Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Mudah-mudahan AS Tak Menyerang Iran

Bambang Aji Setiady

Jumat, 21 Juni 2019 - 18:59 WIB

Rupiah
Rupiah
A A A

Majalahreviewweekly.com - Perpisahan antara nilai tukar rupiah dengan indeks harga saham gabungan (IHSG), kini semakin nyata. Mereka tak mau lagi berjalan beriringan. Lihat saja, ketika rupiah mampu menguat selama dua hari berturut-turut, indeks malah semakin loyo. Seperti yang terjadi hari ini (Jum’at, 21/6), nilai tukar rupiah di pasar spot mencatat penguatan 28 poin (0,2%) ke level 14.155 per dolar. Sementara  IHSG justru anjlok sebesar 20,26 poin (0,32%) ke level 6.315,44.

Ada beberapa faktor yang membuat indeks menjadi tak bertenaga. Salah satunya, tentu saja, lantaran The Fed  dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI tidak jadi memangkas suku bunga acuan. Sementara di dalam negeri, keperkasaan indeks dihantam oleh aksi jual (profit taking) investor lokal. Memang, IHSG tidak tergelincir sendirian. Hari ini, hampir sebagian besar bursa di Asia juga melemah dipicu oleh meningkatnya ketegangan AS – Iran.

Seperti dilaporkan New York Times, Presiden AS Donald Trump telah menyetujui serangan militer terhadap Iran pada hari ini (Jum’at). Meski AS batal menyerang negeri para Mullah, namun efeknya langsung terasa di bursa saham. Maklum, serangan itu bisa mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah, terutama ke kawasan Asia Timur. Makanya, jangan heran bila hari ini indeks Nikkei 225 Jepang serta Kospi Korea langsung melemah  0,95% dan 0,27%.

Selain meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, pasar juga kini kembali dihadapkan pada kondisi menunggu. Dan yang dinanti-nanti masih yang itu-itu juga, yakni rencana pertemuan antara Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada KTT G 20 di Osaka, Jepang, pekan depan. Ada yang memperkirakan, pertemuan dua pemimpin negara adidaya itu tak akan menghasilkan kesepakatan apa-apa.

Kalau perkiraan itu benar-benar terjadi, maka dipastikan  gairah bertransaksi di bursa saham akan semakin sepi. Tapi, nanti dulu,  itu baru ramalan yang bernada pesimistis. Sebab, ada juga pelaku pasar yang menduga sebaliknya. Menurut mereka, pertemuan Trump dengan Jinping merupakan “pemanasan” bagi perundingan dagang AS – China yang sempat terhenti  selama satu bulan.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang AS – China diperkirakan masih akan menentukan perdagangan di bursa pekan depan.  “Pengiriman pasukan AS ke Timur Tengah telah mencemaskan pasar. Jika ketegangan berlanjut, pasokan minyak akan terganggu,” ujar Andian, Analis PT Monex Investindo Futures. Ia menduga, harga minyak berpeluang menuju level US$ 58,20 per barel.

Meski dipenuhi ketidakpastian, ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan investor untuk memetik gain. Janeman Latul, misalnya. Research Analyst PT Deutche Verdhana Sekuritas Indonesia ini merekomendasikan saham batu bara. Saham ini dipilih lantaran kenaikan harga minyak bakal mendongkrak harga batu bara. Begitu pun, dalam jangka panjang, akan terjadi defisit pasokan batu bara pada 2020 – 2021.

Kendati beberapa analis merekomendasikan sejumlah saham, namun mereka sepakat bahwa pekan depan IHSG  belum akan bergerak kemana-mana dengan potensi untuk melemah cukup besar. Nah, sedikit banyak, pelemahan di bursa saham ini akan mempengaruhi nilai tukar. Mata uang RI, yang hari ini ditutup menguat, terancam loyo kembali. Apalagi jika data neraca perdagangan RI ternyata masih  jeblog.

Namun Fikri C. Permata, Ekonom Pefindo, punya pandangan lain. Menurutnya, efek pernyataan dovish The Fed dan sejumlah bank sentral masih akan berlanjut pekan depan. Tak lupa, naiknya peringkat utang RI juga berpeluang mendorong minat investor terhadap lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang rencananya akan digelar pekan depan. Atas dasar itulah, Fikri memperkirakan pekan depan rupiah masih akan menguat di kisaran Rp 13.900 – Rp 14.200 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…