Kamis, 14 Desember 2017

Derita Tiada Akhir

kerusuhan di venezuela - WFAE

Derita Tiada Akhir

Oleh: Nikita Jagad - Senin 26 Desember 2016 | 18:09 WIB

Artikel Terkait

Diperkirakan penderitaan rakyat Venezuela masih akan berlangsung lama. Pemerintah harus berjuang ekstrakeras unk mengatasinya.

Sebelumnya, tak ada yang menyangka Venezuela, sebuah negara kaya minyak di kawasan Amerika Latin, akan mengalami krisis yang begitu dahsyat. Itu, salah satunya, disebabkan oleh anjloknya harga minyak dunia, dari di atas US$ 100 ke US$ bawah US$ 35 per barel. Makanya, tidak mengherankan jika Presiden Venezuela Nicolas Maduro setuju dengan Iran untuk menyerukan pertemuan puncak kepala negara dari negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan negara bukan anggota pada kuartal pertama di tahun depan.

Maduro menyerukan hal itu untuk memutuskan mengenai strategi pasar minyak. Sejauh ini, harga minyak dunia masih berada di level yang rendah dan sejumlah negara terus berharap agar harga minyak dunia bisa kembali menguat. Adapun pelemahan harga minyak dunia karena adanya kelebihan pasokan minyak.

“Mari kita bersama-sama menyerukan pertemuan puncak OPEC Presiden, kepala negara, dan pemerintah di kuartal pertama 2017 untuk membangun mekanisme baru pasar dan harga minyak. Kami sepakat untuk melakukan itu dengan mengundang negara bukan anggota dan Presiden Putin,” kata Maduro, dua pekan lalu.

Namun sayangnya, Maduro, yang komentarnya ditanggapi oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Tentu menjadi pertanyaan mengenai apa saja yang akan dibahas dalam pertemuan yang diusulkan itu, apakah mengenai besaran pemangkasan produksi atau lain sebagainya.

Sebelumnya, hanya lima dari 14 produsen minyak bukan anggota OPEC yang telah sepakat untuk memenuhi kesepakatan mengenai pemangkasan produksi, yang sudah diputuskan sebelumnya. Ada keraguan apakah OPEC akan meminta pemotongan penuh atau tidak.

OPEC akhirnya menyepakati untuk penurunan produksi minyak pertamanya dalam delapan tahun di beberapa waktu lalu yang dilakukan guna menopang harga minyak dunia yang sekarang ini berada di level rendah. OPEC mengadakan pembicaraan dengan negara-negara bukan anggota OPEC di Wina dengan harapan mereka juga akan membatasi pasokan.

Negara-negara bukan anggota OPEC terakhir kali bergabung dengan kesepakatan dari organisasi itu dalam memotong produksi yakni pada akhir 2001. Hal itu dikarenakan adanya penurunan harga setelah serangan 11 September, dengan negara bukan anggota berjanji memotong sebanyak 462.000 barel per hari.

Akankah pertemuan yang direncanakan awal tahun nanti membuahkan hasil? Kita lihat saja nanti. Yang jelas, menukiknya harga minyak dunia telah menyebabkan Venezuela (dan negara lainnya yang mengandalkan komoditas ini, menjadi keteteran.

Padahal, di masa jayanya, negara seperti Venezuela dikenal sebagai negeri yang makmur.  Negeri itu memiliki sumber minyak bumi dan gas alam yang sangat berlimpah.

LENGKAP SUDAH

Besarnya cadangan minyak bumi menempatkan Venezuela menjadi salah satu anggota negara pengekspor minyak (OPEC). Kekayaan itu pula yang membuat Venezuela masuk dalam kategori negara berpendapatan tinggi (high-income country).

Menurut data yang termuat dalam the United Nations Statistical Division, Venezuela memiliki populasi penduduk sebanyak 30.8 juta jiwa pada 2013. Di tahun tersebut, Venezuela mencatatkan Gross Domestic Product (GDP) sebesar US$ 371.34 milliar (data.un.org).

Melimpahnya persediaan minyak bumi (dengan cadangan 295 miliar barel) membuat negara ini menikmati keuntungan besar dari hasil penjualan minyak mentah di pasar global. Era kejayaan tersebut dirasakan Venezuela sejak periode 1970’an hingga pertengahan 2008.

Delapan tahun pertama kepemimpinan Presiden Hugo Chavez, yakni antara 1998-2006, mencatatkan pembangunan sosial-ekonomi domestik yang signifikan, ditandai dengan membaiknya beberapa indikator ekonomi.  Seperti hasil eksporr minyak mentah  yang berkontribusi hingga 50% dari total Gross Domestic Product (GDP). Bahkan besaran GDP pernah meningkat sampai dengan 95% pada periode tersebut.

Kemudian  angka kemiskinan pun menurun cukup signifikan, dari 49% menjadi 33.1%, dengan kemiskinan ekstrim menyusut dari 25.5% menjadi 10.2%. Di sektor kesehatan terjadi penurunan angka kematian bayi dari 12.5 kematian/1,000 kelahiran di 1998 menjadi 10 kematian/1,000 kelahiran pada 2006. Bidang pendidikan mencapai kenaikan tingkat melek huruf (literacy) hingga 95%, atau setara dengan 1.1 juta penduduk. Pun tingkat pengangguran menurun dari 13.9% menjadi 10% dari total populasi penduduk.

Namun  pertengahan 2008 terjadi krisis ekonomi global yang melanda hampir seluruh negara di dunia, tak terkecuali Venezuela. Setelah menikmati masa keemasan dan stabilitas politik-ekonomi, negeri ini terguncang hebat akibat merosotnya harga minyak mentah dan melemahnya laju perekonomian global. Bisa dikatakan bahwa mulai pertengahan 2008, Venezuela memasuki halaman pertama resesi ekonomi.

Sebagai catatan, pada periode tersebut harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 50%, yang semula berkisar di angka US$ 130/barrel merosot hingga menjadi US$ 64/barrel, bahkan di tahun 2015 harga minyak mentah dunia pernah menyentuh level terendah di kisaran US$ 28/barrel.

Anjloknya harga minyak mentah dunia menyingkap fakta bahwa fundamental ekonomi Venezuela ternyata sangat rapuh. Pertumbuhan ekonomi pada 2010 menukik hingga minus 6.2% dan sedikit membaik menjadi minus 1.2 % pada 2011.

Angka pengangguran pun melonjak hingga lebih dari 60%. Seiring dengan itu, nilai mata uang Bolivar sehingga menurunkan daya beli masyarakat.

Masalah lain yang membelit negara ini adalah tingginya angka korupsi. Menurut laporan Transparency International, indeks korupsi Venezuela pada 2015 berada di angka 17, menempatkannya di peringkat 158 dari 167 negara (Transparency International, Corruption Perceptions Index 2015).

Selain korupsi, tindak kejahatan yang masif terjadi di Venezuela adalah penyelundupan dan perdagangan narkotika. Disamping masalah ekonomi, Venezuela juga mengalami konflik politik dalam negeri yang berkepanjangan, terutama sepeninggal Presiden Hugo Chavez (2013) yang kemudian digantikan penerusnya, Nicolas Maduro.

Maka lengkaplah penderitaan yang dialami rakyat Venezuela. Entah, sampai kapan.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 19 September 2016 | 05:00 WIB
Kawan Lama Beli Waralaba

Grup Kawan Lama menghadirkan Cupbop, untuk menambah bisnis food and beverage (F&B) melalui pembelian hak waralaba…

Rabu 21 Oktober 2015 | 19:08 WIB
Meja Panas Renegosiasi

Setiap tahun, negara ini rugi ratusan triliunan rupiah karena tidak berhasil memungut royalti dari 37 perusahaan tambang…

Senin 05 Oktober 2015 | 22:04 WIB
Supaya Besar dan Kuat

BUMN sektor pelabuhan akan digabung menjadi satu. Tujuannya agar menjadi pemain kelas dunia.

Rabu 20 September 2017 | 12:31 WIB
Taring Antidumping Sudah Perlu

Langkah pemerintah menyelamatkan neraca transaksi berjalan dari defisit yang sudah berlangsung sejak tahun 2011, kini kembali…

Senin 30 Mei 2016 | 19:57 WIB
Bikin Saja yang Kecil

Salah satu solusi untuk mengurangi impor minyak adalah dengan membangun kilang minyak mini di berbagai daerah.