Sabtu, 21 Oktober 2017

Global CEO Bata yang Baru

Riset

Global CEO Bata yang Baru

Oleh: Sri Wulandari - Senin 05 September 2016 | 12:25 WIB

Produk alas kaki yang dikenal luas di Indonesia ini, punya CEO baru. Dengan pengalaman selama 24 tahun di bidang consumer goods, CEO baru ini bisa mengembangkan produk Bata lebih baik lagi. 

Siapakah Global CEO Bata yang baru? Dialah Alexis Nasard. Rabu, 30 Agustus 2016, Bata Indonesia resmi memperkenalkan Nasard sebagai Global CEO baru di perusahaan sepatu Bata. Nasard sendiri bukanlah sosok asing bagi Bata, karena sejak  4 April 2016, dia telah didaulat sebagai group executive officer.

Nasard mengaku sangat gembira, saat dirinya diajak bergabung dengan Bata. Akunya, “Saya sangat gembira mendapat kesempatan bergabung dengan Bata.”

Bagi dirinya, keterlibatannya dengan Bata memiliki harapan dapat mengembangkan perusahaan dan brand, khususnya brand legendaris Bata melalui analisa. “Melalui analisa adanya jejak cepat perubahan konsumen dan lingkungan ritel yang terjadi belakangan ini, serta membangun aset perusahaan yang kuat dan global,” jelasnya.

Di Indonesia, brand Bata sudah sangat populer sebagai sebuah produk alas kaki ternama. Nama Bata memiliki arti yaitu sebagai ‘salah satu bahan bangunan (bata)’ atau bisa dianalogikan ‘kuat dan kokoh’. Begitu kuatnya citra serta positioning Bata di benak masyarakat Indonesia, sehingga banyak yang mengira Bata ini adalah produk asli Indonesia.

Padahal, kenyataannya, Bata adalah  brand asing. Nama ‘Bata’ sendiri diambil dari pendirinya, dua bersaudara,  Anna dan Antonín Bata asal Republik Ceko. Didirikan pada tahun 1894 di Zlin, Austria-Hongaria. Bermarkas besar di Lausanne, Swiss, kini memiliki lebih dari 30 ribu karyawan, 24 fasilitas produksi, 5 ribu toko ritel internasional, dan kehadiran di lebih 70 negara, termasuk di Indonesia. Perusahaan sepatu raksasa keluarga ini mengoperasikan empat unit bisnis internasional: Bata Eropa, Bata Asia Pasifik-Afrika, Bata Amerika Latin, dan Bata Amerika Utara.

Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini telah menjual sebanyak 14 miliar pasang sepatu. Di Indonesia pengoperasian penjualan sepatu Bata dijalankan oleh PT Sepatu Bata, Tbk. Pabrik perusahaan ini pertama kali berdiri pada 1939, dan saat ini berada di dua tempat, yaitu di Kalibata, Jakarta dan Medan. Keduanya menghasilkan 7 juta pasang alas kaki setahun yang terdiri dari 400 model sepatu, sepatu sandal, dan sandal baik yang dibuat dari kulit, karet, maupun dan plastik.

Sebelum tahun 1978, status Bata di Indonesia adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA), sehingga dilarang menjual langsung ke pasar. Bata menjual melalui para penyalur khusus (depot) dengan sistem konsinyasi. Status para penyalur tersebut diubah dan pada 1 Januari 1978, yaitu saat izin dagang Bata dipindahkan kepada mereka dan PT Sepatu Bata menjadi perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Bata bisa menjadi seperti produksi lokal, karena memang Bata merespon kebutuhan unik dan keinginan pelanggan lokal. Bata lebih memilih untuk membuat sepatu sehari-hari yang terjangkau, tak seperti kebanyakan brand Eropa lain, yang menerapkan high quality, high price shoes. Varian dari brand Bata, antara lain Bata, Bata Comfit, Ambassador, North Star, Weinbrenner, Marie Claire, SunDrops, Bubblegummers, Baby Bubbles, Safari, Power, Patapata, Toughees, Verlon, Teener, B-First, Footing, Bata Industrials, SPARX, dan B.First.

MENYUSUPKAN JAMES BOND

Nasard dianggap layak menjadi pemimpin baru Bata, karena memiliki pengalaman selama 24 tahun di bidang consumer goods. Selama 6 tahun, dia menggawangi brand Heineken, dan terakhir menjadi presiden yang mengelola bisnis senilai US$ 8 miliar di Eropa Barat, serta menjabat sebagai Global Chief Marketing Officer untuk brand global, dan lokal yang luas.

Saat memimpin Heineke, dia berhasil menggandeng James Bond, dan menyusupkan produknya di sepanjang film, dimulai sejak Tomorrow Never Dies, dan terus berlanjut hingga Skyfall. Heineken menggandeng Bond untuk melakukan kampanye global yang dilancarkan melalui berbagai platform. Mulai dari iklan sepanjang 60 detik yang ditayangkan di televisi hingga kampanye interaktif yang melibatkan audiens.

“Dalam kampanye ini, kami berusaha menggabungkan kreativitas dan progresivitas Heineken dengan sosok legendaris James Bond. Hal ini kami harapkan dapat memberikan nilai hiburan yang tinggi bagi audiens,” kata Alexis Nasard, Chief Commercial Officer Heineken, seperti dikutip oleh www.mediapost.com

Pengalaman Nasard yang paling lama adalah, 17 tahun di global Procter & Gamble. Ia memegang berbagai macam peran dalam hal manajemen termasuk mendefinisikan strategi untuk produk baru dan menjualnya melalui beberapa saluran ritel baik di pasar maju dan berkembang.

Pria yang memiliki gelar MBA dari University of California Berkeley, dan Master jurusan Teknik dari Joseph University, St. Beirut, serta sempat mengenyam pendidikan di Harvard Business School ini, sangat optimis, dirinya bakal berhasil dan mencapai target yang ditetapkan Bata. Dia sangat yakin, lantaran memiliki pengalaman terlibat langsung dalam soal manajemen, termasuk mendefinisikan strategi untuk produk baru. Lalu menjualnya melalui beberapa saluran ritel baik di pasar maju dan berkembang.

Bahkan Chairman Bata, Christopher mengungkapkan sangat senang bergabungnya Alexis. Ia optimis kehadiran Bata dimasa depan akan semakin lebih baik. “Dengan latar belakang Alexis, tentunya akan membantu kami untuk mengidentifikasi peluang global guna mempercepat pertumbuhan brand Bata,” ucap Christopher.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 14 Maret 2016 | 18:57 WIB
DERETAN TAMU KHUSUS DI MOMENT SPESIAL

Di antara ribuan turis asing yang menyerbu Indonesia, jelang berlangsungnya gerhana matahari total (GMT) 2016, tercatat…

Minggu 06 September 2015 | 13:09 WIB
Awas, Utang Swasta (LAPUT BOM KRISIS DARI MALAYSIA Bagian 3)

Pelemahan nilai tukar mata uang negara emerging market, termasuk rupiah, bakal menjadi bom waktu terhadap utang luar negeri…

Senin 27 Juni 2016 | 21:43 WIB
Setelah Brexit, Apa Yang Terjadi?

Diluar dugaan, mayoritas rakyat Inggris memilih ke luar dari Uni Eropa. Sampai dua pekan ke depan, rupiah diperkirakan masih…

Rabu 21 Oktober 2015 | 18:48 WIB
Ada yang Ingin Bermain

Aroma politisasi begitu kental dalam masalah divestasi saham Freeport dan pemberian izin operasi perusahaan tambang asal…

Senin 07 Maret 2016 | 21:05 WIB
Pilihan Menarik di Kala Gugur Bunga

Penjualan SR-008 berlangsung laris manis. Penurunan suku bunga dan inflasi membuat pamor sukuk ritel ini makin bersinar.