Kamis, 19 September 2019 | Jakarta, Indonesia

Meredakan Trump dan Jinping

Edy Purnomo

Jumat, 28 Juni 2019 - 12:22 WIB

Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRT Xi Jinping. Ilustrasi oleh AReview Design
Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRT Xi Jinping. Ilustrasi oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 Negara (G20), banyak mata tertuju pada sosok Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Dua sosok ini menjadi pusat perhatian menyusul meningkatnya tensi sengketa dagang antarkedua negara.

Dalam beberapa kesempatan, Trump menyatakan ingin berbicara dengan Xi Jinping di sela-sela acara tahunan itu.  Keinginan yang sama juga dilontarkan kan Xi Jinping. Kedua pempimpin negara besar itu sama-sama mengaku memiliki kartu untuk meredakan ketegangan.

Meski begitu, pertemuan yang direncanakan di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019), itu tidak menjamin perselisihan perdagangan antara AS dan China segera berakhir. Para pelaku bisnis terus mencermati berbagai kemungkinan yang bakal terjadi ke depan. Mereka harus menyiapkan skenario bisnis bila kedua negara berdamai. Sebaliknya, mereka juga harus mengantisasi kemungkinan terburuk.

Kedua pemimpin itu kemungkinan tidak akan mudah untuk menemukan kata sepakat dalam waktu singkat. Sebab, persoalan perdagangan kedua negara cukup rumit dan meruncing. Persoalan itu bukan sekadar masalah tarif tapi juga masalah harga diri kedua negara.

Penyelesaian konflik ini juga menjadi pertaruhan bagi Donald Trump yang akan bertarung lagi dalam ajang pemilihan presiden AS pada 2020. Bila salah melangkah, Trump akan menjadi bulan-bulanan penantangnya dari Partai Demokrat.

Selama ini, Trump sering melontarkan jargon politik yang penuh retorika. Di depan publik, dia sering tampil menyerang. 
Untuk menyelesaikan perang dagang dengan China, Trump menyatakan siap memperjuangkan hak-hak pebisnis AS demi merebut kembali potensi keuntungan yang bernilai miliaran dolar AS. Untuk itu, ia akan mengurangi model bisnis dengan mitra dagang yang merugikannya.

Sebaliknya, Beijing juga bersumpah untuk berjuang sampai akhir. Usulan Trump bukan menghasilkan win-win solution bagi kedua pihak. Melihat ego masing-masing pihak, para pelaku bisnis sangat berharap pertemuan kedua pemimpin yang sedang berseteru mampu menghasilkan kesepakatan positif.

Keduanya diharapkan bisa menghasilkan terobosan untuk membuka kebuntuan saat ini. Kabarnya, kedua negara sudah menyiapkan kesepakatan tentatif untuk mencegah perang tarif. Bila ini terjadi, pasar keuangan global berpotensi untuk bangkit kembali. Beberapa kalangan menyebutkan kedua pihak sudah menyiapkan skenario untuk gencatan senjata. Meski belum pasti, kabar itu cukup memunculkan harapan baru di kalangan investor.

Para investor dan pelaku bisnis begitu mengkhawatirkan perang dagang AS dan China berkepanjangan. Situasi itu akan menciptakan fragmentasi pasar global dan komunitas dunia menjadi dua blok besar.

Para pelaku bisnis tidak sepenuhnya mengikuti genderang perang yang ditabuh Donald Trump. Buktinya, banyak negara sekutu AS yang mengabaikan permintaan Trump untuk menjauhi Huawei. Buktinya, banyak negara yang tetap mesra denganperusahaan raksasa telokomunikasi dari China itu. Huawei pun tetap meluncurkan proyek jaringan 5G di sejumlah negara sekutu AS seperti Inggris.

Kita tidak menafikan hukum besi yang dilakukan Trump bakal memukul dunia bisnis. Sikap AS yang ingin memisahkan dunia dari teknologi China justru berisiko tinggi. Bisa-bisa, AS lah yang akan terisolasi dari dunia global. Keinginan AS itu juga bisa merusak kemampuan negara itu untuk berinovasi.

Menyikapi hal itu, saatnya kedua pemimpin untuk melonggarkan syarat yang hanya menunjukkan kemenangan sepihak dan merugikan pihak lain. Kita tentu berharap kedua negara mampu mengembalikan ekonomi global bangkit lagi.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…