Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Belum Ada Kabar Baik

Bambang Aji Setiady

Kamis, 13 Juni 2019 - 18:07 WIB

dolar
dolar
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kalau melihat indeks harga saham gabungan (IHSG), gejolak yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) boleh dibilang tidak terlalu mengkhawatirkan. Sebab, jika dilihat dari penutupan pasar hari ini (Kamis, 13/6), indeks hanya turun 3,09 poin (0,05%) ke level 6.273,08. Persoalannya, banyak yang meramalkan melemahnya pergerakan indeks masih akan berlangsung di hari-hari ke depan.

Maklum, Wall Street yang menjadi kiblat bursa dunia juga menunjukkan perilaku yang sama. Kini indeks Dow Jones dan Nasdaq tidak melonjak-lonjak lagi seperti sebelumnya. Bahkan Rabu kemarin, kedua indeks tersebut masing-masing turun 0,17% dan 0,38%. Inilah yang mendorong mayoritas bursa di Asia kompak melemah hari ini. Indeks Nikkei 225, misalnya, turun 0,46%. Penurunan juga dialami indeks Kospi (0,27%) dan Hang Seng (0,05%).

Ada pun pelemahan bursa Wall Street sendiri dipicu oleh anjloknya harga minyak yang mencapai 4%. Dengan harga minyak yang semakin murah, pelaku pasar kian yakin The Fed akan memangkas tingkat bungannya dua kali sampai akhir tahun. Spekulasi inilah yang mendorong pelemahan saham-saham energi dan perbankan di bursa AS. Nah, koreksi yang melanda bursa dunia itu kemudian dimanfaatkan investor di BEI untuk melakukan aksi profit taking.

Lanjar Nafi, Analis Reliance Sekuritas, memperkirakan pelemahan indeks masih akan berlanjut esok hari (14/6). Perang dagang AS – China yang semakin memanas telah mendorong sebagian investor di dunia mencari jalan aman. Mereka menarik modalnya bukan hanya dari BEI tapi juga hampir di seluruh dunia. “Unjuk rasa di Hong Kong dan ancaman AS untuk mengenakan tarif baru pada produk-produk Jerman juga ikut menekan bursa,” ujar Lanjar.

Berdasarkan kondisi itulah, Lanjar memprediksi besok indeks akan bergerak di rentang 6.200 – 6.229. Namun tak semua analis bersikap pesimistis. William Surya Wijaya, contohnya. Menurut Analis Indosurya Bersinar Sekuritas ini, secara umum indeks masih memiliki potensi untuk menguat kembali. “Fase konsolidasi segera terlewati, capital inflow akan mendongkrak IHSG,” ujarnya.

Jika di bursa masih ada sedikit harapan penguatan, tidak demikian halnya dengan pasar uang. Tak bisa disangkal lagi, memanasnya hubungan dagang AS – China membuat pasar global cenderung melakukan aksi pemindahan dana dari high risk country ke low risk country. Kebetulan, investor di bursa melakukan aksi profit taking.  Alhasil, pada hari ini (13/6) nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,27% ke level Rp 14.280 per dolar.

Faisyal, Analis Monex Investindo Futures, termasuk tidak terlalu yakin rupiah bakal menunjukkan taringnya dalam waktu dekat. Soalnya, rencana BI memangkas suku bunga acuan bakal memangkas margin investasi di surat utang negara (SUN). Sehingga dikhawatirkan akan memicu ternjadinya pelarian dana. Padahal, selama Mei, cadangan devisa RI sudah berkurang US$ 4 miliar.

“Bila data produksi China buruk, ini juga akan menjadi sentimen negatif bagi rupiah,” ujar Faisyal.

Yang mencemaskan lagi, pembelian dolar diduga masih akan berlangsung hari-hari ini karena kelihatannya asing masih akan melakukan profit taking atas saham-saham yang dikepitnya. Minimnya sentimen positif inilah yang membuat pemilik uang semakinenjoy menenteng dolar. Faisyal memperkirakan, Jum’at besok nilai tukar rupiah berpotensi melemah di rentang Rp 14.210 – Rp 14.330 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…