Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Menguat, Sampai Kapan?

Bambang Aji Setiady

Senin, 27 Mei 2019 - 17:41 WIB

Riset
Riset
A A A

Majalahreviewweekly.com - Libur panjang Idul Fitri sudah di depan mata. Nah, apa lagi yang dibutuhkan orang di saat-saat seperti itu selain uang tunai. Jadi, jangan heran bila nilai tukar rupiah di pasarspot pada hari ini (Senin, 27/5) menguat 12 poin (0,08%) ke level Rp 14.380 per dolar. Kebetulan pula, tensi suhu politik mulai mereda.

Kendati begitu, para pelaku pasar belum begitu pede kalau penguatan yang terjadi hari ini akan berlangsung lama. Maklum, konsentrasi pelaku pasar uang sudah terbelah antara libur Lebaran dan menunggu pasar tutup. Oh, ya, pasar valas hanya akan beroperasi sampai akhir pekan ini (Jum’at, 31/5) dan baru akan buka kembali pada 8 Juni depan.

Selain faktor lebaran, memang tidak ada sentimen yang bakal mengangkat rupiah. Betul, aksi  demo menolak hasil perhitungan suara pemilu 2019  tidak ada. Tapi, itu sudah bukan berita baru lagi. Alhasil, tak banyak dorongan terhadap rupiah. “Ke depan, peluang rupiah untuk melemah masih terbuka,” ujar Faisyal, Analis PT Monex Investindo Futures.

Faisyal mungkin benar. Apalagi, seperti pada lebaran-lebaran sebelumnya, orang berkantong tebal biasanya mengamankan hartanya dengan membeli dolar. Selain untuk menghindari kerugian kurs selama pasar tutup, sebagian dolar yang dibeli juga dipakai untuk membiayai liburan di luar negeri.

Pelemahan rupiah ini mungkin bakal berlangsung cukup lama karena belum tuntasnya perundingan dagang AS - China. Jelas, masalah ini membuat para pemilik uang terus mengincar dolar sebagai aset safe haven. Apalagi kini sudah muncul kabar bahwa imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kembali melemah. “Investor khawatir, perang dagang akan memukul ekonomi AS dan global,” uja Faisyal.

Memang pantas jika investor was-was. Soalnya, data Purchasing Managers’ Index (PMI) AS bulan April turun ke level 50,6, dari 53,6 di bulan Maret. Data ini pula, menurut Ahmad Mikail, Ekonom Samuel Sekuritas, yang membuat dolar melemah terhadap sejumlah mata uang. Termasuk rupiah. “Apalagi hari ini (Senin, 27/5) pasar uang AS libur,” ujarnya.

Tak hanya Amerika, efek perang dagang justru sudah dirasakan oleh perusahaan-perusahaan China. Bloomberg mengabarkan, laba perusahaan industri China pada bulan April turun 3,7% menjadi US$ 515,4 miliar yuan (US$ 74,80 miliar) akibat lambatnya aktivitas manufaktur. Padahal, pada bulan Maret, perusahaan-perusahaan di China masih mampu membukukan kenaikan laba 13,9%. Dan, dampaknya, pasti berpotensi menekan kurs rupiah.

Jadi, sekarang tinggal memperkirakan sampai level berapa nilai tukar rupiah akan mengalami pelemahan. Faisyal memperkirakan pelemahan rupiah tidak akan kelewat jauh karena nilai tukarnya terus dijaga BI. Karena itu, ia menduga besok rupiah akan berada di Rp 14.325 - Rp 14.425 per dolar.

Pendapat berbeda dikemukakan Ahmad. Ia menduga, Selasa besok rupiah masih akan menguat kendati tipis. “Asumsinya, nanti malam data imbal hasil (yield)  obligasi AS menunjukkan penurunan  sehingga akan menguntungkan nilai tukar rupiah,” ujar Ahmad, yang memperkirakan besok rupiah akan berada di rentang Rp 14.330 - Rp 14.350 per dolar.

Tapi, jangan lupa, ini sudah mau Lebaran. Orang-orang pun sudah mulai bersiap-siap pulang kampung. Kemungkinan perusahaan akan berburu dolar sebelum cuti. Itu sebabnya, bukan tidak mungkin beberapa hari ke depan rupiah cenderung melemah.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…