Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Sementara Diselamatkan SBSN

Bambang Aji Setiady

Selasa, 28 Mei 2019 - 17:41 WIB

Dok. Review
Dok. Review
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kondusifnya suhu politik di dalam negeri terus mendatangkan dampak positif, termasuk terhadap lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang digelar hari ini (Selasa, 28/5). Buktinya, kendati Idul Fitri sudah di depan mata, peminat  SBSN masih lumayan tinggi: mencapai Rp 13,40 triliun. Tapi pemerintah hanya menarik Rp 5,16 triliun.

Penyedotan rupiah itulah yang membuat nilai tukar mata uang RI kembali menguat. Setelah sempat melemah di sesi pertama akibat aksi profit taking, kurs rupiah di pasarspot pada hari ini berhasil menguat 5 poin (0,03%) ke level Rp 14.375 per dolar. Keinginan Presiden AS Donald Trump untuk melakukan kesepakatan dengan Iran tentang program nuklir, juga berdampak positif terhadap rupiah.

Dan jangan lupa, buruknya data ekonomi AS juga membuat dolar cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang di Asia. Maklum, dengan memburuknya ekonomi AS, peluang The Fed untuk memangkas tingkat suku bunganya sebelum akhir tahun semakin besar. “Inilah yang mendorong pelaku pasar kembali berburu aset-aset berisiko, termasuk rupiah,” ujar Faisyal, Analis Monex Investindo Futures.

Akan halnya faktor domestik, suasana adem pasca aksi demo 22 Mei dinilai telah memberi keyakinan kepada investor bahwa suhu politik sudah mulai kondusif. Betul, munculnya gugatan terhadap hasil pilpres oleh pasangan Prabowo Subianto - Sadiaga Uno ke MK dianggap pasar bisa membawa efek negatif. Tapi sentimen tersebut rupanya tidak berlanjut.

Berdasarkan kondisi di atas, tren penguatan rupiah diperkirakan akan terus berlangsung. Apalagi pasar semakin optimistis dengan mulai turunnya harga minyak. Setelah AS siap berdialog dengan Iran,  kini harga minyak mulai stabil di kisaran US$ 58 per barel. Menurut David Sumual, Ekonom Bank BCA, jika kondisi domestik tetap stabil, Rabu besok (28/5) nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp 14.300 - Rp 14.400 per dolar.

Kendati begitu, ada beberapa faktor yang bisa melemahkan rupiah. Salah satunya adalah libur panjang Idul Fitri yang akan dimulai dari 31 Mei - 7 Juni. Biasanya, menjelang libur panjang seperti itu para pemilik uang akan menambah koleksi dolarnya untuk mengurangi resiko rugi kurs selama libur.

Apalagi perang dagang AS - China semakin memanas. Terutama setelah China berencana  menerbitkan aturan siber terbaru. Muncul spekulasi, aturan tersebut diduga sebagai alat untuk memblokir perusahaan teknologi AS dengan alasan keamanan. Sementara Trump mengeluarkan ancaman baru bahwa ke depan AS bisa menaikan bea masuk yang lebih tinggi bagi barang-barang dari China.

Nah, jika perang dagang AS - China makin memanas, menurut Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, para pemilik uang biasanya akan ke kembali berburu dolar AS sebagai aset safe haven. 
"Besok rupiah berpeluang melemah karena sentimen eksternal," ujarnya, yang memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp 14.346 - Rp 14.395.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…