Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Cadangan Naik, Rupiah Menguat

Bambang Aji Setiady

Jumat, 05 Juli 2019 - 18:24 WIB

saham
saham
A A A

Majalahreviewweekly.com - Ada yang tak lazim di pasar uang hari ini. Biasanya, di akhir pekan, nilai tukar rupiah cenderung melemah. Maklum, orang lebih suka pegang dolar untuk berjaga-jaga dari rugi kurs selama week end. Apalagi, hari ini (Sabtu pagi, WIB), pemerintah AS akan merilis data ketenagakerjaan bulan Juni yang angkanya diprediksi lebih baik ketimbang bulan sebelumnya.

Tapi hari ini (5/7) tidak begitu. Seusai sholat Ju’mat, tiba-tiba saja pembelian rupiah langsung menguat. Alhasil, nilai tukar rupiah di pasar spot pun mampu terkerek ke level Rp 14.083 atau naik 52 poin (0,37%) dibandingkan Kamis kemarin. Ini benar-benar mengejutkan. Bukan hanya karena di luar perkiraan para analis, tapi hari ini rupiah juga tidak mengikuti pergerakan mayoritas mata uang Asia.  

Ada beberapa faktor yang membuat rupiah berotot. Tapi yang utamanya adalah pengumuman Perry Warjiyo, Gubernur BI, bahwa cadangan devisa bulan Juni naik US$ 3,5 miliar menjadi US$ 123,8 miliar. “Kenaikan cadangan devisa tersebut terutama disebabkan oleh penarikan utang luar negeri pemerintah dan penerimaan devisa migas,” ujar Perry.

Cadangan devisa sebesar itu, menurut Perry, bisa menutupi kebutuhan 7,1 bulan impor dan pembayaran utang jangka pendek pemerintah. Selain itu, tambahan cadangan devisa juga bisa digunakan untuk memfasilitasi likuiditas dolar perbankan. Tapi yang lebih penting, tambahan  devisa tersebut membuat tekanan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kuratal II menjadi berkurang. “Perkiraan kami, CAD tidak akan melampaui 3% dari PDB,” ujar Perry.

Ah, syukurlah. Tapi, jangan bertenang hati dulu. Sebab, penguatan rupiah ini sifatnya sementara. Kemungkinan rupiah kembali tertekan, seperti yang terjadi Kamis kemarin, masih cukup besar. Maklum, yang menjadi pahlawan bagi rupiah masih yang itu-itu juga, yakni masuknya modal asing yang sejak awal tahun hingga 4 Juli lalu telah mencapai Rp 170,1 triliun. Nah, sebagian dari dana asing tersebut berupa hot money yang bisa pergi kapan saja.

Dan kemungkinan terjadinya capital flight cukup besar. Soalnya, jika rilis data ketenagakerjaan AS bulan Juni ternyata cukup baik, maka peluang The Fed memangkas suku bunganya di akhir bulan ini jadi berkurang. Kalau itu yang terjadi, rupiah diperkirakan akan melemah Senin depan (8/7) “Sebaliknya, jika rilis data ketenagakerjaan AS lebih buruk dari ekspektasi pasar, rupiah berpotensi melanjutkan penguatannya di pekan depan,” ujar Ahmad Yudiawan, Analis Monex Investindo Futres.

Pandangan serupa juga dikemukakan Nafan Aji Gusta, Analis Binaartha Sekuritas. Hanya saja, untuk jangka pendek, Nafan memperkirakan nilai tukar rupiah cenderung melemah. “Secara teknikal, ada potensi dolar bakal menguat terhadap rupiah,” ujarnya. Sedang Ahmad memperkirakan pekan depan nilai tukar rupiah relatif stabil dan akan bergerak di rentang Rp 14.000 - Rp 14.200 per dolar.

Rasa was-was kemungkinan terjadinya capital flight juga sudah tampak pada pelaku di pasar modal. Maklum, kendati dari dalam negeri ada sokongan sentimen positif dari rilis cadangan devisa RI, toh hari ini investor asing justru mencatatkan penjualan bersih (net sell) Rp 150,08 miliar. Makanya, indeks harga saham gabungan (IHSG) pun melemah tipis 2,49 poin (0,04%) ke level 6.373,48.

Namun, terlepas dari soal kemungkinan terjadinya capital flight, pelemahan indeks hari ini sebenarnya belum bisa dijadikan batokan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai ditinggalkan investor asing. Buktinya, pada pekan ini indeks masih naik 0,23%. Bahkan sepanjang tahun berjalan mampu menguat 2,89%. Itu sebabnya, Dennis Christoper, Analis Artha Sekuritas, optimistis IHSG masih bakal menguat tipis pekan depan. “Ditopang oleh sinyal penurunan bunga The Fed dan cadangan devisa RI,” ujarnya.

Tapi, seperti yang dikemukakan Nafan Aji, karena saat ini sudah banyak saham unggulan yang kemahalan, maka dalam jangka pendek IHSG akan terkoreksi dulu. “Ada potensi koreksi secara wajar,” ujarnya. Ia memperkirakan, pekan depan indeks bakal konsolidasi dan berada di rentang 6.240 - 6.465.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…