Sabtu, 21 Oktober 2017

Bapak Pokemon Go

Riset

Bapak Pokemon Go

Oleh: Sri Wulandari - Senin 29 Agustus 2016 | 12:02 WIB

Sukses membuat game Pokemon Go, Hanke masih tertantang untuk membuat game berbasis geografis.

Di balik sukses Pokemon Go yang mendunia, ada nama John Hanke. Dialah CEO Niantic, perusahaan berbasis di San Francisco, Amerika Serikat (AS) sebuah start up augmented reality yang melahirkan Pokemon Go ke dunia. Dalam sekejap, Pokemon Go mampu meraup jutaan pengguna yang mengunduhnya lewat Google Play Store dan App Store Indonesia sejak dirilis pertama kali pada awal Juli lalu.

Penggemar Pokemon Go terus bertambah dari berbagai negara. Permainan ini, mampu menandingi popularitas media sosial Facebook, Snapchat, hingga pesan instan WhatsApp.

Awalnya, game ini dirancang agar para penggunanya ke luar rumah untuk berburu monster, mengambil peralatan menangkap dan melatih monster di Pokestop, atau bertarung di Pokegym. Dengan basis informasi di peta digital, Niantic memanfaatkan sejumlah tempat atau lokasi sebagai Pokestop atau Pokegym. Niantic juga berupaya membuat para pemain berinteraksi dengan cara membangun tim bersama pemain lain untuk membangun kekuatan di Pokegym.

Asal tahu saja,  jumlah downloader atau pengguna di Google Play Store yang mengunduh permainan ini sudah mencapai lebih dari 100 juta.  Yang mengejutkan adalah ternyata menurut Nintendo permainan ini belum sepenuhnya selesai, baru memiliki sekitar 10% fitur dari yang direncanakan.

Gara-gara  banyak  orang kecanduan game ini, saham Nintendo melejit lebih dari 25%. Nintendo saat ini memiliki saham 30% di The Pokemon Company. Saham Nintendo meningkat menjadi US$ 12 miliar dan aplikasi ini sudah menghasilkan uang US$ 2 juta dalam sehari.

Tentu saja, kondisi ini membuat Hanke girang bukan kepalang. Hanke memang memiliki visi yang besar untuk masa depan permainan Pokemon GO. Dia bilang, punya mimpi besar untuk mengubah cara berinteraksi antara manusia dengan permainan di perangkat mobile. Bahkan, dia berencana membuat lensa kontak pintar bagi para pemain Pokemon Go.

Lensa kontak pintar ini nantinya akan terintegrasi secara penuh dengan internet sehingga memungkinkan pemain melihat Pokemon di sekitarnya tanpa harus melihat melalui perangkat mobile atau smartphone.

Saat ini, Hanke juga sedang mempersiapkan peluncuran Pokemon Go Plus, sebuah aksesoris semacam gelang yang bisa dipakai si pemain untuk menemukan Pokemon tanpa harus melihat layar ponsel. “Alat itu akan memberi kesempatan bagi para pemain untuk bisa bermain game tanpa perlu melihat ponselnya terus menerus,” ujar Hanke.

Gelang itu akan dirilis pada bulan  September dan dijual dengan kisaran harga sebesar US$ 35. Para pemain tak perlu repot lagi untuk selalu melihat ke arah ponsel saat sedang berjalan, karena mereka akan diberi notifikasi getar ketika melihat Pokemon atau berada di sekitar Pokestop. Para pemain juga bisa mengumpulkan Pokemon dengan memencet tombol yang ada di gelang pintar sehinggat tak perlu mengeluarkan smartphone dari saku.

IMPIAN MASIH PANJANG

Bagi Hanke, dunia digital adalah hidupnya. Nyaris sepanjang perjalanan hidupnya,  Hanke bersentuhan dengan teknologi pemetaan digital, navigasi, dan bisa dibilang geografis bumi. Semua itu terhubung dengan satelit Global Positioning System (GPS).

Pada 1996, dia berhasil menciptakan game online petualangan pertamanya bernama 'Meridian 59'. Game itu dia jual, karena tak terlalu berhasil. Dia malah tertantang untuk memetakan dunia.

Di tahun 2000 Hanke meluncurkan ‘Keyhole’. Perusahaan digital yang berhasil membuat peta 3 dimensi dari foto udara, dan membuat GPS saling terhubung. Perusahaan ini, kemudian diakuisisi Google, yang kemudian bertransformasi menjadi Google Earth dengan kecanggihan seperti sekarang ini. Hanke pun diberi kedudukan sebagai wakil presiden di bisnis ini oleh Google.

Sukses dengan Google Earth, dia membuat Google Maps and Google Street View dengan presisi yang tinggi. Lantas pada 2010, Hanke meluncurkan perusahaan Niantic Labs yang didanai oleh Google untuk membuat permainan berbasis dengan peta. Di 2012, Hanke menciptakan permainan Niantic pertama yang berbasis peta dan dapat dimainkan oleh banyak orang. Namanya ‘Ingress’.

Game ini pun menjadi cikal bakal Pokemon Go. Sebelumnya, pada 2014 Google dan Pokemon bekerja sama untuk membuat candaan ‘April Mop’. Pengguna bisa menemukan Pokemon dalam Peta Google.

Sukses ini mengantarkan Hanke membuat Pokemon Go. Dia mendapatkan dana US$ 25 Juta dari Google, Nintendo, perusahaan Pokemon, dan investor lain untuk mengembangkan Pokemon Go! sampai Februari 2016. “Saya selalu berpikir bagaimana Anda bisa membuat permaian yang mengagumkan dengan data geografis yang kami miliki,” katanya.

Puaskah Hanke dengan apa yang dia capai? Dia menggeleng. Dia bilang, impiannya masih panjang dan masih banyak tantangan untuk membuat aplikasi lain berbasis geografis. Dia yakin game multiplayer dan layanan pemetaan digital ini akan berjalan baik dan menjadi game terbesar dalam sejarah AS.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 01 Agustus 2016 | 21:48 WIB
Surat Pembaca Edisi 46-V

Saya pernah mengunjungi suatu pameran mengenai produk halal di kawasan Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.

Selasa 19 Juli 2016 | 17:21 WIB
Saatnya Mencoba Level 5.200

Dana sing terus mengalir ke pasar modal. Ini gejala yang menggembirakan sekaligus mesti diwaspadai. Sebab, dana panas…

Minggu 06 September 2015 | 10:14 WIB
Krakatau Steel Optimis

HARGA baja dunia yang terus menurun dan belum terlalu bergulirnya proyek-proyek infrastruktur membuat kinerja PT Krakatau…

Senin 21 September 2015 | 00:00 WIB
SRI MULYANI BUKA KARTU

Sri Mulyani, mantan Menkeu, menyebut soal tekanan dari elite dan kelompok kepentingan terkait anggaran. Mafia anggaran masih…

Senin 25 Juli 2016 | 22:33 WIB
Bisnis Obat Memang Asyik

Ada vaksin palsu, ada juga obat palsu yang beredar luas dan dijual oleh toko obat tak berizin.