Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Kalau The Fed Sudah Bicara

Bambang Aji Setiady

Selasa, 23 April 2019 - 19:06 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Pertumbuhan ekonomi AS ternyata lebih baik dari perkiraan IMF. Bila sebelumnya lembaga keuangan internasional itu memprediksi ekonomi Paman Sam hanya akan tumbuh 2,3%, hari ini (Selasa, 23/4) The Fed memperkirakan ekonomi AS pada kuartal I tumbuh sebesar 2,8%. Eloknya lagi, ekonomi AS semakin jauh dari ancaman resesi.

Sinyal bangkitnya ekonomi AS bisa dilihat dari sejumlah indikator. Seperti melesatnya penjualan ritel dan perumahan, angka pengangguran yang lebih rendah dari perkiraan, serta investasi yang masih bisa tumbuh 3,5%. Selain itu, yield treasuri tenor 10 tahun yang lebih tinggi dibandingkan tenor jangka pendek menunjukkan bahwa ekonomi AS kokoh dan jauh dari kemungkinan mengalami resesi.

Betul, indikator ekonomi AS baru akan diumumkan Jum’at depan. Namun pelaku pasar seolah-olah sudah begitu yakin ekonomi AS bakal menggeliat kembali. Buktinya, hari ini para investor mulai mengalihkan investasinya ke surat berharga berbasis dolar. Maka, wajar bila sebagian besar mata uang emerging Asia melemah terhadap dolar.

Akan halnya kondisi rupiah, kelihatannya, tidak terlalu mengkhawatirkan. Pada penutupan perdagangan hari ini (23/4),  kurs rupiah hanya melemah 2 poin ke level Rp 14.080 per dolar. Ini tentu mengejutkan. Soalnya, hari ini cukup banyak sentimen negatif yang menjepit rupiah. Misalnya, harga minyak light sweet untuk pengiriman bulan Juni yang naik sebesar 0,72% ke level US$ 66,02 per barel.

Menurut sejumlah analis, stabilnya nilai tukar rupiah itu jelas bukan didorong oleh kehendak pasar. Melainkan, karena BI aktif melakukan intervensi. Syahdan, intervensi itu dilatari kepentingan untuk menjaga kurs rupiah agar tetap stabil di tengah hangatnya suasana politik. Dengan begitu, citra pemerintah tetap baik di mata investor.

Namun, terlepas dari intervensi tadi, toh para pelaku pasar menilai beberapa hari ke depan rupiah belum akan menunjukkan penguatan. Apalagi, seperti dikatakan Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, saat ini investor umumnya memilih sikap wait and see sambil menungu hasil rapat Bank of Japan (BoJ) yang akan digelar Kamis lusa.

Sementara itu dari dalam negeri juga tak banyak sentimen positif yang bisa mengerek rupiah. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, yang juga akan berlangsung Kamis depan, diperkirakan akan tetap mempertahankan BI 7 - day reserve repo rate di level 6%. Euforia pemilu pun sudah lama lewat. Sementara perhitungan suara pilpres malah dirusak oleh aksi saling klaim kemenangan dari kubu 01 dan 02.

Semua kondisi itulah yang mendorong pelaku pasar bersikap wait and see. Ibrahim memperkirakan, Rabu besok (24/4) nilai tukar rupiah masih akan tertekan di kisaran Rp 14.062 - Rp 14.105 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…