Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Waspadai Ancang-ancang Asing

Bambang Aji Setiady

Senin, 24 Juni 2019 - 17:47 WIB

Ilustrasi saham turun oleh AReview Design
Ilustrasi saham turun oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Indikator ekonomi terkadang tidak dipedulikan oleh para pemain saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Lihat saja, meskipun neraca perdagangan bulan Mei berhasil mencatat surplus US$ 210 juta, toh perdagangan saham tetap saja lesu. Di awal pekan ini (Senin, 24/6), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,43% ke level 6.288,46.

Masih seperti pekan kemarin, penurunan indeks kali ini pun lebih didorong oleh faktor eksternal. Seperti pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di KTT G 20 akhir Juni ini serta meningkatnya ketegangan AS dengan Iran. Ketidakpastian semakin menebal setelah AS kembali memasukkan empat perusahaan serta satu lembaga penelitian China dalam daftar hitam (blacklist).

Seperti yang dikenakan terhadap Huawei Tecknologies Co, maka perusahaan dan lembaga asal China itu juga dilarang membeli perangkat lunak dan komponen dari perusahaan AS. Itulah yang membuat investor khawatir perang dagang AS - China akan makin memanas. Sehingga, pasar pun bergoncang oleh aksi jual yang dilakukan para pemodal. “Begitu ada momentum negatif, investor memanfaatkannya untuk melakukan aksi profit taking,” ujar Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas.

Aksi ambil untung diperkirakan akan berlanjut Selasa esok. Sebab, belum ada kabar baik yang bisa mengangkat indeks. Betul, secara fundamental, perekonomian RI nyaris tidak bermasalah. Neraca perdagangan, misalnya, akhirnya mampu mencatat surplus. Pendapatan negara di bulan Mei juga masih tumbuh 6,2% secara year on year. Hanya perkara inflasi di bulan Mei yang perlu diwaspadai pasar.

Herditya memprediksi, Selasa besok (25/6) indeks masih akan bergerak lemah di kisaran 6.220 - 6.390. “IHSG masih akan melanjutkan koreksinya dan dimungkinkan sekaligus menutup sisa gap,” ujarnya. Perkiraan serupa juga datang dari Lanjar Nafi. Analis dari Reliance Sekuritas ini memproyeksikan IHSG akan berada di level 6.210 - 6.307.

Nah, belum ada kabar baik itulah yang mendorong para analis untuk kembali menyarankan agar investor bermain pendek. Naiknya tensi AS - Iran bisa dijadikan “tunggangan”, sehingga saham-saham komoditi menjadi menarik untuk dimainkan. Pilihan Lanjar, antara lain, efek ADRO (Adaro Energy) dan BFIN (BFI Finance Indonesia).

Kalau melihat ramalan kalangan analis, masih ada peluang bagi investor untuk mengail gain. Namun, sekali lagi, pemodal harus ekstra hati-hati terhadap aksi profit taking. Sebab, berbeda dengan pekan lalu, hari ini investor asing mulai membukan penjualan bersih Rp 101 miliar lebih. Bila investor asing sudah menganggap saatnya memetik gain, maka koreksi terhadap IHSG tak bisa dihindari lagi.

Tak hanya terhadap indeks, aksi yang dilakukan investor asing juga bisa mengancam nilai tukar rupiah yang pada hari berhasil menguat tipis 0,06% ke level Rp 14.147 per dolar. Sebab, dana asing yang masuk ke pasar kebanyak merupakan hot money yang bisa ke luar masuk setiap saat. “Kebetulan, hari ini (Senin) dana asing di pasar saham lebih banyak yang ke luar ketimbang yang masuk,” ujar Ahmad Mikail, Ekonom Samuel Sekuritas.

Meningkatnya tensi AS - Iran juga bisa menjadi ancaman serius bagi rupiah. Maklum, gara-gara meningkatnya ketegangan geopolitik di Teluk Oman dan Selat Hormuz, hari ini harga minyak kembali melesat hingga di atas US$ 58 per barel. Karena itu, untuk perdagangan Selasa besok, Ahmad memperkirakan rupiah akan cenderung melemah di kisaran Rp 14.200 - Rp 14.220 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…