Kamis, 19 September 2019 | Jakarta, Indonesia

Meninggalkan Dolar AS

Edy Purnomo

Kamis, 09 Mei 2019 - 09:07 WIB

dolar
dolar
A A A

Majalahreviewweekly.com - Nilai tukar Rupiah kembali mengalami goncangan. Pada perdagangan di pasar spot Jakarta, Rabu (8/5/2019), dolar AS kembali melonjak ke kisaran Rp 14.290. Dibandingkan sehari sebelumnya, nilai tukar Rupiah melemah 0,11%.

Bank Indonesia berjuang keras untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Pelemahan nilai tukar Rupiah itu terjadi setelah para investor asing kabur meninggalkan aset-aset dalam Rupiah, termasuk surat berharga negara (SBN) dan saham.

Goncangan juga dirasakan sejumlah mata uang utama dunia lainnya. Oleh karena itu, sejumlah negara berusaha untuk meninggalkan mata uang dolar AS.

Secara bertahap, Rusia  meninggalkan berbagai aset terkait dolar AS. Langkah itu dilakukan sejak Amerika Serikat menjatuhkan sanksi sepihak terhadap Rusia atas dugaan perannya dalam krisis Ukraina 2014. Rusia juga dituding ikut campur dalam pemilihan presiden AS pada 2016. Namun, Moskow membantah tudingan itu.

Sejak hubungan dengan AS memanas, Rusia berusaha untuk menggunakan mata uang Rubel, mata uang Rusia, dalam transaksi dengan mitra dagangnya, yaitu Brasil, India, Cina, dan Afrika Selatan (BRICS). Selama 2013-2018, FinExpertiza melaporkan, penggunaan mata uang Rubel  meningkat pesat hingga 720%. Secara total, Rubel digunakan dalam transaksi senilai USD 6,3 miliar dengan negara-negara BRICS.

Pertumbuhan terbesar dalam transaksi berbasis Rubel dicapai dengan India. Pangsa pasar penggunaan mata uang Rusia itu mencapai 37,2% atau meningkat 3.380%. Hal serupa terjadi dengan China, dengan peningkatan peningkatan volume transaksi dalam mata uang Rubel sebesar 520%.

Negara-negara BRICS lainnya juga menunjukkan pertumbuhan dalam volume transaksi timbal balik dalam mata uang nasional mereka, serta dalam euro. Awalnya, penggunaan mata uang nasional hanya sebesar 4% dan pada 2018 pangsanya telah mencapai 9,5% dari semua transaksi antara anggota grup.

Pertumbuhan itu terjadi karena penurunan dramatis dalam transaksi dalam mata uang dolar. Saat ini, penggunaan greenback masih sekitar 77%.

"Peningkatan penjualan komoditas menjadi pendorong untuk beralih ke mata uang nasional antara negara-negara BRICS sambil mengurangi bagian penyelesaian dalam dolar AS", Elena Trubnikova, ketua dewan dewan FinExpertiza. Secara sistematis, Rusia telah mengurangi investasinya dalam aset-aset berdenominasi dolar AS. Rusia menjual sebagian besar dari sekuritas AS-nya. Pada saat yang sama, Rusia aktif membangun cadangan emasnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Bank Indonesia juga sudah mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Untuk itu, Bank Indonesia menggandeng Thailand dan Malaysia. Bank Indonesia terus berkomitmen untuk mendukung implementasi penggunaan local currency settlement (LCS) di kawasan.

Pada 16 April 2019, Bank Indonesia melakukan sosialisasi kepada bank yang memfasilitasi kebijakan Appointed Cross Currency Dealer Bank (Bank ACCD) dan importir/eksportir potensial bank-bank ACCD
yang selama ini bertransaksi dagang dengan Malaysia dan Thailand.

Implementasi LCS memiliki peran strategis untuk mendukung efisiensi transaksi, pengembangan pasar mata uang lokal, dan pada akhirnya mendukung stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Secara umum, penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dengan Thailand dan Malaysia yang difasilitasi bank ACCD di Indonesia menunjukkan progres yang positif. Hal ini tercermin dari tren peningkatan transaksi penyelesaian perdagangan dalam mata uang lokal yang difasilitasi oleh bank ACCD dan fitur operasionalisasi yang telah dijalankan bank ACCD. 

Pada triwulan I 2019, total transaksi perdagangan melalui LCS menggunakan Baht (THB) mencapai USD13 juta (setara Rp185 miliar), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar USD7 juta (setara Rp96 miliar). Sementara itu, untuk transaksi LCS menggunakan Ringgit (MYR) mencapai USD70 juta (setara Rp1 triliun), meningkat tajam dibandingkan periode yang sama 2018 sebesar USD6 juta (setara Rp83 miliar).

Implementasi penggunaan LCS merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara Bank Indonesia (BI), Bank Negara Malaysia (BNM) dan Bank of Thailand (BOT) pada 23 Desember 2016.

Langkah itu merupakan bagian dari upaya BI, BNM dan BOT untuk mengurangi ketergantungan USD, meningkatkan pengembangan pasar mata uang lokal, dan pelaksanaan transaksi langsung antar pelaku pasar (direct trading), sehingga diharapkan dapat berkontribusi positif dalam efisiensi pasar dan menjaga kestabilan nilai tukar. 

Penggunaan LCS di kawasan semakin diperluas dan diperkuat dengan penandatanganan komitmen antara BI, BNM, BOT dan Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral se-ASEAN (ASEAN Finance Minister & Central Bank Governors’ Meeting/AFMGM) pada tanggal 5 April 2019 di Chiang Rai, Thailand.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…