Senin, 24 Juni 2019 | Jakarta, Indonesia

Jangan Panik

Bambang Aji Setiady

Jumat, 17 Mei 2019 - 08:30 WIB

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina berlanjut. Ilustrasi oleh AReview Design
Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina berlanjut. Ilustrasi oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Entah kata apa yang bisa dipakai untuk menggambarkan isi benak para pelaku di pasar uang dan pasar modal saat ini. Kaget, was-was, sedih, merasa terpukul, dan banyak lagi. Maklum, mereka tidak menduga kalau imbas perang dagang AS - China nun jauh di sana akan menjadi separah ini.

Lihat saja, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor pada bulan April turun 10,8% dibandingkan bulan Maret menjadi US$ 12,60 miliar. Sementara impor melonjak 12,25% jadi US$ 15,10 miliar. Alhasil, neraca perdagangan mengalami defisit US$ 2,5 miliar. Terparah dalam sejarah Indonesia. Sebagai gambaran, defisit neraca dagang paling buruk pernah terjadi di tahun 2013, yakni US$ 2,3 miliar.

Lonjakan impor yang terjadi di bulan April masih dianggap wajar karena menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Purunan ekspor pun masih dinilai masih normal karena di April-April sebelumnya memang seperti itu. Tapi, mereka yang biasa mengikuti perkembangan ekspor - impor dari waktu ke waktu tentu punya alasan untuk tetap merasa cemas karena defisit neraca perdagangan kali ini di luar perkiraan.

Oleh sebab itu, yang pertama dibutuhkan dalam situasi sulit seperti sekarang adalah menjaga suasana agar masyarakat tetap tenang. Soalnya, saat ini tak sedikit yang sudah berasumsi tentang kemungkinan terjadinya resesi bila perang dagang AS - China  makin berkecamuk. Bahkan banyak orang melakukan perburuan dolar untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan yang terburuk.

Presiden Jokowi pasti sudah menyadari hal itu. Sayangnya, ia agaknya lebih tertarik meresmikan jalan tol baru ketimbang memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa pemerintah benar-benar mampu mengatasi situasi sulit ini. Yang lebih menyedihkan lagi adalah komentar Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ia mengatakan, lemahnya kinerja ekspor menjadikan perekonomian tumbuh lambat.

Bagi mereka yang sehari-hari aktif di bidang ekonomi, mungkin akan menilai komentar itu hal wajar. Tapi, masyarakat umumnya juga bisa  menaruh curiga, jangan-jangan pemerintah mulai panik menghadapi efek buruk perang dagang AS - China. Sebab, itu bukan lagam seorang Menteri Keuangan yang biasanya terlihat tenang dan percaya diri.

Ya, tak semestinya Sri Mulyani membuat komentar seperti itu. Soalnya, itu hanya menimbulkan tanda tanya dan kepanikan di masyarakat. Mestinya, lebih bijaksana jika pemerintah bisa mengkondisikan elemen bangsa ini untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan paling buruk sekali pun. Tidak mestinya menakut-nakuti atau memberi gambaran buruk tentang akibat perang dari dagang AS - China.

Kita sudah banyak mengalami cobaan. Tahun 1998, sistem perbankan kita nyaris runtuh akibat gelombang rush gara-gara masyarakat panik. Itu sebabnya, dalam situasi sekarang yang paling dibutuhkan adalah kepastian dan suasana yang tenang. Hal ini akan membuat masyarakat bertindak rasional dan kooperatif. Sebaliknya, dalam suasana yang tidak tenang, orang cenderung sensitif.

Jelas, ini bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi menjelang pengumuman hasil pilpres dan pileg pada 22 Mei, ketika banyak orang menjadi lebih sensitif. Tak hanya sensitif, mereka juga cemas dan menduga-duga akibat yang bakal terjadi bila pasangan pilpres 02 benar-benar menolak hasil pemilu.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 58 menit yang lalu

Pemerintah Mulai Prioritaskan Pasokan Batubara untuk Dalam Negeri

Produksi batubara tahun 2018 lalu mencapai 528 juta ton.

Global 5 jam yang lalu

Di Paris, Airbus Raih Kontrak 595 Pesawat

Airbus mendominasi lapangan udara Le Bourget. Pada ajang Paris Air Show.

Business 6 jam yang lalu

Kemenperin dan Blibli.com Gelar Kompetisi Creativepreneur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap e-Commerce menjadi gerbang bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk melakukan transformasi.

Global 6 jam yang lalu

Carrefour Jual 80% Sahamnya di China

Raksasa ritel Prancis, Carrefour Group, Minggu (23/6/2019), mengumumkan, pihaknya telah setuju untuk menjual 80% saham ekuitas di Carrefour China kepada Suning.com, peritel terkemuka China Suning.com…

Money 8 jam yang lalu

Bitcoin Kembali Menembus Puncak

Harga bitcoin terus mencetak posisi tertinggi baru.

Money 24 jam yang lalu

LPS Siapkan Proses Likuidasi BPR Legian

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan melakukan pembayaran klaim penjaminan simpanan dan proses likuidasi PT BPR Legian. Langkah itu sebagai tindak lanjut atas keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang…

Global 23/06/2019 11:55 WIB

Konsumen Pakaian AS Terbebani Kenaikan Tarif

Sebuah studi mengungkapkan, ancaman kenaikan tarif 25% pada tambahan impor China senilai USD300 miliar akan membuat konsumen AS membayar USD4,4 miliar lebih banyak setiap tahun untuk pakaian.

Business 23/06/2019 11:26 WIB

Bank Dunia Pinjami USD150 Juta untuk Rekonstruksi Sulteng

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman USD150 juta untuk membiayai rekonstruksi maupun penguatan perumahan dan fasilitas umum yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi di Sulawesi Tengah.

Global 23/06/2019 10:13 WIB

2021, Pasar VR China Capai USD7,5 Miliar

Pasar realitas virtual (VR) China terus berkembang.

Global 22/06/2019 09:59 WIB

Huawei Tetap Diterima di Banyak Negara

Keputusan Amerika Serikat (AS) yang memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam ternyata tidak menyurutkan sejumlah negara untuk menggandeng perusahaan asal China itu.