Senin, 22 Juli 2019 | Jakarta, Indonesia

Kebutuhan AC dan Pemanasan Global

Edy Purnomo

Kamis, 13 Juni 2019 - 11:04 WIB

Kebutuhan akan Air Conditioner (AC) meningkat. Sumber: Istimewa
Kebutuhan akan Air Conditioner (AC) meningkat. Sumber: Istimewa
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kebutuhan terhadap alat pendingin ruangan bukan lagi sesuatu kemewahan. Bagi kaum urban, alat pendingin kini sudah menjadi kebutuhan. Mereka merasa alat pengatur suhu udara itu sangat penting untuk kesehatan.

Bank Dunia melaporkan, kenaikan suhu udara dapat mengurangi produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Hal ini  merupakan ancaman mendasar bagi kesejahteraan manusia. Pada 2017, 153 miliar jam kerja hilang karena panas. Panas ekstrem diperkirakan akan mengurangi PDB per kapita hingga 50%.

Meski air conditioner (AC) dapat membantu sebuah negara beradaptasi dengan kenaikan suhu, AC juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Kebutuhan kita pun akan meningkat. Penggunaan energi yang paling cepat berkembang di gedung-gedung di seluruh dunia dan dapat mengkonsumsi 40% dari sisa anggaran karbon kita selama 30 tahun ke depan.

Padahal, sebagian besar rumah tangga di negara-negara panas belum membeli AC. Dari  2,8 miliar orang yang tinggal di negara-negara dengan garis lintang rendah, hanya 8% yang memiliki AC. Tapi, kondisi itu berubah dengan cepat. World Bank Blogs melansir, penetrasi pasar AC terus meroket. Saat ini, jumlah AC yang beroperasi sekitar 1,6 miliar unit. Jumlah itu akan menjadi 5,6 miliar unit pada 2050 seiring dengan peningkatan pendapatan di negara-negara berkembang. Badan Energi Internasional memperkirakan, permintaan listrik akan meningkat tiga kali lipat.

Alat pendingin berkontribusi terhadap perubahan iklim dengan meningkatkan permintaan listrik. Sebagian besar, pasokan listrik masih dihasilkan dari bahan bakar fosil. Pemakaian listrik dan kebocoran zat pendingin ber untuk meningkatkan pemanasan global yang jauh lebih tinggi daripada emisi CO2.

Teknologi pendinginan saat ini bergantung pada gas berfluorinasi buatan manusia, atau gas F. Hal ini menyebabkan pemanasan sekitar 2.000-4.000 kali lebih banyak daripada setiap unit setara karbon dioksida. Jika dibiarkan tidak terkendali, gas-F saja dapat menyebabkan 20% dari polusi iklim pada tahun 2050.

Berdasarkan Protokol Montreal pada 1987, dunia membuat langkah besar dalam menghapus secara bertahap produksi dan konsumsi gas-F berbahaya seperti klorofluorokarbon (CFC) dan hidroklorofluorokarbon (HCFC). Dunia juga melakukan Amandemen Kigali pada  2016. Beberapa negara mulai menerapkan hidrofluorokarbon fase-down berikutnya  (HFC). Negara-negara mulai melarang penggunaan HFC dalam aplikasi tertentu seperti pendingin udara seluler.

Pabrikan AC beralih dari HFC penipisan ozon seperti R-410A (x2.000 sekuat CO2) ke refrigeran yang kurang berbahaya seperti R-32 (x675 kuat) dan R-290 (x3 kuat). Sebagian besar unit AC residensial yang dijual di Asia Tenggara sekarang menggunakan R-32 untuk pendinginan.  Satu perusahaan di India telah mengkomersialkan pendingin R-290 dan menjual sekitar 100.000 per tahun.

Meski demikian, kemajuan teknologi pendingin baru belum berkembang cepat. Selain itu, alternatif F-gas memiliki kelemahan utama yang membuatnya berbahaya untuk digunakan di daerah panas. Mereka sangat mudah terbakar dan dapat meledak pada suhu tinggi.

AC yang lebih efisien dengan refrigeran ramah lingkungan akan sangat penting untuk menyelesaikan krisis pendinginan dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Di Wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (MNA), Bank Dunia memberikan kontribusi penting untuk pekerjaan ini.

Negara-negara MNA sudah mengalami suhu tahunan rata-rata 1,5 ⁰C di atas tingkat pra-industri. Konsumsi energi final untuk pendinginan ruang di Timur Tengah telah meningkat lima kali lipat selama tiga dekade terakhir dari 25 TWh pada 1990 menjadi 125 TWh pada 2016.

Di Arab Saudi, sebuah proyek yang didukung oleh Dana Multilateral Protokol Montreal dan Bank Dunia menunjukkan pendingin udara yang cerdas. Proyek itu menawarkan enam prototipe pendingin udara komersial efisiensi tinggi. Alat ini menggunakan pendingin dengan potensi pemanasan global yang lebih rendah, mendukung desain, dan kelayakan pendingin skala besar. Secara efisien, alat ini dapat berjalan pada R-290 dan R-32 pada suhu 35 ⁰C, 46 ⁰C, dan 52 ⁰C.

Temuan dari proyek ini akan membantu negara-negara berkembang dengan kondisi suhu tinggi. Mereka bisa memahami kinerja dan penerapan refrigeran yang mudah terbakar. Ketika gelombang panas menjadi semakin umum, mahal, dan mematikan, ini adalah berita yang disambut baik. Pada 2018, panas ekstrem di musim panas di Jepang menyebabkan lebih dari 22.000 orang masuk rawat inap dan 80 kematian. Setidaknya, 65 orang tewas ketika suhu tetap di atas 40 ⁰C selama beberapa minggu di Pakistan dan India.  

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 13 jam yang lalu

Runway 3 Bandara Soetta Siap Beroperasi Pertengahan Agustus

Secara teknis Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) siap beroperasi pada pertengahan Agustus 2019.

Business 15 jam yang lalu

OJK Gelar Pertemuan Bilateral dengan Bank of Thailand

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan pertemuan bilateral dengan Bank of Thailand (BoT) di Bangkok, Jumat (19/7) dalam rangka penguatan kerja sama peran sektor jasa keuangan di kedua negara.

Business 21/07/2019 11:03 WIB

OJK Terus Pantau Upaya Mitigasi Bank Mandiri

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memonitor upaya mitigasi yang dilakukan oleh Bank Mandiri dalam mengatasi permasalahan teknologi informasi bank tersebut.

Business 20/07/2019 11:43 WIB

RUU Minerba Masuki Tahap Sinkronisasi

Pemerintah melanjutkan pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang perubahan atas Undang-Undang (UU) Tahun 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Business 20/07/2019 11:00 WIB

Bank Mandiri Jamin Uang Nasabah Aman

Bank Mandiri menjamin simpanan nasabah di bank itu aman. Bank pelat merah itu pun menyampaikan permohonan maaf terhadap ketidaknyamanan yang dialami nasabah terkait dengan perubahan saldo rekening. 

Business 20/07/2019 10:03 WIB

Compal Group Siap Investasi di Indonesia

Compal Group siap menggelontorkan dananya di Indonesia. Produsen elektronik yang akan masuk ke Indonesia itu  adalah salah satu produsen produk Apple seperti iPad dan iWatch.

Business 20/07/2019 09:27 WIB

Indonesia-China Bahas Hambatan Perdagangan

Indonesia dan China membahas hambatan perdagangan kedua negara. Pemerintah Indonesia mengharapkan China agar memberi kemudahan atas ekspor sarang burung walet, buah-buahan tropis seperti nanas, buah…

Money 19/07/2019 19:42 WIB

Ditopang Isu Penurunan Bunga The Fed

Rupiah dan indeks menguat setelah Presiden The Fed New York menyatakan bank sentral AS akan mengkas bunganya 25 bps. Penguatan ini akan berlanjut pekan depan.

Business 19/07/2019 18:35 WIB

Kepatuhan Aturan ULN Meningkat

Tingkat kepatuhan korporasi terhadap pemenuhan kegiatan penerapan prinsip kehati-hatian (KPPK) terus meningkat.

Money 19/07/2019 16:04 WIB

Lampung Jadi Salah Satu Penopang Bisnis Akseleran

Tahun ini fintech P2P Akseleran menargetkan penyaluran pinjaman sebesar Rp1 triliun kepada 2.000 pinjaman dan meraih sekitar 200 ribu lender dari Aceh hingga Papua