Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Menunggu Keputusan The Fed

Bambang Aji Setiady

Senin, 29 April 2019 - 17:46 WIB

Riset
Riset
A A A

Majalahreviewweekly.com - Ramalan para analis, yang diungkapkan pekan lalu, kini menjadi kenyataan. Menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), Selasa besok, nilai tukar rupiah kembali melemah. Hari ini (Senin, 29/4), mata uang kesayangan kita itu melemah 0,06% ke level Rp 14.208 per dolar. Ini menjadi pelemahan rupiah selama enam hari berturut-turut.

Memang,  sebelum FOMC digelar, biasanya para investor melakukan antisipasi dengan cara mengoleksi mata uang dolar. Tujuannya, apalagi kalau bukan demi mengamankan aset mereka dari ancaman rugi kurs. Apalagi, ekonomi AS pada kuartal I tumbuh 3,2%.

Hal lain yang juga tengah ditunggu-tunggu oleh para pelaku pasar adalah rilis data inflasi AS, yang akan keluar malam ini. Bila pelaku pasar mencium kemungkinan naiknya inflasi AS, maka hal itu akan merugikan posisi rupiah. Maklum, tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi menjadi pertimbangan The Fed dalam menentukan tingkat bunga ke depan.

Ketergantungan kepada otoritas moneter AS ini, memang, membuat banyak orang merasa sebal. Soalnya, kenyataan yang tidak bisa dihindarkan itu   telah membuat kurs rupiah terombang-ambing, dan ujung-ujungnya menyusahkan para pengusaha membuat kalkulasi harga. Lebih dari itu, kebijakan The Fed juga ikut mementukan pasar modal. “Tapi, apa boleh, investor tetap mesti menunggu langkah yang akan dimbil The Fed,” ujar Ibrahim Direktur PT Garuda Berjangka.

Menurut Ibrahim, para analis yakin The Fed masih akan mempertahankan sikapnya yang cenderung dovish. Itu sebabnya, meski pun diperkirakan tetap melemah, nilai tukar rupiah akan bergerak biasa-biasa saja. Ibrahim menduga, Selasa besok (30/4) kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.145 - Rp 14.238 per dolar.

Pendapat serupa datang dari David Sumual, Ekonom Bank BCA. “Kemungkinan besok rupiah melemah tipis,” ujarnya. Soalnya, selain menunggu hasil rapat The Fed, pasar juga menanti kelanjutan negosiasi dagang AS - China yang akan digelar Rabu lusa. David memperkirakan, besok rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.180 - Rp 14.240 per dolar.

Namun, bukan tak mungkin, perkiraan Ibrahim dan David melenceng. Soalnya, malam ini akan ke luar rilis angka inflasi AS. Ada yang memprediksi,  inflasi AS bakal melambat jadi 1,6% atau bahkan 1,5%. Yang bikin pelaku pasar dag-digdug adalah pernyataan Charles Evan, Presiden Fed wilayah Chicago. “Infasi yang rendah menjadi  pertimbangan The Fed dalam menetapkan suku bunga,” ujarnya.

Itu, oleh pelaku pasar, dibaca sebagai sinyal bahwa Fed Fund Rate bakal dipangkas. Apalagi, sebelumnya, Larry Kudlow menyampaikan hal yang sama. Ekonom Gedung Putih ini begitu yakin, The Fed bakal memangkas tingkat bunga suku bunga meski pun perekonomian Amerika melaju kencang. “Juru bicara The Fed bilang bahwa mereka membuka peluang untuk menurunkan suku bunga,” ujarnya.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…