Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Menguji Janji Bos The Fed

Bambang Aji Setiady

Rabu, 01 Mei 2019 - 17:28 WIB

Rupiah
Rupiah
A A A

Majalahreviewweekly.com - Di tengah suasana libur hari ini, muncul kabar tak sedap: AS mengancam akan meninggalkan meja perundingan bila dalam dua pekan ke depan tidak tercapai kesepakatan dengan China. Nah, jika ancaman itu benar-benar terjadi, sudah pasti dampaknya akan sangat terasa pada perekonomian dunia. Maklum, perekonomian China memberikan kontribusi sekitar 40% pada pertumbuhan ekonomi dunia.

Ancaman yang di sampaikan Mick Mulvaney, Kepala Staf Presiden Donald Trump, benar-benar di luar dugaan. Sebab, setelah berjalan selama empat bulan, banyak kalangan menilai perundingan dagang AS - China berjalan dengan mulus. Terutama setelah China mengabulkan hampir sebagian besar persyaratan yang diadjukan AS. Dengan kata lain, perang dagang antara AS dengan China bakal segera berakhir.

Rupanya, AS ingin memanfaatkan tingginya pertumbuhan ekonomi kartal I untuk  menekan China yang kebetulan perekonomiannya masih mencemaskan. Buktinya, pernyataan Mulvaney itu ke luar hanya beberapa saat sebelum perudingan tahap akhir AS dan China digelar di Beijing, Rabu ini (1/5).

Namun, yang patut diperhatikan, pernyataan Mulvaney tadi bisa berimbas ke pasar uang. Soalnya, perundingan tahap akhir AS - China merupakan salah satu faktor yang bakal mempengaruhi kurs rupiah Kamis besok (2/5). Di samping, tentu saja, hasil dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir hari ini.

Terkait hasil pertemuan FOMC, para pelaku pasar menduga The Fed akan mempertahankan tingkat bunganya yang kini menclok di level 2,25% - 2,50%. Alasannya, The Fed sangat disiplin dalam menjaga inflasi. Sehingga, kedati inflasi pada kuartal I hanya 1,3% atau di bawah target 2,2%, bank sentral AS itu belum tentu memangkas suku bunga. Apalagi Jerome Powel, Gubernur The Fed, sudah berjanji akan lebih  sabar dalam menetapkan suku bunga.

Betul, ada juga yang berpendapat The Fed akan mengerek turun suku bunganya. Terutama setelah Donald Trump, Selasa kemarin, kembali meminta The Fed memangkas suku bunganya. Namun permintaan Presiden Amerika tersebut kemungkinan akan diabaikan. Yang mungkin dilakukan The Fed, kata seorang petinggi The Fed, adalah memangkas bunga yang dibayarkan ke bank atas cadangan berlebih yang mereka disimpan di bank sentral dari 2,40% saat ini jadi 2,35%.

Jadi rupiah bakal menguat Kamis besok? Mungkin saja. Sebab hari ini juga ada kabar baik dari Benua Biru. Biro statistik Uni Eropa (UE) melaporkan, produk domestik bruto (PDB) UE pada kuartal I  - 2019 tumbuh 0,4%. Lebih tinggi dari pencapaian di kuartal IV - 2018, yakni sebesar 0,2%. Pertumbuhan ekonomi yang diluar dugaan ini kontan membuat dolar melemah 0,39% terhadap enam mata uang kuat dunia.

Tapi, jangan buru-buru menganggap nilai tukar rupiah pun bakal terdongkrak. Sebab, harga minyak saat ini sudah menclok di level US$ 75 per barel atau tertinggi dalam enam bulan terakhir. Penyebabnya, menurut survey Reuters, karena produksi minyak OPEC turun 900.000 barel menjadi 30,23 juta barel per hari. Nah, jika si emas hitam itu terus meroket, sudah pasti akan menekan kurs rupiah.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…