Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Gara-gara PMI Manufaktur China

Bambang Aji Setiady

Selasa, 30 April 2019 - 09:37 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Dugaan rupiah bakal terperosok kembali, terbukti benar. Lihat saja, hari ini (Selasa, 30/4) nilai tukar rupiah di pasar spot melorot ke level Rp 14.257 per dolar. Jika dibandingkan dengan kurs pada penutupan Senin kemarin, berarti mata uang RI mengalami penurunan sebesar 49 poin (0,34%). Penurunan yang cukup tajam, memang.

Betul, pelemahah yang terjadi hari ini tak lepas dari     pertemuan bulanan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan berlangsung hingga Rabu besok. Para pelaku pasar masih menantikan kebijakan suku bunga yang akan diambil The Fed. Tapi banyak yang memperkirakan, bank sentral AS akan mempertahankan tingkat bunganya yang kini tengah menclok  2,25% - 2,50%.

Jadi, peluang rupiah untuk menguat sebetulnya ada. Apalagi hari ini pemerintah kembali menyedot rupiah lewat lelang suku negara. Tapi, sayang, sentimen positif itu tak mampu membuat rupiah menguat gara-gara sebuah kabar buruk berhembus dari China. Data Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur China untuk April dilaporkan melemah dari 50,5 di  bulan Maret menjadi 50,1. Malah PMI non-maufaktur lebih jelbok, turun dari 54,8 ke level 54,3.

Memburuknya kinerja industri manufaktur Tiongkok itu membuat sejumlah mata uang Asia tertekan terhadap dolar. Keadaannya semakin parah lagi ketika perusahaan-perusahaan raksasa di Korea, seperti Samsung, mengumumkan kinerja yang jelek selama kuartal I - 2019.   Sementara itu di dalam negeri kebutuhan dolar untuk membiayai impor BBM dan barang-barang kebutuhan pokok cenderung meningkat menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Lantas, akan seperti apa tampang rupiah pada hari Kamis (2/5)? Menurut Faisyal, Analis Monex Investindo Futures, para pemilik uang kini masih memantau perkembangan yang sedang terjadi dalam pertemuan FOMC. Jadi, peluang rupiah untuk menguat baru akan terbayang ketika The Fed mengumumkan mempertahankan tingkat bunganya di level 2,25% - 2,50% seperti saat ini.

Dengan tingat inflasi yang cukup rendah, memang, bukan  sesuatu yang mustahil bila The Fed memangkas suku bunganya. Tapi, dalam situasi ekonomi dunia yang kecut seperti sekarang, tampaknya bank sentral AS akan berhati-hati dalam membuat keputusan. Makanya, kendati kesempata untuk menurunkan suku bunga terbuka lebar, The Fed tidak akan serampangan. “Yang pasti, peluang The Fed untuk menaikan suku bunganya sangat kecil,” ujar Faisyal.

Selain menantikan langkah yang akan diayunkan The Fed, perhatian pasar juga akan tertuju pada perundingan dagang AS – China yang dibulai Rabu besok di Beijing China. Pertemua kali ini tampaknya bakal “seru” mengingat penampilan ekonomi AS yang jauh lebih baik ketimbang China. Karena itu, ada yang menduga dalam perundingan itu China akan menerima persyaratan yang diminta AS.

Tebalnya harapan rupiah untuk menguat juga diutarakan Josua Pardede, Ekonom Bank Permata. ”Besok Indonesia libur. Tapi jika The Fed melanjutkan kebijakan rapat bulan lalu, maka Kamis kemungkian rupiah akan menguat terbatas,” ujarnya. Dengan sikap The Fed yang diduga masih dovish, Josua memperkirakan kurs rupiah Kamis dengan akan berada di kisaran Rp 14.175 – Rp 14.275 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…