Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Pasar Menunggu KTT 20

Bambang Aji Setiady

Selasa, 11 Juni 2019 - 18:56 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) boleh dibilang masih cukup ramai. Investor asing pun terlihat masih giat memburu saham-saham unggulan (blue chip). Hanya saja, keramaian itu tampaknya bakal mulai berkurang di hari-hari ke depan. Ancaman Presiden Donald Trump Presiden, yang akan kembali menaikan tarif impor bila Presiden Xi Jinping tak hadir dalam KTT  20 di Jepang akhir Juni ini, membuat investor kembali was-was.

Terbukti, walau pun akhirnya ditutup menguat 16,38 poin (0,26%) ke level 6.305,99, hari ini (Selasa, 11/6) indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan di sesi I. Tapi, syukurlah, sebuah kabar baik datang dari China. Di luar dugaan, selama bulan Mei cadangan devisa negeri Tirai Bambu ini naik US$ 6 miliar menjadi US$ 1,3 triliun. Tak hanya itu, Bea Cukai China juga melaporkan ekspor pada bulan lalu mencatat pertumbuhan 1,1%.

Akibat dari sentimen positif inilah bursa saham di kawasan Asia langsung menguat. Indeks Nikkei 225 dan Hang Seng, misalnya, masing-masing ditutup menguat 0,33% dan 0,76%.  Bahkan Shang Hai Composite dan CSI300, dua indeks acuan di China, melonjak 2,58% dan 3,01%. BEI pun tak luput dari pengaruh ini. Kenaikan di BEI terutama berkat adanya penguatan pada saham Smartfren Telecom (FREN) dan Chandra Asri Petrochemical (TPIA).

Tapi, ya itu tadi, ke depan IHSG kemungkinan besar bakal mengalami koreksi. Salah satu faktor yang akan mempengaruhi, menurut Thendra Crisnanda, Kepala Riset MNC Sekuritas, adalah ketidakpastian atas perang dagang AS – China serta potensi memburuknya kembali defisit neraca dagang Indonesia. Karena itu, Thendra mengingatkan agar investor tetap bersikap ekstra waspada. Sebab, ke depan, diperkirakan IHSG akan menuju level 6.150 – 6.210.

Tak hanya IHSG, pergerakan nilai tukar rupiah juga kelihatannya akan berlangsung tertatih-tatih. Betul, pelaku pasar menduga The Fed bakal memangkas tingkat suku bunganya di akhir Juli depan. Hanya saja, mereka tampaknya belum yakin bila Jinping akan hadir di KTT 20 dan melakukan  pertemuan dengan Trump. Padahal, para investor sangat berharap pertemuan kedua tokoh tersebut sedikit banyak akan meredakan tensi perang dagang AS – China.

Meski pun nilai tukar rupiah diprediksi bakal melemah, namun Ibrahim menduga Rabu besok (12/6) mata uang RI itu masih akan sedikit berotot. Sebab, menurut Diretur Utama PT Garuda Berjangka ini, komentar pejabat The Fed yang cenderung dovishserta ekonomi AS yang mulai melamban membuat pasar semakin yakin Fed Fund Rate bakal dipangkas. Ibrahim memperkirakan, besok kurs rupiah akan berada di kisaran Rp 14.205 – Rp 14.275 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…