Kamis, 14 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Masih Ada Ketidakpastian

Edy Purnomo

Selasa, 02 Juli 2019 - 15:22 WIB

Donald Trump Vox
Donald Trump Vox
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kondisi ekonomi global yang sempat memanas sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump berjanji tidak akan mengenakan tarif tambahan baru terhadap produk-produk dari China. Para pelaku pasar kembali menatap masa depan dengan optimisme.

Akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China X Jinping sepakat untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan kedua negara. Setidaknya, kesepakatan itu bisa mengurangi sentimen negatif di pasar keuangan global. Meski begitu, pasar tetap mewaspadai kemungkinan ekonomi global bakal memanas lagi.

Para pelaku pasar sangat mengharapkan hasil yang baik dari pembicaraan kedua pemimpin negara besar itu. Kesepakatan yang baik diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar keuangan dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Indonesia juga sangat berkepentingan terhadap hal itu. Terlebih lagi, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih sulit untuk beranjak dari 5,1%. Salah satu penyebabnya adalah konflik dagang antara Amerika Serikat dan China.

Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia memproyeksikan Indonesia baru bisa bertumbuh 5,2% pada 2020. Proyeksi ini didukung oleh konsumsi swasta yang terus meningkat karena inflasi tetap rendah dan pasar tenaga kerja kuat. Selain itu, posisi fiskal cukup kuat sehingga memungkinkan pemerintah lebih banyak beronvestasi termasuk menggarap proyek infrastruktur baru dan melakukan rekonstruksi di Lombok dan Palu setelah bencana alam.

Meski demikian, kita perlu mewaspadai peringatan Bank Dunia, yaitu meningkatnya risiko terhadap proyeksi pertumbuhan Indonesia. Hal itu terkait eskalasi ketegangan global yang dapat membebani perdagangan dunia.

Indonesia tampaknya belum bisa berharap banyak terhadap pemulihan ekonomi global. Meski ketegangan antara AS dan China sedikit mereda, kita belum melihat konflik perdagangan kedua negara mencapai titik akhir. Bank sentral AS, The Fed, pun tampaknya belum tergesa untuk menurunkan suku bunga.

Kalau pun kondisi pasar keuangan beberapa hari ini berada di zona hijau, kondisi itu lebih disebabkan spekulasi dari pelaku pasar. Mereka mencoba untuk bersikap optimistis terhadap masa depan perdagangan AS dan China. Yang pasti sekarang adalah masih ada ketidakpastian. Kedua China dan AS masih terkendala banyak hal untuk bersepakat. Hingga kini, kedua negara belum menetapkan mekanisme yang disepakati untuk mengakhiri perselisihan.

Penuturan Mari Elka Pangestu, guru besar ekonomi internasional di Universitas Indonesia, layak untuk disimak. Dia mengingatkan, ketidakpastian dapat menjadi risiko penurunan yang paling luar biasa saat ini.

Ketidakpastian akan menunda keputusan investasi dan meningkatkan biaya bisnis. Pada akhirnya, konsumen akhirnya akan membayar untuk itu. Tetapi, setidaknya beberapa kekhawatiran jangka pendek telah sedikit mereda. Akhir pekan lalu, Trump dan Jinping mampu menyenangkan  menyenangkan komunitas bisnis. Meski belum final, sikap kedua pemimpin itu merupakan skenario terbaik.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…