Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Laba Bersih BNI Tumbuh 12,1%

Ria Martati

Rabu, 24 April 2019 - 17:25 WIB

Riset
Riset
A A A

Majalahreviewweekly.com - PT Bank Negara  Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 11,5% YoY dari Rp 3,66 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp 4,08 triliun pada akhir Maret 2019.

Direktur Kepatuhan Endang Hidayatullah mengatakan pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang kenaikan pendapatan bunga ( interest income ) sebesar 12,1% YoY sehingga Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income / NII) tumbuh dari Rp 8,50 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp 8,86 triliun pada Maret 2019 atau tumbuh 4,3% YoY.

“ Dengan  pertumbuhan NII tersebut dan ditambah oleh peningkatan pendapatan non bunga (Fee Based Income), efisiensi biaya operasional, serta terjaganya kualitas aset,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (24/4).

Kualitas kredit BNI terus menunjukkan perbaikan, yang ditandai oleh rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang terjaga pada level 1,9%. Dengan perbaikan kualitas kredit tersebut, BNI mampu menurunkan credit cost dari 1,7% pada Maret 2018 menjadi 1,3% pada Maret 2019. Sementara itu, coverage ratio juga masih meningkat dari 148,0% pada akhir Maret 2018 menjadi 153,1% pada Maret 2019 untuk  mengantisipasi potensi penurunan kualitas aset di masa mendatang.

Ditengah ketatnya likuiditas pada industri perbankan yang tercermin dengan Loan to Deposit (LDR) sebesar 94,0 % per Januari 2019, BNI mampu menjaga rasio LDR pada level 91,3% per Maret 2019. Kondisi likuiditas ini dapat mendukung pertumbuhan kredit BNI ke depan. 

Kinerja keuangan BNI tidak terlepas dari pencapaian kinerja perusahaan-perusahaan anak. BNI memiliki 5 perusahaan anak yang meliputi BNI Syariah, BNI Life, BNI Multifinance, BNI Sekuritas, dan BNI Asset Management yang memberikan kontribusi Laba pada Kuartal Pertama Tahun 2019 sebesar Rp 390,31 miliar atau tumbuh 37,6% YoY. Kontribusi itu setara 10,0% dari total Laba Bersih BNI. 

Pada kuartal pertama 2019, BNI berhasil meningkatkan penyaluran kredit BNI 18,6% Year on Year (YoY), yaitu dari Rp 439,46 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp 521,35 triliun pada akhir Maret 2019.

Pertumbuhan kredit BNI didorong oleh penyaluran Kredit Korporasi swasta yang tumbuh 23,3% YoY, dari Rp 132,67 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp 163,61 triliun pada Maret 2019. Kredit yang disalurkan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga tumbuh 26,7% YoY dari   Rp 83,41 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp 105,72 triliun pada Maret 2019. Kedua segmen ini berkontribusi sebesar 51,7% terhadap total Kredit BNI, dengan pembiayaan pada sektor-sektor unggulan, terutama sektor Manufaktur dan Infrastruktur. Penyaluran kredit ke sektor Manufaktur meningkat 17,5% YoY, dan Infrastruktur tumbuh 10,3% YoY.

Disamping pembiayaan kepada segmen Korporasi, penyaluran kredit segmen Medium tumbuh 8,4% YoY dari Rp 67,08 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp 72,72 triliun pada Maret 2019. Demikian juga penyaluran kredit segmen Kecil yang meningkat 18,5% YoY dari Rp 57,73 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp 68,42 triliun pada Maret 2019, terutama ditopang pertumbuhan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar 30,2% dibandingkan Maret 2018. Sebagai salah satu strategi pertumbuhan pada kedua segmen ini, BNI fokus pada Supply Chain Financing yaitu pemberian kredit kepada institusi-institusi yang memiliki hubungan bisnis dengan debitur segmen Korporasi BNI.

Selain ketiga segmen di atas, pertumbuhan kredit BNI juga ditopang oleh meningkatnya penyaluran kredit Konsumer. BNI Fleksi (Payroll Loan) masih menjadi kontributor utama pertumbuhan segmen Konsumer, yaitu meningkat 25,0% YoY dari Rp 19,07 triliun pada Maret 2018 menjadi  Rp 23,85 triliun pada Maret 2019. Penyaluran kredit properti (BNI Griya) masih yang terbesar dari aspek komposisi yaitu 51,8% dari total kredit konsumer, dengan pertumbuhan sebesar 9,4%.

Sementara di sisi Dana Pihak ketiga (DPK), BNI berhasil menghimpun dana masyarakat sebesar Rp575, 75 triliun. Angka itu tumbuh 16,8% YoY dari Rp 492,90 triliun pada akhir Maret 2018.

Pertumbuhan DPK yang berhasil dilakukan pada saat kondisi pasar likuiditas yang sangat ketat dengan rasio dana murah atau CASA dijaga pada level 60,5%, ditopang oleh pertumbuhan Giro sebesar 24,2% YoY; Tabungan 5,1% YoY; dan Deposito 22,5% YoY.

Berbagai strategi terus dilakukan untuk menghimpun dana murah. Pertama, BNI terus meningkatkan hubungan baik dengan institusi – institusi BUMN dan pemerintah serta mengembangkan layanan digital banking. Keberhasilan dalam upaya ini dapat dibuktikan dengan bertambahnya jumlah rekening dari 37,6 juta rekening pada akhir Maret 2018 menjadi 44,9 juta rekening pada akhir Maret 2019.

Kedua, BNI juga meningkatkan jumlah branchless banking atau yang dikenal dengan Agen46, yaitu agen-agen yang menjadi perpanjangan tangan BNI dalam melayani masyarakat yang tidak memiliki akses mudah ke outlet BNI. Pertumbuhannya adalah dari 82.000 Agen46 pada Maret 2018 menjadi 117.000 Agen46 pada akhir Maret 2019.

Tag

  1. bni
  2. bank
  3. laba

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…