Rabu, 23 Oktober 2019 | Jakarta, Indonesia

Kebutuhan AC dan Pemanasan Global

Edy Purnomo

Kamis, 13 Juni 2019 - 11:04 WIB

Kebutuhan akan Air Conditioner (AC) meningkat. Sumber: Istimewa
Kebutuhan akan Air Conditioner (AC) meningkat. Sumber: Istimewa
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kebutuhan terhadap alat pendingin ruangan bukan lagi sesuatu kemewahan. Bagi kaum urban, alat pendingin kini sudah menjadi kebutuhan. Mereka merasa alat pengatur suhu udara itu sangat penting untuk kesehatan.

Bank Dunia melaporkan, kenaikan suhu udara dapat mengurangi produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Hal ini  merupakan ancaman mendasar bagi kesejahteraan manusia. Pada 2017, 153 miliar jam kerja hilang karena panas. Panas ekstrem diperkirakan akan mengurangi PDB per kapita hingga 50%.

Meski air conditioner (AC) dapat membantu sebuah negara beradaptasi dengan kenaikan suhu, AC juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Kebutuhan kita pun akan meningkat. Penggunaan energi yang paling cepat berkembang di gedung-gedung di seluruh dunia dan dapat mengkonsumsi 40% dari sisa anggaran karbon kita selama 30 tahun ke depan.

Padahal, sebagian besar rumah tangga di negara-negara panas belum membeli AC. Dari  2,8 miliar orang yang tinggal di negara-negara dengan garis lintang rendah, hanya 8% yang memiliki AC. Tapi, kondisi itu berubah dengan cepat. World Bank Blogs melansir, penetrasi pasar AC terus meroket. Saat ini, jumlah AC yang beroperasi sekitar 1,6 miliar unit. Jumlah itu akan menjadi 5,6 miliar unit pada 2050 seiring dengan peningkatan pendapatan di negara-negara berkembang. Badan Energi Internasional memperkirakan, permintaan listrik akan meningkat tiga kali lipat.

Alat pendingin berkontribusi terhadap perubahan iklim dengan meningkatkan permintaan listrik. Sebagian besar, pasokan listrik masih dihasilkan dari bahan bakar fosil. Pemakaian listrik dan kebocoran zat pendingin ber untuk meningkatkan pemanasan global yang jauh lebih tinggi daripada emisi CO2.

Teknologi pendinginan saat ini bergantung pada gas berfluorinasi buatan manusia, atau gas F. Hal ini menyebabkan pemanasan sekitar 2.000-4.000 kali lebih banyak daripada setiap unit setara karbon dioksida. Jika dibiarkan tidak terkendali, gas-F saja dapat menyebabkan 20% dari polusi iklim pada tahun 2050.

Berdasarkan Protokol Montreal pada 1987, dunia membuat langkah besar dalam menghapus secara bertahap produksi dan konsumsi gas-F berbahaya seperti klorofluorokarbon (CFC) dan hidroklorofluorokarbon (HCFC). Dunia juga melakukan Amandemen Kigali pada  2016. Beberapa negara mulai menerapkan hidrofluorokarbon fase-down berikutnya  (HFC). Negara-negara mulai melarang penggunaan HFC dalam aplikasi tertentu seperti pendingin udara seluler.

Pabrikan AC beralih dari HFC penipisan ozon seperti R-410A (x2.000 sekuat CO2) ke refrigeran yang kurang berbahaya seperti R-32 (x675 kuat) dan R-290 (x3 kuat). Sebagian besar unit AC residensial yang dijual di Asia Tenggara sekarang menggunakan R-32 untuk pendinginan.  Satu perusahaan di India telah mengkomersialkan pendingin R-290 dan menjual sekitar 100.000 per tahun.

Meski demikian, kemajuan teknologi pendingin baru belum berkembang cepat. Selain itu, alternatif F-gas memiliki kelemahan utama yang membuatnya berbahaya untuk digunakan di daerah panas. Mereka sangat mudah terbakar dan dapat meledak pada suhu tinggi.

AC yang lebih efisien dengan refrigeran ramah lingkungan akan sangat penting untuk menyelesaikan krisis pendinginan dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Di Wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (MNA), Bank Dunia memberikan kontribusi penting untuk pekerjaan ini.

Negara-negara MNA sudah mengalami suhu tahunan rata-rata 1,5 ⁰C di atas tingkat pra-industri. Konsumsi energi final untuk pendinginan ruang di Timur Tengah telah meningkat lima kali lipat selama tiga dekade terakhir dari 25 TWh pada 1990 menjadi 125 TWh pada 2016.

Di Arab Saudi, sebuah proyek yang didukung oleh Dana Multilateral Protokol Montreal dan Bank Dunia menunjukkan pendingin udara yang cerdas. Proyek itu menawarkan enam prototipe pendingin udara komersial efisiensi tinggi. Alat ini menggunakan pendingin dengan potensi pemanasan global yang lebih rendah, mendukung desain, dan kelayakan pendingin skala besar. Secara efisien, alat ini dapat berjalan pada R-290 dan R-32 pada suhu 35 ⁰C, 46 ⁰C, dan 52 ⁰C.

Temuan dari proyek ini akan membantu negara-negara berkembang dengan kondisi suhu tinggi. Mereka bisa memahami kinerja dan penerapan refrigeran yang mudah terbakar. Ketika gelombang panas menjadi semakin umum, mahal, dan mematikan, ini adalah berita yang disambut baik. Pada 2018, panas ekstrem di musim panas di Jepang menyebabkan lebih dari 22.000 orang masuk rawat inap dan 80 kematian. Setidaknya, 65 orang tewas ketika suhu tetap di atas 40 ⁰C selama beberapa minggu di Pakistan dan India.  

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…

Money 24/07/2019 17:02 WIB

Penantian Yang Masih Panjang

Modal asing diperkirakan akan terus ke luar dari BEI sampai rapat FOMC usai. Makanya, indeks dan rupiah kemungkinan baru akan menguat pekan depan.

Business 24/07/2019 15:17 WIB

Mendag Resmikan ITPC Shanghai

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meresmikan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Shanghai yang merupakan pusat promosi Indonesia pertama di China, Senin (22/7/2019).

Money 24/07/2019 14:45 WIB

Semester I, Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga

Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulan Juli menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan pada semester I-2019 dalam kondisi terjaga, sejalan dengan kinerja intermediasi sektor…

Global 24/07/2019 14:13 WIB

Huawei Siap Tambah Investasi USD436 Juta

Huawei Technologies Co Ltd  berencana untuk berinvestasi tiga miliar yuan (USD 436 juta) selama lima tahun ke depan.

Business 24/07/2019 13:40 WIB

Kemenperin Jaring Pelaku Industri Ikuti Hannover Messe 2020

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai menjaring pelaku industri untuk menjadi peserta Hannover Messe 2020.