktor itu adalah data ekspor China yang tumbuh sebesar 14,2%. Sokongan lain datang dari harga minyak untuk pengiriman bulan Mei yang turun 0,35% ke level US$ 63,55 per barel. “Sentimen-sentimen tersebut telah membangkitkan selera investor untuk memburu aset berisiko, salah satunya rupiah,” ujar Ibrahim.

Nah, menilik kondisi yang ada, Ibrahim maupun Reny yakin Selasa besok (16/4) rupiah masih akan menguat. Ibrahim memperkirakan, besok rupiah akan bergerak dikisaran Rp 14.015 - Rp 14.040 per dolar. Sementara Reny menduga, rupiah akan bergerak di rentang Rp 13.950 - Rp 14.070. “Rupiah berpotensi menguat karena pelaku pasar optimistis pemilu akan berjalan kondusif,” ujar Reny.

Meski pun pelaku pasar sudah tidak takut lagi dengan pemilu, Reny memperkirakan beberapa hari ke depan perdagangan akan berlangsung sepi lantaran investor bersikapwait and see. “Rabu (17/4) libur, dan Kamis (18/4) perdagangan tidak akan terlalu besar karena sudah menjelang week end lagi,” ujar Reny.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…