Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Tergantung Angin dari Luar

Bambang Aji Setiady

Rabu, 19 Juni 2019 - 18:55 WIB

Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
Dolar AS dan Rupiah (Foto: Dok. Review)
A A A

Majalahreviewweekly.com - Diprediksi sepi, nyatanya indeks harga saham gabungan (IHSG) masih melaju cukup kencang. Setelah Selasa kemarin berhasil naik 1,08%, maka hari ini Rabu (19/6) indeks kembali menguat 81,93 poin (1,31%) ke level 6.339,26. Menguatnya indeks, otomatis, ikut menyokong otot rupiah. Seperti kita saksikan bersama, hari ini kurs rupiah di pasar spot menguat 0,39% ke level Rp 14.269 per dolar.

Salah satu faktor utama yang menjadi pemicu kegairahan di pasar adalah munculnya sentimen positif bahwa Presiden China Xi Jinping akhirnya bersedia bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di KTT G 20 di Osaka, Jepang, pekan depan. Selain itu, rencana pelonggaran moneter oleh European Central Bank (ECB) dan Reserve Bank of Australia (RBA) juga telah mendorong meningkatnya pamor saham, obligasi, dan harga komoditas.

Di luar itu, ada satu faktor lainnya yang juga ikut menggairahkan bursa. Apakah itu? Muncul spekulasi bahwa The Fed bakal mengikuti jejak ECB dan sejumlah bank sentral lainnya. “Pemangkasan suku bunga pada pekan ini memang masih mustahil. Tapi banyak investor yang percaya, pemangkasan suku bunga akan dilakukan The Fed akhir Juli atau September depan,” ujar Steven Skancke, Chief Economic Adviser Keel Poin, kepada Reuters.

Gegap gempita dalam menyambut kabar baik itu tak hanya terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI), tapi juga di sejumlah bursa Asia. Lihat saja, hari ini indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing menguat 1,93% dan 1,74%. Begitu pun dengan indeks Kospi Korea dan ASX 200 Australia yang menguat 1,24% dan 1,19%. Seperti dilansir Reuters, bursa Asia menguat karena para investor berspekulasi The Fed bakal mengikuti langkah ECB.

Lantas, apa yang akan Kamis besok? Setelah indeks menguat cukup tajam dalam dua hari, memang, tampak ada keragu-raguan dari kalangan analis dalam memberikan prediksi. Ini bisa dimaklumi. Sebab, lazim terjadi, penguatan yang tajam biasanya diikuti oleh aksi profit taking. Dan ini merupakan sesuatu yang wajar. Hanya saja, penurunan indeks belum akan terjadi dalam waktu dekat. Sejumlah analis menduga, besok IHSG masih akan menguat.

Bukan hanya indeks saham, penguatan juga kemungkinan terjadi pada nilai tukar rupiah. “Sentimen eksternal yang positif bakal mendorong penguatan rupiah untuk perdagangan Kamis besok,” ujar Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka. Betul, pekan ini The Fed diduga belum akan memangkas suku bunganya. Tapi pasar begitu yakin, pada saatnya bank sentral AS itu bakal mengikuti langkah ECB. Nah, sinyal dovish dari sejumlah bank sentral inilah yang akan mendukung penguatan rupiah.

BI pun diduga belum akan memangkas suku bunganya. Apalagi, Selasa kemarin, harga minyak kembali menggeliat. Minyak jenis Wes Texas Intermedia untuk kontrak Juli, misalnya, naik US$ 4,16 ke level US$  54,16 per barel. Sehingga, jika harga si emas hitam terus merangkak naik, dikhawatirkan akan memicu inflasi dan meningkatkan permintaan dolar. Pembayaran gaji apartur sipil negara (ASN) ke-13 di bulan Juli juga berpotensi akan mengerek tingkat inflasi.

Selain kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi, masih ada kecemasan dari otoritas moneter akan kemungkinan terjadinya pelarian dana. Makanya, kendati banyak tekanan untuk segera mengerek turun bunga acuannya, BI tampaknya tidak akan bertindak serampangan. “Apalagi BI telah bertekad untuk menyehatkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI),” ujar Ibrahim. Berdasarkan perkiraan tersebut, ia meramalkan Kamis besok kurs rupiah akan berada di kisaran support Rp 14.220  hingga Rp 14.308 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…