Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Rupiah Loyo Tertekan Ekonomi AS

Bambang Aji Setiady

Jumat, 26 April 2019 - 17:52 WIB

Rupiah
Rupiah
A A A

Majalahreviewweekly.com - Para pelaku pasar uang kini sedang menebak-nebak, apa sebenarnya yang ada di benak para petinggi BI.   Mereka benar-benar bingung karena otoritas moneter membiarkan nilai tukar rupiah terus menggelosor. Seperti yang terjadi hari ini (Jum,at, 26/4), nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 13 poin (0,09%) ke level Rp 14.199 per dolar. Ini merupakan penurunan nilai tukar rupiah untuk yang ke lima kalinya dalam pekan terakhir.

Ada apa denganmu BI? Seperti biasa, otoritas moneter tak boleh menjawab pertanyaan seperti itu. Kendati, seusai Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis kemarin, Perry Warjiyo mengatakan bahwa neraca transaksi berjalan berpotensi kembali tertekan pada kuartal II – 2019. “Kinerja ekspor juga masih dibayangi perlambatan  pertumbuhan ekonomi dunia,” ujar Gubernur Bank Indonesia ini.

Jadi, bukan tanpa alasan kalau BI membiarkan rupiah melemah. Soalnya, pada kuartal II  bank sentral bertekad untuk menekan defisit transaksi berjalan menjadi di bawah 3% dari PDB dan menjadi 2,5% di akhir kuartal IV.  Nah, dengan dolar yang cukup kuat, diharapkan laju impor akan tertahan.  Sementara itu kurs rupiah yang melemah jelas sangat menguntungkan eksportir. Rupiah yang cenderung lemah juga menjadi daya tarik bagi investor asing untuk membiakkan dananya di Indonesia.

Namun, terlepas dari upaya mendorong ekspor, pada dasarnya memang tak banyak sentimen positif yang bisa membuat rupiah berotot.  Kebetulan, hari ini (Jum’at malam) AS akan merilis produk domestik bruto (PDB) kuartal I – 2019.  Seperti diketahui, beberapa hari lalu Atlanda Federal Reserve sudah mengeluarkan perkiraan bahwa perekonomian AS pada kuartal I bakal tumbuh 2,7%. Jauh di atas perkiraan sebelumnya yang hanya  0,5%.

Tak hanya PDB saja, hampir sebagian sebagian indikator ekonomi AS memang sedang memperlihatkan kinerja yang apik. Angka pengangguran, misalnya, turun hingga tinggal 196.000 orang. Begitu pun penjualan barang modal  selama bulan Maret berhasil mencatatkan angka tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Penjualan rumah, ritel, dan ekspor pun cukup baik, sehingga mapu meredakan kekhawatiran bahwa resesi tengah mengancam ekonomi AS.

Membaiknya data ekonomi AS ini jelas membuat mata uang negara lain juga melemah terhadap dolar, yang ujung-ujungnya ikut menekan kurs rupiah. Maklum, rilis data PDB menjadi salah satu pertimbangan The Fed dalam menetapkan kebijakan tingkat suku bunganya. Oh, ya, The Fed berencana menggelar Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir April hingga awal Mei depan.  “Menjelang rapat FOMC, biasanya,investor wait and see,” ujar Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka.

Kebetulan, pekan ini merupakan pekan terakhir di bulan April sehingga banyak perusahaan sedang membutuhkan dolar untuk membayar kewajibannya. Selain itu, sepuluh hari lagi rakyat Indonesia akan memasuki bulan puasa. Jadi, meningkatnya permintaan dolar akhir-akhir ini juga dipicu oleh kebutuhan perusahaan untuk mengimpor barang-barang menjelang Ramadhan dan peryaan Idul Fitri.

Alhasil, menilik kondisi yang ada, para pelaku pasar tidak yakin rupiah bakal menguat dalam waktu dekat. Paling banter, menurut Ahmad Mikail, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, rupiah akan sedikit menguat bila pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I di atas ekspektasi pasar. “Jika di atas ekspektasi, pekan depan nilai tukar rupiah bisa menguat,” ujar Ahmad, yang memperkirakan ekonomi RI di kuartal I tumbuh 5,18% - 5,20%.

Untuk sepekan ke depan, Admad memprediksi rupiah masih akan berada di rentang Rp 14.150 – Rp 14.180 per dolar. Ia juga menduga, suasana perdagangan akan sedikit sepi mengingat investor domestik sudah bersiap-siap menyambut datangnya bulan Ramdhan.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…