Kamis, 19 September 2019 | Jakarta, Indonesia

Setelah China Menyerah

Bambang Aji Setiady

Selasa, 07 Mei 2019 - 19:30 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Semula, banyak orang menduga bahwa dalam kamus Presiden China Xi Jinping tak ada kata mengalah. Termasuk dalam menghadapi tekanan dari Presiden Amerika Donald Trump. Tapi apa yang terjadi? Dugaan-dugaan itu terbukti meleset. China akhirnya bersedia kembali ke meja perundingan yang akan digelar di AS, Rabu depan.

Seperti diketahui, sebelumnya China "ngambek" gara-gara Trump mengancam akan menaikan tarif bea masuk dari 10% menjadi  25% terhadap barang-barang senilai total US$ 200 miliar bila negeri Panda itu tidak segera menyepakati perundingan dagang. Tak hanya sampai di situ, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif bea masuk baru 25% atas barang China senilai US$ 325 miliar.

Meredanya ketegangan AS – China itu telah membuat kurs dolar melemah terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah. Seperti kita saksikan bersama, hari ini (Selasa,7/5) nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 18 poin (0,13%) ke level Rp 14.280 per dolar.  Selain akibat meredanya ketegangan AS – China, rupiah juga terbantu oleh lelang surat utang negara (SUN) yang digelar hari ini.  

Tapi jangan bersenang hati dulu. Sebab, menurut Reny Eka Putri, Ekonom Pasar Uang Bank Mandiri, penguatan yang terjadi hari ini sifatnya sementara. Kemungkinan rupiah untuk kembali melemah masih cukup besar. Soalnya, pasar masih ingin melihat perkembangan perundingan  dagang AS – China. Nah, dalam situasi menunggu ini biasanya investor lebih suka memegang dolar.  “Apalagi disinyalir ada perang dagang lanjutan,” ujar Reny.

Repotnya, rupiah juga dibayang-bayangi memanasnya suhu di Timur Tengah. Kabarnya, AS akan mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah setelah Iran tetap ngotot akan mengekspor minyaknya. Namun para analis pasar uang melihat AS tak akan mengirim kapalnya ke Timur Tengah. Apalagi sejumlah negara tidak setuju jika AS menyerang negara para mullah itu.

Terlepas dari ancaman AS kepada Iran, lantas akan berapa kurs rupiah Rabu besok (8/5)? Menurut Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, saat ini pasar sedang menunggu rilis data neraca perdagangan dan defisit tranaksi berjalan. “Jika defisit makin dalam, kemungkinan rupiah akan melemah karena tidak memiliki fondasi yang kuat,” ujarnya.

Seperti halnya Ibrahim, Reny pun melihat sentimen negatif masih akan berpihak pada rupiah saat ini. Itu sebabnya, ia memperkirakanan Rabu besok rupiah akan diperdagangkan di kisaran level support Rp 14.260 dan resistance Rp 14.325 per dolar. “Pasar masih wait and see menunggu hasil perundingan dagang AS – China,” ujar Reny.

Memang sudah sewajarnya bila pelaku pasar bersikap seperti itu. Sebab, meski pun China bersedia kembali ke meja perundingan, bukan berarti perang dagang AS – China akan segera berakhir. Apalagi salah satu pemicu yang membuat Presiden Trump sampai meradang adalah karena belakangan ini China mulai mengingkari komitmen yang telah disepakati.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…