Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Waspadai Hot Money

Bambang Aji Setiady

Senin, 10 Juni 2019 - 18:30 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Setelah libur panjang Idulfitri, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung disambut gegap gempita. Dampaknya, hari ini (Senin, 10/6) indek harga saham gabungan (IHSG) langsung menguat 80,49 poin (1,3%) ke level 6.289.61, dari 6.209,12 pada Jum’at lalu (31/5). Saham Bank BRI (BBRI) dan Telkom Indonesia (TLKM) menjadi pendorong utama penguatan IHSG hari ini.

Pada gilirannya, keriuhan yang terjadi di pasar modal bisa dinikmati pula oleh para pemain valas. Seperti kita saksikan bersama, hari ini nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 14 poin (0,133%) ke level Rp 14.250 per dolar. Hebatnya, rupiah menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang berhasil menguat terhadap dolar pada hari ini.

Menurut pengamatan para analis, menguatnya indeks dan rupiah terutama dipengaruhi faktor eksternal. Peristiwa yang paling berpengaruh terhadap pergerakan saham dan nilai tukar rupiah hari ini adalah data Manufacturing Purchasing Managers Indeks AS di bulan Mei yang turun ke level 52,1. Pelambatan ekonomi AS ini sontak membuat banyak pihak melepas dolar. Apalagi muncul  ekspektasi bahwa The Fed bakal memangkas tingkat bunganya.

Tentu bukan hanya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang menjadi pil perangsang meningkatnya IHSG dan kurs rupiah.  Urungnya AS untuk mengenakan tarif pada Meksiko dalam kesepakatan untuk memerangi imigram ilegal dari Amerika Tengah juga membuat bursa dunia bergairah. Indeks Dow Jones, misalnya, menguat 1,02% ke level 25.983,94.  Kenaikan juga dialami indeks Nikkei 225 (1,20%), Hang Seng (2,27%) dan Strait Times (1,31%).

Kebetulan pula, sentimen positif itu didukung oleh kondisi politik di dalam negeri yang cenderung kondusif. Sentimen positif lainnya adalah keputusan Standard & Poors yang menaikan peringkat utang Indonesia dari –BBB menjadi BBB dengan outlook stabil. “Rating tersebut telah meningkatkan daya tarik rupiah dan pasar modal Indonesia,” ujar Faisyal, Analis Monex Investindo Futures.

Sejumlah analis memprediksi, penguatan indeks masih akan berlangsung Selasa besok. Pemicunya, memang belum ada yang baru alias masih yang itu-itu juga. Seperti  isu pemangkasan bunga The Fed dan naiknya rating utang Indonesia. “Mestinya dana asing masih masuk karena ada isu The Fed akan memangkas suku bunga,” ujar Chris Apriliony, Analis Jasa Utama Capitak Sekuritas.

Dengan gairah pasar yang meletup-letup, menurut Chris, lebih aman dan tetap cukup menguntungkan bila investor bermain pada saham-saham unggulan. Untuk saham-saham unggulan ini, ia menduga saham TLKM masih berpeluang untuk menguat. Secara teknikal, saham perbankan seperti BBRI dan BBC juga  masih akan melanjutan penguatannya secara mantap  Selasa besok.

Pendapat bernada optimistis juga dikemukakan oleh Harry Su, Managing Director Head of Equity capital Market Samuel International. Berbeda dengan Chris, Harry justru lebih menyarankan investor untuk memperhatikan saham properti. “Karena ada ekspektasi bunga The Fed sudah peak dan ke depan bisa turun,” ujarnya.

Hanya saja, kendati diprediksi masih akan menguat, bukan berarti tidak ada resiko pelemahan dalam pergerakan pasar. Dari dalam negeri, misalnya, ada sejumlah sentimen negatif yang akan mengiringi perdagangan di bursa saham. Seperti tingkat inflasi bulan Mei yang mencapai 0,68% atau di atas prediksi pasar sebesar 0,53%.

Jangan dilupakan juga, kenaikan indeks yang terjadi hari ini tak lepas dari peran dana jangka pendek alias hot money yang membanjir ke pasar modal. Hari ini, investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp 551,31 miliar. Dana inilah yang patut diwaspadai. Sebab, yang namanya hot money bisa pergi kapan saja. Apalagi sejumlah saham yang diborong sudah mengalami kenaikan harga cukup tinggi.

Lantas, bagaimana dengan rupiah? Faisyal tak melihat adanya sentimen positif yang bisa memperkuat nilai tukar rupiah esok hari. Dari dalam negeri, inflasi bulan Mei yang di atas prediksi pasar berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Perang dagang juga masih mencemaskan, terutama setelah AS mengancam akan mengenakan tarif tambahan kepada barang-barang China senilai total US$ 300 miliar.

Rupiah juga terancam tertekan bila dana asing tiba-tiba ke luar dari pasar modal. “Tidak hanya itu, rupiah juga masih berpotensi melemah lantaran harga minyak dunia berpeluang menguat dalam waktu dekat,” ujar Faisyal. Karena itu, ia memperkirakan Selasa besok rupiah berpotensi melemah di kisaran Rp 14.200 – Rp 14.350 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…