Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Insya Allah, Rupiah Masih Aman

Bambang Aji Setiady

Rabu, 24 April 2019 - 19:33 WIB

Riset
Riset
A A A

Majalahreviewweekly.com - Perlahan tapi pasti, harga minyak dunia terus merangkak naik. Gara-gara Arab Saudi belum memastikan akan menggenjot produksinya untuk mengimbangi dampak embargo AS terhadap minyak Iran,  Rabu kemarin (23/4) harga minyak mentah jenis light sweet di pasar New York Mercantile Exchange meloncat ke posisi tertinggi sejak Oktober 2018 menjadi US$ 66,30 per barel. Sementara minyak Brent, yang menjadi acuan dunia, naik ke level US$ 74,15.

Tapi, syukurlah, hari ini (Selasa, 24/4) keadaannya tidak semakin memburuk. Minyak jenis West Texas Intermediate, misalnya, turun 0,74% ke level US$ 65,99 per barel. Meski begitu, kenaikaan bahan bakar dalam beberapa terakhir itu tetap saja berimbas ke pasar keuangan di seluruh dunia, termasuk di Jakarta.  Hari ini, kurs rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp 14.105 per dolar.

Selain faktor harga minyak, riset harian Asia Trade Point Futures menilai rupiah juga mendapat tekanan dari sentimen negatif akibat membaiknya beberapa indikator ekonomi AS. Misalnya, angka penjualan rumah baru  sebesar 692.000 unit atau tumbuh 4,9%. Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar dan tertinggi sejak November 2017.  “Data itu membuat kurs dolar cenderung menguat terhadap mata uang lainnya,” tulis Asia Trade Point Futures.

Faktor lain yang membuat nilai tukar rupiah loyo adalah pernyataan Donald Trump yang akan mengenakan pajak tinggi terhadap produk-produk dari Uni Eropa serta bakal membatasi masuknya sepeda motor impor ke pasar AS. Ancaman  Presiden Amerika itu dipicu oleh berkurangnya laba Harley Davidson hingga 27%. Trump menuding pajak tinggi yang dikenakan Uni Eropa sebagai biang keladinya.

Dari dalam negeri, juga tak banyak sentimen positif yang bisa mengerek naiknya nilai tukar rupiah. Betul, melalui lelang 7 seri surat utang negara (SUN), Selasa kemarin pemerintah berhasil menyedot rupiah Rp 23,40 triliun. Namun efeknya kurang terasa pada rupiah karena dananya diduga langsung dipakai untuk membayar utang yang jatuh tempo.

Sementara itu euforia pemilu yang berlangsung damai malah dirusak oleh aksi para pendukung capres 01 dan 02. Misalnya saja ajakan dari pedukung pasangan capres Joko Widodo – Maruf Amin untuk memboikot nasi padang gara-gara jagoan mereka kalah di Sumatera Barat. Yang membuat suasana lebih kacau adalah kemungkinan munculnya gugatan terhadap hasil pemilu oleh pasangan 02.

Semua kondisi di atas itulah yang mendorong pelaku pasar melepas rupiah. Tapi, menurut Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, untuk sementara harga minyak tak perlu dicemaskan. Sebab, Energy Information Administration meramalkan cadangan minyak AS masih berpeluang meningkat sehingga berpotensi mengoreksi harga. Itu sebabnya, ia menduga Jum’at besok (25/4) rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.062 – Rp 14.105 per dolar.

Pendapat senada dikemukakan Bhima Yudhistira. Ekonom Indef ini melihat, goyangan terhadap nilai tukar rupiah mulai menyurut. “Saat ini, memang, tengah terjadi peralihan portfolio global dari aset berisiko kembali ke dolar AS,” ujarnya. Bhima memperkiraan, ke depan nilai tukar rupiah tak akan jauh dari retang Rp 14.110 – Rp 14.150.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…