Minggu, 19 Mei 2019 | Jakarta, Indonesia

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

Edy Purnomo

Jumat, 17 Mei 2019 - 09:45 WIB

Perekonomian Indonesia
Perekonomian Indonesia
A A A

Majalahreviewweekly.com - Gejolak ekonomi global belakangan ini diprediksi bakal memukul banyak negara. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik kemungkinan akan tersendat. Sejak April 2019, Ekonomi China sudah menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Negeri Tirai Bambu itu masih berharap mampu untuk mendongkrak ekonominya, paling tidak sesuai dengan proyeksi awal. Di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat (AS),  Pemerintah China  menyiapkan stimulus untuk merangsang pertumbuhan ekonominya.

Namun, upaya Pemerintah China itu belum menampakkan hasil. Indikasinya, keluaran (output) industri dan penjualan ritel di negeri itu justru menurun signifikan pada April  lalu. Produksi pertambangan dan sektor-sektor lain di China hanya bertumbuh 5,4%, menurun tajam dari bulan sebelumnya yang mencapai 8,5%.

Tanda-tanda pelemahan juga dialami Amerika Serikat. Pada April 2019, penjualan ritel turun 0,2%. Padahal, bulan sebelumnya sempat naik 1,7%. Pada April lalu, penjualan mobil di negeri Paman Sam turun 1,1%, sedangkan penjualan di toko elektronik dan alat terpangkas 1,3%.

Tetangga Indonesia, Malaysia juga merasakan tanda-tanda kurang baik. Pada triwulan pertama 2019, ekonomi negeri Jiran itu hanya tumbuh 4,5%, turun dibandingkan pertumbuhan triwulan keempat tahun lalu sebesar 4,7%.

Ekonomi Malaysia berada di bawah tekanan pertumbuhan global yang lesu. Kondisi itu diperburuk ketegangan perdagangan yang terus-menerus di pasar global. Akibatnya, ekspor minyak bumi dan produk minyak kelapa sawit ikut tertekan.

Tekanan ekonomi global juga menghantam Indonesia. Bahkan, Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2019 menjadi di bawah 5,2%. Revisi pertumbuhan itu menyusul penurunan ekonomi global dan melemahnya pertumbuhan ekspor. Bank Indonesia mengkhawatirkan kedua hal itu bakal mempengaruhi sumber-sumber lain pertumbuhan seperti konsumsi dan investasi.

Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 di kisaran 5,0-5,4%.
"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 cenderung berada di bawah titik tengah 5-5,4%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Bank Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi itu setelah melihat  laju perekonomian pada triwulan  I 2019 hanya 5,07%. Realisasi itu jauh di bawah ekspetasi sebelumnya sebesar 5,2%.

Gubernur Bank Indonesia menyebutkan perekonomian tahun ini sangat terkendala oleh perlambatan ekonomi global. Terlebih lagi, laju ekspor sulit diandalkan untuk memacu signifikan pertumbuhan ekonomi.

Pada April 2019, ekspor Indonesia tercatat hanya USD12,6 miliar, turun 13,10% dibandingkan April 2018. "Ekspor Indonesia tertekan karena penurunan harga komoditas. Dengan ekspor yang tertekan, bukan tidak mungkin terjadi perlambatan pada konsumsi rumah tangga dan investasi," jelas Perry.

Awalnya, Bank Indonesia berharap belanja pada Pemilu 2019 akan mendongkrak konsumsi rumah tangga. Namun, sumbangan belanja pemilu ternyata lebih rendah.

Sebelumnya, tim ekonomi Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2019 dapat mencapai kisaran 5,22%. Angka ini sedikit di bawah asumsi yang ditetapkan pemerintah 5,3%.

"Perekonomian Indonesia akan didukung oleh beberapa faktor musiman yang dapat membantu pertumbuhan per triwulanan," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Faktor musiman tersebut antara lain bergesernya musim panen dari Maret ke April, perayaan Ramadhan dan Idul Fitri, masa libur sekolah dan tahun ajaran baru serta pemberian THR serta gaji ke-13 bagi PNS. Selain itu, kinerja ekonomi ikut terbantu oleh masuknya aliran modal masuk yang akan mendorong tumbuhnya investasi serta membaiknya realisasi belanja pemerintah pada dua triwulan terakhir 2019.

Andry melihat potensi aliran masuk modal asing akan kembali tumbuh pada paruh kedua 2019. Hal itu seiring dengan meredanya ketidakpastian akibat tahun politik dan pengumuman kabinet kerja yang baru. Meski demikian, dia mengakui adanya potensi risiko, terutama kemungkinan penurunan permintaan global dan meningkatnya tensi perang dagang. Kedua hal itu dapat mengganggu kinerja perdagangan nasional.

COMMENTS

OTHER NEWS

Money 17/05/2019 14:38 WIB

BI dan KSEI Teken Perjanjian Penyelesaian Transaksi SBK

SBK (dahulu disebut Commercial Paper) adalah sumber pendanaan jangka pendek non perbankan.

Business 17/05/2019 10:45 WIB

Pasokan BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi dan PT Pertamina (Persero) melakukan pemantauan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mendukung…

Business 17/05/2019 10:15 WIB

Kinerja APBN Hingga April Masih Aman

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang melemah, kebijakan countercyclical yang diambil Pemerintah dalam pengelolaan fiskal mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan capaian…

Business 17/05/2019 09:15 WIB

Kemenperin Bidik Investasi Elektronika Rp1,3 Triliun

Kementerian Perindustrian terus membidik investasi di sektor industri elektronika dan telematika.

Global 17/05/2019 08:42 WIB

Harga Rumah Global Telah Pulih

Sejak krisis keuangan global 2008, harga rumah di seluruh dunia telah pulih.

Periscope 17/05/2019 08:30 WIB

Jangan Panik

Investor tak menduga imbas perang dagang AS-China separah ini.

Money 16/05/2019 18:36 WIB

Di Pasar Api Masih Menyala

Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berlanjut. Pelaku pasar menunggu hasil pertemuan AS - China Jum’at besok.

Business 16/05/2019 15:45 WIB

BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi 5-5,4%

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berada di bawah titik tengah kisaran 5-5,4%.

Business 16/05/2019 15:04 WIB

BI Pertahankan Suku Bunga

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Business 16/05/2019 14:19 WIB

Kementan Dorong Swasembada Bawang Putih

Program swasembada bawang putih memang dilakukan secara bertahap. Baik pengembangan melalui dana APBN, kemitraan importir dan petani, maupun swadaya petani.