Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Ketika Rupiah Rawan Koreksi

Bambang Aji Setiady

Minggu, 28 April 2019 - 19:11 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kondisi rupiah benar-benar terpuruk. Setelah pekan sebelumnya menunjukkan keperkasaannya, pekan ini nilai tukar rupiah mengalami koreksi. Tak banyak, memang. Jika pada pekan sebelumnya setiap dolar ditransaksikan pada level Rp 14.045, Jum’at kemarin (26/4) mata uang AS itu berada di kisaran Rp 14.199. Artinya, dalam lima hari perdagangan, rupiah melemah Rp 154 atau sekitar 1,09%.

Para analis mengatakan, ambruknya nilai tukar rupiah tersebut dipicu oleh rilis data produk domestik bruto (PDB) AS. Menjelang digelarnya Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa depan (30/4), Jum’at kemarin Biro Analisis Ekonomi AS melansir kabar baik: ekonomi AS pada kuartal I – 2019 tumbuh 3,2%. Bila benar, itu berarti pertumbuhan paling tinggi sejak 2015.

Rilis data PDB AS itulah yang membuat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar. Memang, bukan hanya tingginya pertumbuhan ekonomi AS yang menjadi faktor penggoyang rupiah. Membaiknya kinerja kuartal I sejumlah perusahaan papas atas AS membuat si  greenback kian perkasa. Tapi, ini tak hanya dialami Indonesia. Sejumlah mata uang di benua Eropa dan Asia juga meloyo.

Sementara itu, di dalam negeri, keputusan BI mempertahankan BI – 7 day reserve repo rate (BI - 7DRRR) telah membuat margin investasi di surat utang negara (SUN) semakin menipis. Alhasi, para pemodal pun ramai-ramai melakukan aksi profit taking. Sehingga mendorong kurs rupiah terjun mendekati level Rp 14.200 per dolar di akhir pekan.

Pelemahan rupiah diperkirakan masih akan berlanjut pekan depan. Soalnya, ya itu tadi, Selasa lusa  para petinggi The Fed akan menggelar pertemuan. Dan, setiap menjelang rapat FOMC, biasanya para pemilik dana lebih enjoy menenteng dolar. Apalagi  muncul spekulasi, membaiknya perekonomian AS telah membuka peluang bagi The Fed untuk mengerek tingkat bunga pada tahun ini.

Betul begitu? Entahlah. Larry Kudlow, Penasihat Ekonomi Gedung Putih, justru punya pendapat lain. Meski pun pertumbuhan ekonomi AS cukup tinggi, ia yakin The Fed akan memangkas tingkat suku bunya. Alasannya, selain tingkat inflasi yang cenderung turun, “Juru bicara The Fed bilang bahwa mereka (petinggi The Fed) membuka peluang untuk menurunkan suku bunga,” ujarnya.

Kemungkinan Fed Fund Rate dipangkas, memang ada. Sebab, ternyata tidak semua indikator ekonomi AS membaik. Tingkat pengangguran, contohnya. Data Departemen Tenaga Kerja AS per 20 April menunjukkan, jumlah orang yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran  malah melonjak 37.000 orang menjadi 230.000 orang. Kenaikan ini adalah yang terbesar sejak September 2017.

Nah, tingginya tingkat pengangguran ini tentu saja bisa berdampak terhadap tingkat kepercayaan konsumen dan tingkat konsumsi masyarakat. Padahal, seperti diketahui, selama ini tingkat pengeluaran konsumen merupakan kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi AS. Tingkat konsumsi itu mencapai 2/3 dari total PDB tahunan.

Namun, terlepas dari urusan tebak-menebak langkah yang akan diambil The Fed, pada dasarnya tidak ada sentimen positif yang bisa membuat rupiah berotot.  Selain akibat sikap wait and see para investor menjelang FOMC, belakangan ini permintaan terhadap mata uang AS memang  sedikit meningkat karena banyak perusahaan yag harus membayar kewajibannya yang jatuh tempo.

Lantas, selain untuk membayar utang, permintaan dolar juga dipicu oleh kebutuhan untuk mengimpor barang-barang menjelang bulan Ramdhan dan Idul Fitri yang selalu meningkat tajam. Terlebih kebutuhan dolar Pertamina, yang memang mesti mengimpor minyak lebih banyak untuk menjaga ketersediaan BBM selama mudik lebaran.

Oleh sebab itu, untuk pekan depan, pelaku pasar menduga hawa penurunan nilai tukar rupiah kelihatannya masih akan berembus dengan cukup kuat. Betul, beberapa sentimen negatif yang selama ini merongrong kurs rupiah sudah mulai berkurang. Misalnya saja harga minyak. Kendati tidak terlalu signifikan, harga minyak mulai menurun.  

Kalau pun ada faktor yang bisa membuat rupiah berotot, menurut Ahmad Mikail, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, itu adalah rilis angka pertumbuhan ekonomi RI kuartal I yang akan diumumkan awal pekan depan. “Jika pertumbuhan ekonomi domestik berada di atas ekspektasi investor, maka rupiah berpeluang menguat pekan depan,” katanya. Ia sendiri menduga ekonomi RI tumbuh 5,1% - 5,2%.

Faktor lainnya adalah lelang enam seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), Selasa depan (30/4).  Namun, efek dari lelang sukuk negara ini diduga tidak cukup signifikan pada penguatan rupiah. Soalnya, target  rupiah yang akan disedot lewat lelang SBSN hanya sekitar Rp 6 triliun. Itu sebabnya, Ahmad memprediksi, pekan depan rupiah akan berada di kisaran Rp 14.150 – Rp 14.180 per dolar.

Pandangan serupa dikemukakan Deddy Yusuf Siregar, Analis Asia Trade Point Futures. “Meski data pertumbuhan ekonomi RI berpeluang membawa setimen positif bagi rupiah, namun pelaku pasar masih akan hati-hati  memegang rupiah. “Namun pekan depan ada satu sentimen positif yang bisa membuat rupiah menguat, yakni kelanjutan perundingan dagang AS – China,” ujarnya. 

Mudah-mudahan perkiraan Deddy benar. Apalagi bila dalam pertemuan FOMC tiba-tiba saja The Fed mengumumkan akan memangkas tingkat bunga.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…