Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Masih Dihantui Aksi Profit Taking

Bambang Aji Setiady

Rabu, 12 Juni 2019 - 18:04 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Istimewa)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Seperti yang sudah diduga, aksi profit taking mendominasi transaksi di pasar saham, hari ini (Rabu, 12/6).  Pemicunya adalah kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama dua hari berturut-turut. Padahal, perekonomian dunia semakin suram akibat memanasnya perang dagang AS - China. Jelas, kenaikan itu menggoda para pemodal untuk segera melakukan ambil untung. Makanya, jangan heran bila hari ini IHSG melemah 0,47% ke level 6.276,18.

Sejumlah analis menilai, hari ini memang saat yang pas buat investor untuk membuat barang. Sebab, kata mereka, tak ada alasan yang bisa membuat indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa terangkat naik. Sudah begitu, kenaikan yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan faktor fundamental, tetapi lebih didorong oleh penguatan yang terjadi di bursa regional. Makanya, ketika hari ini indeks di bursa-bursa regional dan global jatuh, IHSG pun ikut terkoreksi.

Lantas, apa yang membuat indeks di pasar regional terpuruk hari ini? Tak lain dan tak bukan, Selasa kemarin  Presiden Amerika Donald Trump bilang bahwa pihaknya tidak akan menuntaskan perundingan dagang dengan China kecuali negeri Tirai Bambu itu menyetujui empat atau lima poin utama. Trump juga mengancam akan mengenakan tarif impor baru jika dalam pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping di KTT G20 tidak ada kemajuan.

Kalau benar begitu kejadiannya, akibatnya jelas bakal gawat. Orang akan lebih suka memegang dolar ketimbang bermain saham yang berbasis rupiah. Celakanya, kesialan itu masih akan berlanjut. Soalnya, sejumlah emiten masih terbelit utang berdenominasi dolar. Itulah sebabnya, Lanjar N. Taulat, Analis Reliance Sekuritas, memperkirakan pelemahan IHSG masih berlangsung esok hari (Kamis, 13/6). Ia memprediksi, IHSG akan melemah dan bergerak di rentang antara 6.200 – 6.300. “IHSG masih akan tertekan karena dihantui aksi ambil untung.” ujarnya.

Besarnya aksi jual di lantai bursa tak hanya membuat IHSG turun. Kurs rupiah pun mendapatkan imbas negatif. Sebab, ke luarnya dana-dana asing telah membuat permintaan dolar menjadi lebih besar ketimbang suplai. Makanya, pada penutupan perdagangan hari ini posisi rupiah di pasar spot melemah 0,02% ke level Rp 14.241 per dolar. Kamis besok, Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Asset Management, memperkirakan rupiah masih akan berada di kisaran Rp 14.230 – Rp 14.250.  “Kecuali jika nanti malam ada ciutan mendadak dari Trump,” ujarnya.

Dalam memandang rupiah, Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, tampak lebih optimistis. Menurutnya, sentimen eksternal masih akan berpihak kepada rupiah. Rapat The Fed, yang akan berlangsung 18 – 19 Juni, diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan suku bunganya di level 2,25% - 2,50%.  “Untuk besok, rupiah akan kembali menguat ke level Rp 14.226 – Rp 14.270,” ujarnya.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…