Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Guncangan di Awal Ramadan

Bambang Aji Setiady

Senin, 06 Mei 2019 - 19:49 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Secara historis, memang, di awal bulan puasa perdagangan di pasar uang cenderung sepi. Mungkin, para investor yang beraga Islam untuk sementara lebih mengutamakan urusan akhirat dulu ketimbang duniawi. Tapi bukan hanya faktor bulan puasa saja yang membuat nilai tukar rupiah pada hari ini (Senin, 6/5) melemah 0,22% ke level Rp 14.297 per dolar.

Menurut sejumlah analis, banyaknya sentimen negatif membuat para investor bersikapwait and see. Salah satunya adalah rencana Doland Trump untuk mengenakan tarif bea masuk 25% terhadap produk China senilai US$ 200 miliar pada Jum’at depan. Keputusan presiden Amerika itu diambil setelah perundingan dagang AS - China tahap akhir tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan AS.

Suhu di Semenanjung Korea juga kembali memanas setelah Korea Utara melakukan berbagai uji misil. Makanya, tak hanya terhadap rupiah, dolar juga menguat di hadapan  sejumlah mata uang Asia. “Pasar menunggu kepastian Trump yang mengancam akan menaikan tarif impor 25% Jum’at nanti,” ujar David Sumual, Ekonom Bank Central Asia.

Sialnya, belakangan ini nyaris tak ada sentimen positif yang bertiup dari dalam negeri. Misalnya ekonomi di kuartal I yang hanya tumbuh 5,07 atau di bawah perkiraan pasar sebesar 5,20%. “Padahal, bila dibandingkan dengan negara-negara lain, pertumbuhan sebesar 5,07% itu masih relatif solid,” ujar Nanang Hendarsah, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI).

Nanang mungkin betul. Namun banyaknya sentimen negatif dari luar membuat investor kembali cemas. Sebagian dari mereka memprediksi, pelemahan yang terjadi hari ini akan terus berlangsung Selasa besok dan hari-hari berikutnya. “Besok, rupiah akan melemah seperti hari ini,” ujar David. Ia meramalkan, Selasa besok (7/5) rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.270 - Rp 14.350 per dolar.

Benar-benar bertentangan dengan suara BI yang bernada nan optimistis. Menurut Nanang, pelemahan rupiah saat ini masih wajar. “Dinamika seperti ini, yang disebabkan oleh statement (Trump), biasanya hanya bersifat jangka pendek dan dalam waktu singkat bisa berbalik arah,” ujarnya.

Dan satu hal yang perlu dicatat, siapa pun yang menggunakan rupiah sebagai alat transaksi jangan merasa khawatir. Sebab, menurut Nanang, BI selalu berada di pasar untuk menjaga agar nilai tukar rupiah tidak bergerak kelewat ekstrem. Seperti hari ini, misalnya, BI melakukan triple intervention dalam rangka menjaga rupiah di pasar spot.

Tiga intervensi yang dimaksud Nanang adalah melakukan pembelian surat berharga negara (SBN), menggelar lelang DNDF (domestic non delivery forward), dan profilling likuiditas DNDF melalui delapan broker. Jadi rupiah masih aman? Insya Allah.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…