Selasa, 17 September 2019 | Jakarta, Indonesia

Jangan Panik

Bambang Aji Setiady

Jumat, 17 Mei 2019 - 08:30 WIB

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina berlanjut. Ilustrasi oleh AReview Design
Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina berlanjut. Ilustrasi oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Entah kata apa yang bisa dipakai untuk menggambarkan isi benak para pelaku di pasar uang dan pasar modal saat ini. Kaget, was-was, sedih, merasa terpukul, dan banyak lagi. Maklum, mereka tidak menduga kalau imbas perang dagang AS - China nun jauh di sana akan menjadi separah ini.

Lihat saja, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor pada bulan April turun 10,8% dibandingkan bulan Maret menjadi US$ 12,60 miliar. Sementara impor melonjak 12,25% jadi US$ 15,10 miliar. Alhasil, neraca perdagangan mengalami defisit US$ 2,5 miliar. Terparah dalam sejarah Indonesia. Sebagai gambaran, defisit neraca dagang paling buruk pernah terjadi di tahun 2013, yakni US$ 2,3 miliar.

Lonjakan impor yang terjadi di bulan April masih dianggap wajar karena menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Purunan ekspor pun masih dinilai masih normal karena di April-April sebelumnya memang seperti itu. Tapi, mereka yang biasa mengikuti perkembangan ekspor - impor dari waktu ke waktu tentu punya alasan untuk tetap merasa cemas karena defisit neraca perdagangan kali ini di luar perkiraan.

Oleh sebab itu, yang pertama dibutuhkan dalam situasi sulit seperti sekarang adalah menjaga suasana agar masyarakat tetap tenang. Soalnya, saat ini tak sedikit yang sudah berasumsi tentang kemungkinan terjadinya resesi bila perang dagang AS - China  makin berkecamuk. Bahkan banyak orang melakukan perburuan dolar untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan yang terburuk.

Presiden Jokowi pasti sudah menyadari hal itu. Sayangnya, ia agaknya lebih tertarik meresmikan jalan tol baru ketimbang memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa pemerintah benar-benar mampu mengatasi situasi sulit ini. Yang lebih menyedihkan lagi adalah komentar Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ia mengatakan, lemahnya kinerja ekspor menjadikan perekonomian tumbuh lambat.

Bagi mereka yang sehari-hari aktif di bidang ekonomi, mungkin akan menilai komentar itu hal wajar. Tapi, masyarakat umumnya juga bisa  menaruh curiga, jangan-jangan pemerintah mulai panik menghadapi efek buruk perang dagang AS - China. Sebab, itu bukan lagam seorang Menteri Keuangan yang biasanya terlihat tenang dan percaya diri.

Ya, tak semestinya Sri Mulyani membuat komentar seperti itu. Soalnya, itu hanya menimbulkan tanda tanya dan kepanikan di masyarakat. Mestinya, lebih bijaksana jika pemerintah bisa mengkondisikan elemen bangsa ini untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan paling buruk sekali pun. Tidak mestinya menakut-nakuti atau memberi gambaran buruk tentang akibat perang dari dagang AS - China.

Kita sudah banyak mengalami cobaan. Tahun 1998, sistem perbankan kita nyaris runtuh akibat gelombang rush gara-gara masyarakat panik. Itu sebabnya, dalam situasi sekarang yang paling dibutuhkan adalah kepastian dan suasana yang tenang. Hal ini akan membuat masyarakat bertindak rasional dan kooperatif. Sebaliknya, dalam suasana yang tidak tenang, orang cenderung sensitif.

Jelas, ini bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi menjelang pengumuman hasil pilpres dan pileg pada 22 Mei, ketika banyak orang menjadi lebih sensitif. Tak hanya sensitif, mereka juga cemas dan menduga-duga akibat yang bakal terjadi bila pasangan pilpres 02 benar-benar menolak hasil pemilu.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…