Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Agar Asing Tetap Betah

Bambang Aji Setiady

Kamis, 25 April 2019 - 19:10 WIB

dolar
dolar
A A A

Majalahreviewweekly.com - Pelaku pasar boleh berkeinginan, tapi BI tetap yang menentukan. Itulah yang terjadi di dunia moneter hari ini. Ketika dua pekan lalu BPS mengumumkan tingat inflasi tahunan sebesar 2,48%, pelaku pasar pun menduga BI bakal memangkas tingkat bunga acuan. Apalagi dalam laporannya bertajuk World Commodity Market Outlook edisi April, Bank Dunia meramalkan  harga minyak cenderung menurun hingga tahun 2020.

Sayangnya, tak semua asa bisa terkabul. Rapat Dewan Gubernur BI, yang berlangsung Kamis pagi hingga siang hari ini (25/4), tetap mempertahankan BI - 7 day reserve repo rate (BI - 7DRRR) di level 6%. “Keputusan tersebut konsisten dengan upaya BI memperkuat stabilitas eksternal, khususnya mengendalikan defisit transaksi berjalan dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Sebagai otoritas moneter, Perry dan para pembantunya tentu punya perhitungan sendiri untuk tetap mempertahankan tingkat bunga acuan. Meski pun, memang,  ada pelbagai perbaikan di sepanjangan kuartal I - 2019. Misalnya tingkat inflsi yang rendah. Ekspor, walau pun kecil, mulai mencetak surplus. Kondisi neraca pembayaran juga cenderung membaik. Sementara nilai tukar rupia, seperti kita saksikan bersama, boleh dibilang cukup stabil di kisaran Rp 14.000 - Rp 14.200 per dolar.

Singkat kata, stabilitas makro ekonomi masih terjaga dengan. Namun, ya itu tadi, kondisi ini tak membuat BI langsung menurunkan tingkat bunga. Meningkatnya kegiatan ekonomi selama bulan puasa dan Idulfitri dikhawatirkan akan mengerek harga-harga (tingkat inflasi), yang ujung-ujungnya akan mengagalkan target yang telah dipatok, yakni di level 3,5%. Apalagi di bulan Mei ini pegawai negeri (ASN) akan menikmati kenaikan gaji dan THR.

Selain kekhawatiran terhadap ancaman inflasi, menurut Satria Sambijantoro, Ekonom Bahana Sekuritas, masih ada kecemasan dari otoritas moneter akan kemungkinan terjadinya pelarian dana (capital flight) akibat membaiknya data ekonomi AS serta kinclongnya kinerja perusahaan-perusahaan AS. Dan faktor ini pula, salah satunya, yang membuat nilai tukar rupiah  pada hari (25/4) ini melemah 0,57% ke level Rp 14.186 per dolar.

“Karena sudah melemah selama empat hari berturut-turut, ada potensi bagi rupiah untukrebound di akhir pekan ini,” ujar Satria. Berdasarkan perkiraan itulah, ia meramalkan nilai tukar rupiah pada Jum’at besok (26/4) akan bergerak di kisaran Rp 14.160 - Rp 14.200 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…