Senin, 22 Juli 2019 | Jakarta, Indonesia

Meredakan Trump dan Jinping

Edy Purnomo

Jumat, 28 Juni 2019 - 12:22 WIB

Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRT Xi Jinping. Ilustrasi oleh AReview Design
Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRT Xi Jinping. Ilustrasi oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 Negara (G20), banyak mata tertuju pada sosok Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Dua sosok ini menjadi pusat perhatian menyusul meningkatnya tensi sengketa dagang antarkedua negara.

Dalam beberapa kesempatan, Trump menyatakan ingin berbicara dengan Xi Jinping di sela-sela acara tahunan itu.  Keinginan yang sama juga dilontarkan kan Xi Jinping. Kedua pempimpin negara besar itu sama-sama mengaku memiliki kartu untuk meredakan ketegangan.

Meski begitu, pertemuan yang direncanakan di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019), itu tidak menjamin perselisihan perdagangan antara AS dan China segera berakhir. Para pelaku bisnis terus mencermati berbagai kemungkinan yang bakal terjadi ke depan. Mereka harus menyiapkan skenario bisnis bila kedua negara berdamai. Sebaliknya, mereka juga harus mengantisasi kemungkinan terburuk.

Kedua pemimpin itu kemungkinan tidak akan mudah untuk menemukan kata sepakat dalam waktu singkat. Sebab, persoalan perdagangan kedua negara cukup rumit dan meruncing. Persoalan itu bukan sekadar masalah tarif tapi juga masalah harga diri kedua negara.

Penyelesaian konflik ini juga menjadi pertaruhan bagi Donald Trump yang akan bertarung lagi dalam ajang pemilihan presiden AS pada 2020. Bila salah melangkah, Trump akan menjadi bulan-bulanan penantangnya dari Partai Demokrat.

Selama ini, Trump sering melontarkan jargon politik yang penuh retorika. Di depan publik, dia sering tampil menyerang. 
Untuk menyelesaikan perang dagang dengan China, Trump menyatakan siap memperjuangkan hak-hak pebisnis AS demi merebut kembali potensi keuntungan yang bernilai miliaran dolar AS. Untuk itu, ia akan mengurangi model bisnis dengan mitra dagang yang merugikannya.

Sebaliknya, Beijing juga bersumpah untuk berjuang sampai akhir. Usulan Trump bukan menghasilkan win-win solution bagi kedua pihak. Melihat ego masing-masing pihak, para pelaku bisnis sangat berharap pertemuan kedua pemimpin yang sedang berseteru mampu menghasilkan kesepakatan positif.

Keduanya diharapkan bisa menghasilkan terobosan untuk membuka kebuntuan saat ini. Kabarnya, kedua negara sudah menyiapkan kesepakatan tentatif untuk mencegah perang tarif. Bila ini terjadi, pasar keuangan global berpotensi untuk bangkit kembali. Beberapa kalangan menyebutkan kedua pihak sudah menyiapkan skenario untuk gencatan senjata. Meski belum pasti, kabar itu cukup memunculkan harapan baru di kalangan investor.

Para investor dan pelaku bisnis begitu mengkhawatirkan perang dagang AS dan China berkepanjangan. Situasi itu akan menciptakan fragmentasi pasar global dan komunitas dunia menjadi dua blok besar.

Para pelaku bisnis tidak sepenuhnya mengikuti genderang perang yang ditabuh Donald Trump. Buktinya, banyak negara sekutu AS yang mengabaikan permintaan Trump untuk menjauhi Huawei. Buktinya, banyak negara yang tetap mesra denganperusahaan raksasa telokomunikasi dari China itu. Huawei pun tetap meluncurkan proyek jaringan 5G di sejumlah negara sekutu AS seperti Inggris.

Kita tidak menafikan hukum besi yang dilakukan Trump bakal memukul dunia bisnis. Sikap AS yang ingin memisahkan dunia dari teknologi China justru berisiko tinggi. Bisa-bisa, AS lah yang akan terisolasi dari dunia global. Keinginan AS itu juga bisa merusak kemampuan negara itu untuk berinovasi.

Menyikapi hal itu, saatnya kedua pemimpin untuk melonggarkan syarat yang hanya menunjukkan kemenangan sepihak dan merugikan pihak lain. Kita tentu berharap kedua negara mampu mengembalikan ekonomi global bangkit lagi.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 6 jam yang lalu

Stainless Steel Indonesia Kena Bea Anti Dumping di China

China akan mengenakan bea impor baru bagi berbagai produk stainless steel dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China sebagai tanggapan atas…

Business 6 jam yang lalu

Kontrak Kerja Sama WK Corridor Diperpanjang

Kontrak Bagi Hasil WK Corridor akan berlaku untuk 20 tahun, efektif sejak tanggal 20 Desember 2023 dan menggunakan skema Gross Split.

Business 9 jam yang lalu

Pertamina Libatkan Tim Asal AS Tangani Kebocoran Sumur Migas

Pertamina melibatkan berbagai pihak yang kredibel, kompeten dan berpengalaman dalam menangani munculnya gelembung gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java…

Business 9 jam yang lalu

Pemerintah Akan Lelang 7 Ruas Jalan Tol Senilai Rp151,13 Triliun

Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan tol dengan mendorong pendanaan dari investasi sektor swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pembangunan jalan tol diperlukan…

Business 13 jam yang lalu

Pegatron Mulai Operasikan Pabriknya di Batam

Pegatron telah menambah investasi sebesar USD40 juta untuk membangun pabrik di Batam.

Business 13 jam yang lalu

Runway 3 Bandara Soetta Siap Beroperasi Pertengahan Agustus

Secara teknis Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) siap beroperasi pada pertengahan Agustus 2019.

Business 15 jam yang lalu

OJK Gelar Pertemuan Bilateral dengan Bank of Thailand

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan pertemuan bilateral dengan Bank of Thailand (BoT) di Bangkok, Jumat (19/7) dalam rangka penguatan kerja sama peran sektor jasa keuangan di kedua negara.

Business 21/07/2019 11:03 WIB

OJK Terus Pantau Upaya Mitigasi Bank Mandiri

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memonitor upaya mitigasi yang dilakukan oleh Bank Mandiri dalam mengatasi permasalahan teknologi informasi bank tersebut.

Business 20/07/2019 11:43 WIB

RUU Minerba Masuki Tahap Sinkronisasi

Pemerintah melanjutkan pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang perubahan atas Undang-Undang (UU) Tahun 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Business 20/07/2019 11:00 WIB

Bank Mandiri Jamin Uang Nasabah Aman

Bank Mandiri menjamin simpanan nasabah di bank itu aman. Bank pelat merah itu pun menyampaikan permohonan maaf terhadap ketidaknyamanan yang dialami nasabah terkait dengan perubahan saldo rekening.