Senin, 24 Juni 2019 | Jakarta, Indonesia

Di Pasar Api Masih Menyala

Bambang Aji Setiady

Kamis, 16 Mei 2019 - 18:36 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Seperti yang sudah diramalkan para analis, neraca perdagangan bulan April memang jeblok. Itu terlihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS), dimana ekspor bulan April turun 10,8% menjadi US$ 12,60 miliar. Sementara impor tetap kencang, tumbuh 12,25% jadi US$ 15,10 miliar. Alhasil, neraca dagang RI bulan April mengalami defisit US$ 2,5 miliar.

Jeleknya kinerjas ekspor itu membuat para petinggi pemerintah tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya pada khalayak. Sri Mulyani, misalnya. Menteri Keuangan itu tanpa tendeng aling-aling manyatakan ekspor tidak bisa diandalkan lagi sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Itu sebabnya, petumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan bakal melambat ke level 5%.

Perang dagang AS - China tampaknya menjadi salah satu faktor penekan ekspor Indonesia tersebut. Yang lebih mencemaskan, perekonomian AS dan China juga mulai meredup. Paling tidak, itu bisa dilihat dari penjualan ritel yang terus menurun. Penjualan ritel AS bulan April, misalnya, turun 0,2%. Begitu pun dengan penjualan ritel China. Meski masih membukukan kenaikan 7,2%, namun angka itu merupakan yang terendah sejak Mei 2003.

Inilah yang akan membuat kinerja ekspor berjalan tertatih-tatih dalam beberapa bulan ke depan. Itu sebabnya, tidak aneh bila pelaku pasar uang pun bersikap pesimistis. Betul, hari ini (Kamis, 16/5) nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 0,09% ke level Rp 14.450 per dolar. Tapi, jangan lupa, penguatan itu karena ada intervensi dari BI. 

Yang lebih menyedihkan, mata uang rupiah yang sebelumnya tampil cukup mencorong kini mengalami pelemahan cukup dalam. Dari 11 mata uang di Asia, pelemahan rupiah merupakan yang terburuk keempat setelah rupee India, won Korea, dan yuan China. Masalahnya, pelemahan nilai tukar rupiah ini kelihatannya masih akan terus berlangsung karena asing mulai angkat koper dari Indonesia.

Jadi, tak ada sentimen positif sama sekali? Ada. Salah satunya, AS dan China akan kembali menggelar pertemuan pada Jum’at besok. Jika hasilnya positif, peluang rupiah untuk menguat cukup terbuka. Sayangnya, hasil perundingan baru diketahui Jum’at malam. Makanya, efeknya baru akan terlihat di pasar uang pada Senin pekan depan (20/5).

Yang juga patut dicermati adalah reaksi dari pejabat The Fed terhadap perang dagang AS - China. Seperti diberitakan Reuters, Eric Rosengren, Presiden The Fed Boston, mengatakan tidak tertutup kemungkinan bank sentral Amerika memangkas tingkat suku bunganya jika perang dagang membuat ekonomi dan tingkat inflasi AS turun. “Tapi saat ini penurunan itu belum diperlukan,” ujarnya.

Kemungkinan tidak berubahnya suku bunga The Fed tersebut menjadi salah satu alasan bagi Rapat Dewan Gubernur BI untuk tetap mempertahankan BI - 7 day reserve repo rate di level 6%, hari ini.  “Keputusan tersebut sejalan dengan upaya menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Lantas, akan seperti apa nasib rupiah Jum’at besok? Menurut David Sumual, Ekonom BCA, perang dagang AS - China dan neraca dagang RI masih akan menjadi topik hot di pasar uang. Itu sebabnya, kurs rupiah diduga masih akan tertekan. Ia memprediksi, besok rupiah akan berada di kisaran Rp 14.400 - Rp 14.600 per dolar. “Apalagi harga minyak masih berpotensi naik. Ini buruk buat rupiah,” ujarnya.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 1 jam yang lalu

Pemerintah Mulai Prioritaskan Pasokan Batubara untuk Dalam Negeri

Produksi batubara tahun 2018 lalu mencapai 528 juta ton.

Global 6 jam yang lalu

Di Paris, Airbus Raih Kontrak 595 Pesawat

Airbus mendominasi lapangan udara Le Bourget. Pada ajang Paris Air Show.

Business 6 jam yang lalu

Kemenperin dan Blibli.com Gelar Kompetisi Creativepreneur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap e-Commerce menjadi gerbang bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk melakukan transformasi.

Global 7 jam yang lalu

Carrefour Jual 80% Sahamnya di China

Raksasa ritel Prancis, Carrefour Group, Minggu (23/6/2019), mengumumkan, pihaknya telah setuju untuk menjual 80% saham ekuitas di Carrefour China kepada Suning.com, peritel terkemuka China Suning.com…

Global 23/06/2019 11:55 WIB

Konsumen Pakaian AS Terbebani Kenaikan Tarif

Sebuah studi mengungkapkan, ancaman kenaikan tarif 25% pada tambahan impor China senilai USD300 miliar akan membuat konsumen AS membayar USD4,4 miliar lebih banyak setiap tahun untuk pakaian.

Business 23/06/2019 11:26 WIB

Bank Dunia Pinjami USD150 Juta untuk Rekonstruksi Sulteng

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pinjaman USD150 juta untuk membiayai rekonstruksi maupun penguatan perumahan dan fasilitas umum yang terkena dampak tsunami dan gempa bumi di Sulawesi Tengah.

Global 23/06/2019 10:13 WIB

2021, Pasar VR China Capai USD7,5 Miliar

Pasar realitas virtual (VR) China terus berkembang.

Global 22/06/2019 09:59 WIB

Huawei Tetap Diterima di Banyak Negara

Keputusan Amerika Serikat (AS) yang memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam ternyata tidak menyurutkan sejumlah negara untuk menggandeng perusahaan asal China itu.

Business 22/06/2019 08:36 WIB

Indonesia-Italia Optimalkan Kerja Sama Industri

Indonesia dan Italia akan mengoptimalkan kerja sama di bidang industri yang mendominasi perdagangan antarkedua.

Business 21/06/2019 16:36 WIB

Seksi 1-3 Tol KLBM Citarget Beroperasi Akhir 2019

Pembangunan konstruksi jalan Tol Krian – Legundi – Bunder – Manyar (KLBM) di Provinsi Jawa Timur sepanjang 38,29 Km hingga Mei 2019 telah mencapai 70,24%.