Kamis, 19 September 2019 | Jakarta, Indonesia

Di Pasar Api Masih Menyala

Bambang Aji Setiady

Kamis, 16 Mei 2019 - 18:36 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Seperti yang sudah diramalkan para analis, neraca perdagangan bulan April memang jeblok. Itu terlihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS), dimana ekspor bulan April turun 10,8% menjadi US$ 12,60 miliar. Sementara impor tetap kencang, tumbuh 12,25% jadi US$ 15,10 miliar. Alhasil, neraca dagang RI bulan April mengalami defisit US$ 2,5 miliar.

Jeleknya kinerjas ekspor itu membuat para petinggi pemerintah tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya pada khalayak. Sri Mulyani, misalnya. Menteri Keuangan itu tanpa tendeng aling-aling manyatakan ekspor tidak bisa diandalkan lagi sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Itu sebabnya, petumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan bakal melambat ke level 5%.

Perang dagang AS - China tampaknya menjadi salah satu faktor penekan ekspor Indonesia tersebut. Yang lebih mencemaskan, perekonomian AS dan China juga mulai meredup. Paling tidak, itu bisa dilihat dari penjualan ritel yang terus menurun. Penjualan ritel AS bulan April, misalnya, turun 0,2%. Begitu pun dengan penjualan ritel China. Meski masih membukukan kenaikan 7,2%, namun angka itu merupakan yang terendah sejak Mei 2003.

Inilah yang akan membuat kinerja ekspor berjalan tertatih-tatih dalam beberapa bulan ke depan. Itu sebabnya, tidak aneh bila pelaku pasar uang pun bersikap pesimistis. Betul, hari ini (Kamis, 16/5) nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 0,09% ke level Rp 14.450 per dolar. Tapi, jangan lupa, penguatan itu karena ada intervensi dari BI. 

Yang lebih menyedihkan, mata uang rupiah yang sebelumnya tampil cukup mencorong kini mengalami pelemahan cukup dalam. Dari 11 mata uang di Asia, pelemahan rupiah merupakan yang terburuk keempat setelah rupee India, won Korea, dan yuan China. Masalahnya, pelemahan nilai tukar rupiah ini kelihatannya masih akan terus berlangsung karena asing mulai angkat koper dari Indonesia.

Jadi, tak ada sentimen positif sama sekali? Ada. Salah satunya, AS dan China akan kembali menggelar pertemuan pada Jum’at besok. Jika hasilnya positif, peluang rupiah untuk menguat cukup terbuka. Sayangnya, hasil perundingan baru diketahui Jum’at malam. Makanya, efeknya baru akan terlihat di pasar uang pada Senin pekan depan (20/5).

Yang juga patut dicermati adalah reaksi dari pejabat The Fed terhadap perang dagang AS - China. Seperti diberitakan Reuters, Eric Rosengren, Presiden The Fed Boston, mengatakan tidak tertutup kemungkinan bank sentral Amerika memangkas tingkat suku bunganya jika perang dagang membuat ekonomi dan tingkat inflasi AS turun. “Tapi saat ini penurunan itu belum diperlukan,” ujarnya.

Kemungkinan tidak berubahnya suku bunga The Fed tersebut menjadi salah satu alasan bagi Rapat Dewan Gubernur BI untuk tetap mempertahankan BI - 7 day reserve repo rate di level 6%, hari ini.  “Keputusan tersebut sejalan dengan upaya menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Lantas, akan seperti apa nasib rupiah Jum’at besok? Menurut David Sumual, Ekonom BCA, perang dagang AS - China dan neraca dagang RI masih akan menjadi topik hot di pasar uang. Itu sebabnya, kurs rupiah diduga masih akan tertekan. Ia memprediksi, besok rupiah akan berada di kisaran Rp 14.400 - Rp 14.600 per dolar. “Apalagi harga minyak masih berpotensi naik. Ini buruk buat rupiah,” ujarnya.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…