Senin, 24 Juni 2019 | Jakarta, Indonesia

Perang Dagang Masih Berlanjut

Edy Purnomo

Jumat, 10 Mei 2019 - 08:36 WIB

Perang dagang AS-Cina masih berlanjut. Ilustrasi oleh AReview Design
Perang dagang AS-Cina masih berlanjut. Ilustrasi oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Pemulihan ekonomi dunia tampaknya masih menghadapi persoalan. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang digadang-gadang mereda justru kembali memanas. 

Setelah beberapa bulan relatif tenang, perang dagang AS-China tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Presiden AS Donald Trump tiba-tiba mengumumkan akan menaikkan tarif dari 10% menjadi 25%. Langkah itu akan dilakukan jika tidak ada kesepakatan tercapai sebelumnya.

AS akan menerapkan tarif dua kali lipat lebih besar untuk produk impor China senilai USD200 miliar mulai Jumat (10/5/2019). Bahkan, Trump mengancam  akan menerapkan tarif untuk beberapa produk impor baru lainnya.

Sikap Donal Trump itu jelas memunculkan kekhawatiran bagi pelaku bisnis maupun para pengambil kebijakan. Keputusan AS itu akan menyebarkan ketidakpastian di kalangan investor. Dampaknya, pasar keuangan global berjatuhan dalam beberapa hari terakhir.

Pengumuman Trump itu mendapat respons dari Pemerintah China. Kementerian Perdagangan China juga akan mengambil langkah penanggulangan yang diperlukan.

Pasar melihat tindakan terbaru Trump itu membingungkan.telah ambigu. Beberapa pihak menganggap ultimatum Trump itu hanyalah taktik negosiasi untuk mendorong tercapainya kesepakatan. Di sisi lain, sikap Trump itu  mengisyaratkan adanya skenario yang lebih buruk untuk mencapai penyelesaian perang dagang. 

Kita perlu melihat perang dagang antara AS dan China yang muncul sejak 2017 memberikan kesadaran baru. Kita perlu membuka mata bahwa sistem perdagangan internasional selama ini berjalan tidak seimbang. Negara-negara yang memiliki dukungan sumber daya kuat seperti China bisa menguasai perdagangan dunia. Sebaliknya, negara-negara lain harua berjibaku untuk mendapatkan keadilan.

Sebagai negara adidaya, AS tampaknya  menyadari bahwa persaingan strategis selalu ada.  Kita belum bisa memastikan model kesepakatan yang bakal dicapai antara AS dan China. Para pelaku pasar perlu mewaspadai setiap hasilnya. Apakah kesepakatan itu mampu mencipta perdagangan yang adil atau justru merugikan negara-negara di luar China dan  AS.

Melihat rekam jejak Donald Trump selama ini, tampaknya Pemerintah AS tidak akan mudah tunduk terhadap hegemoni produk China di negeri Paman Sam, bahkan di negara-negara lain. AS jelas menginginkan tetap bisa merajai dunia, baik politik maupun ekonomi.

Hal itu terlihat dari sikap Donald Trump yang tiba-tiba mengumumkan akan menaikkan tarif dua kali lipat atas produk China. Keputusan itu menjadi isyarat bahwa AS ingin menang secara  komprehensif. Sebelumnya, AS nyaris tidak punya peluang untuk memenangi pertarungan dengan China.

Di sisi lain, China boleh jadi akan sedikit melunak terhadap tawaran AS. Namun, Negara Tirai Bambu itu rasanya sulit untuk menerima begitu saja persyaratan AS. China kemungkinan tidak akan mau mengikuti model ekonomi  berbasis pasar bebas seperti diterapkan negara-negara sekutu AS.

China tetap akan mempertahankan sistem ekonomi pasar sosialis, yaitu sistem ekonomi dan model ini didasarkan pada dominasi kepemilikan publik dan perusahaan milik negara. China menerapkan sistem ekonomi pasar sosialis sejak 1992 sebagai hasil reformasi ekonomi. Reformasi ekonomi China dimulai sejak 1978 ketika negeri itu mulai berintegrasi dengan ekonomi pasar global. 

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 22 menit yang lalu

Pemerintah Siapkan Skema Pembiayaan Perumahan untuk Generasi Milenial

Saat ini diperkirakan terdapat 81 juta jiwa generasi milenial yang belum memiliki rumah dan menjadi pasar potensial perumahan.

Business 36 menit yang lalu

Kemenhub Kaji "O Bahn" Sebagai Angkutan Massal

Kementerian Perhubungan tengah mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama “O-Bahn”.

Business 2 jam yang lalu

Pemerintah Mulai Prioritaskan Pasokan Batubara untuk Dalam Negeri

Produksi batubara tahun 2018 lalu mencapai 528 juta ton.

Global 6 jam yang lalu

Di Paris, Airbus Raih Kontrak 595 Pesawat

Airbus mendominasi lapangan udara Le Bourget. Pada ajang Paris Air Show.

Business 7 jam yang lalu

Kemenperin dan Blibli.com Gelar Kompetisi Creativepreneur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap e-Commerce menjadi gerbang bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk melakukan transformasi.

Global 7 jam yang lalu

Carrefour Jual 80% Sahamnya di China

Raksasa ritel Prancis, Carrefour Group, Minggu (23/6/2019), mengumumkan, pihaknya telah setuju untuk menjual 80% saham ekuitas di Carrefour China kepada Suning.com, peritel terkemuka China Suning.com…

Money 8 jam yang lalu

Bitcoin Kembali Menembus Puncak

Harga bitcoin terus mencetak posisi tertinggi baru.

Money 23/06/2019 15:50 WIB

LPS Siapkan Proses Likuidasi BPR Legian

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan melakukan pembayaran klaim penjaminan simpanan dan proses likuidasi PT BPR Legian. Langkah itu sebagai tindak lanjut atas keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang…

Global 23/06/2019 11:55 WIB

Konsumen Pakaian AS Terbebani Kenaikan Tarif

Sebuah studi mengungkapkan, ancaman kenaikan tarif 25% pada tambahan impor China senilai USD300 miliar akan membuat konsumen AS membayar USD4,4 miliar lebih banyak setiap tahun untuk pakaian.

Business 23/06/2019 11:26 WIB

Bank Dunia Pinjami USD150 Juta untuk Rekonstruksi Sulteng

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman USD150 juta untuk membiayai rekonstruksi maupun penguatan perumahan dan fasilitas umum yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi di Sulawesi Tengah.