Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Gairah Itu Nyaris Hilang

Bambang Aji Setiady

Senin, 22 April 2019 - 19:20 WIB

dolar
dolar
A A A

Majalahreviewweekly.com - Tanda-tanda pemulihan perekonomian AS semakin nyata. Kamis pekan lalu (18/4), Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel sepanjang bulan Maret tumbuh 1,6%. Angka ini lebih tinggi dari survey Bloomberg yang memperkirakan hanya tumbuh 1%. Sementara itu angka pengangguran turun menjadi tinggal 196.000 orang atau lebih rendah dari prediksi 211.000 orang.

Kondisi ekonomi AS yang membaik ini sontak membuat banyak pihak mencari dolar. Sialnya, hari ini pasar keuangan di Australia, Hong Kong, dan sejumlah negara di Benua Eropa tutup karena libur Paskah. Alhasil, aksi serentak ini membuat mata uang regional melemah, termasuk rupiah. Hari ini (22/4) nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,23% ke level Rp 14.078 per dolar. Sementara Peso Filipina dan Rupee India melorot 0,67% dan 0,46%.

Namun, pelemahan yang terjadi hari ini tidak semata-mata didorong oleh membaiknya data ekonomi AS. Harga minyak, menurut Satria Sambijantoro, Ekonom PT Bahana Sekuritas, juga ikut memacu tumbangnya mata uang RI. Sebab, kenaikan harga minyak dianggap bisa menciptakan beban inflasi dan defisit transaksi berjalan RI. Yang mencemaskan, harga yang sudah tinggi ini diperkirakan akan terus naik hingga beberapa pekan ke depan.

Oh, ya, hari ini harga minyak jenis West Texas Intermedia (WTI) untuk kontrak bulan Mei menguat 2,25% ke level US$ 65,44 per barel. Sementara itu minyak jenis Brent menguat lebih dari 2% ke level US$ 73,77.  “Minyak memang menjadi isu utama hari ini. Apalagi harganya diperkirakan masih bisa lebih tinggi,” ujar Satria.

Di Indonesia, selain faktor minyak dan data ekonomi AS, hasil pilpres dan pileg juga memberi dampak cukup besar terhadap pelemahan rupiah. Terlebih kedua kandidat calon presiden 01 dan 02 mulai melakukan perang urat syaraf secara terbuka. Seperti diketahui, meskipun hitungan cepat lembaga survey memenangkan capres 01, namun kubu 02 terang-terangan mengklaim sebagai pemenang.

Tak pelak, perang pernyataan sebagai pemenang pilpres 2019 itu mulai menimbulkan rasa was-was di kalangan pemilik uang. Maklum, pengalaman membuktikan, konflik di tingkat elite bisa merembet ke akar rumput. Karena itu, kelihatannya, kondisi rupiah belum akan menunjukkan perbaikan yang berarti di hari-hari ke depan.  

Seperti yang terjadi di bursa saham, pekan ini nyaris tak da sentimen positif yang bisa membuat investor melirik rupiah. Kalau pun ada, mungkin salah satunya berasal dari lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) yang akan digelar Selasa besok (23/4). Rio Ariansyah, Senior VP & Head of Invesment Recapital Asset management, yakin lelang SUN kali ini masih akan dibanjiri peminat. “Soalnya,yield SUN tenor 10 tahun masih di kisaran 7,5%.  Ini menjadi daya tarik bagi investor,” ujarnya.

Kendati Selasa besok bakal terjadi penyedotan rupiah lewat lelang SUN, namun hal itu tak serta merta membuat dolar bakal melemah. Soalnya, aksi pembelian dolar oleh korporasi dan Pertamina akan makin ramai seiring dengan makin dekatnya masa akhir bulan. Karena itu, Deddy Yusuf Siregar, Analis Asia Trade Point, memperkirakan Selasa besok rupiah akan melemah terbatas di rentang Rp 14.000 – Rp 14.110 per dolar. “Masih banyaknya pasar keuangan yang tutup membuat rupiah masih berpotensi melemah,” ujarnya.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…