Senin, 22 Juli 2019 | Jakarta, Indonesia

Awas Koreksi

Bambang Aji Setiady

Rabu, 10 Juli 2019 - 18:30 WIB

Ilustrasi saham turun oleh AReview Design
Ilustrasi saham turun oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kali ini para analis di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuat melongo. Mereka benar-benar tak menyangka kalau perdagangan yang berlangsung Rabu ini (10/7) begitu atraktif. Walhasil, di penghujung perdagangan, indeks harga saham gabungan mampu menembus level 6.400. Tepatnya 6.410,68 atau menguat 0,35% dibanding Selasa kemarin.

Terus mengalirnya dana asing serta aksi beli oleh investor terhadap saham-saham unggulan, ditenggarai menjadi pemicu melonjaknya indeks. Rilis data pertumbuhan PDB Inggris bulan Juli serta pertumbuhan manufacturing product Inggris, yang diprediksi akan lebih baik ketimbang Juni lalu, juga mendorong minat investor melakukan aksi beli. Sehingga, ya itu tadi, indeks pun kembali menanjak.

Meskipun indeks naik, namun dari volume transaksi sebenarnya sudah mulai menipis. Menurut sejumlah analis, terbatasnya nilai transaksi di bursa ini disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di depan anggota Komisi Keuangan Publik AS yang menyita perhatian pasar. Dari pidato itu pasar bisa mengira-ngira arah kebijakan The Fed ke depan.

Lalu, Kamis pagi ini (WIB) akan keluar rilis risalah lengkap (minutes) Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung 9 - 10 Juni lalu. Notulesi rapat FOMC banyak ditunggu orang yang ingin tahu alasan The Fed mempertahankan tingkat bunganya di level 2,25% - 2,50%. Pasar juga menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Kanada.

Meski volume transaksi menciut, William Surya Wijaya, Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas, masih optimistis indeks akan naik Kamis besok. Dengan catatan, tidak ada kabar buruk dari AS. Jika pidato Powell bernada hawkish atau netral, kemungkinan investor asing bakal angkat koper dan indeks pun terancam melemah. “Tapi sampai saat ini potensi penguatannya masih besar,” ujar William.

Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas, juga punya pandangan yang serupa. Meski cenderung terbatas, menurutnya, indeks masih berpeluang menguat. “Apalagi ada kabar negosiasi dagang AS - China akan dimulai lagi,” ujarnya. Herditya memprediksi, indeks akan akan bergerak di rentang support 6.330 dan resistance 6.430. Sementara saham yang perlu dicermati oleh investor adalah saham-saham dari sektor industri dasar dan properti.

Tak hanya di bursa, pidato Powell juga tengah dinanti oleh pelaku pasar uang. Gara-gara aksi menunggu, hari ini, kurs rupiah di pasar spot  melemah 0,01% ke level Rp 14.131 per dolar. Dari perhitungan Lana Soelistianingsih, ekonom Samuel Asset Management, rupiah berpeluang melanjutkan pelemahan ke level support 14.080 dan resistance Rp 14.180. “Itu secara teknikal. Kalau dari sentimen pasar, kita harus mendengar pernyataan Powell,” ujar

Memang, pada akhirnya, suku bunga The Fed ikut menentukan kurs rupiah. Nah, dari perkembangan data ekonomi AS, seperti membaiknya angka non-farm payroll, peluang The Fed memangkas suku bunganya sebesar 0,50% di akhir bulan ini tampaknya semakin kecil. Namun, dengan tingkat upah yang terus menurun, sebagian pelau pasar masih meyakini suku bunga acuan The Fed bakal turun 0,25%.

Kian tipisnya harapan penurunan suku bunga The Fed itulah yang menyebabkan kurs rupiah bakal kembali tertekan. Lana memperkirakan, Rabu besok rupiah akan berada di kisaran support Rp14.100 dan level resistance Rp14.150 per dolar. “Outlok kami cenderung twice, karena tergantung pernyataan Powell. Kalau tak ada pernyataan apa-apa, rupiah cenderung melemah karena dari dalam negeri tidak ada sentimen yang berarti,” ujar Lana.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 6 jam yang lalu

Stainless Steel Indonesia Kena Bea Anti Dumping di China

China akan mengenakan bea impor baru bagi berbagai produk stainless steel dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China sebagai tanggapan atas…

Business 7 jam yang lalu

Kontrak Kerja Sama WK Corridor Diperpanjang

Kontrak Bagi Hasil WK Corridor akan berlaku untuk 20 tahun, efektif sejak tanggal 20 Desember 2023 dan menggunakan skema Gross Split.

Business 9 jam yang lalu

Pertamina Libatkan Tim Asal AS Tangani Kebocoran Sumur Migas

Pertamina melibatkan berbagai pihak yang kredibel, kompeten dan berpengalaman dalam menangani munculnya gelembung gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java…

Business 10 jam yang lalu

Pemerintah Akan Lelang 7 Ruas Jalan Tol Senilai Rp151,13 Triliun

Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan tol dengan mendorong pendanaan dari investasi sektor swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pembangunan jalan tol diperlukan…

Business 13 jam yang lalu

Pegatron Mulai Operasikan Pabriknya di Batam

Pegatron telah menambah investasi sebesar USD40 juta untuk membangun pabrik di Batam.

Business 14 jam yang lalu

Runway 3 Bandara Soetta Siap Beroperasi Pertengahan Agustus

Secara teknis Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) siap beroperasi pada pertengahan Agustus 2019.

Business 15 jam yang lalu

OJK Gelar Pertemuan Bilateral dengan Bank of Thailand

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan pertemuan bilateral dengan Bank of Thailand (BoT) di Bangkok, Jumat (19/7) dalam rangka penguatan kerja sama peran sektor jasa keuangan di kedua negara.

Business 21/07/2019 11:03 WIB

OJK Terus Pantau Upaya Mitigasi Bank Mandiri

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memonitor upaya mitigasi yang dilakukan oleh Bank Mandiri dalam mengatasi permasalahan teknologi informasi bank tersebut.

Business 20/07/2019 11:43 WIB

RUU Minerba Masuki Tahap Sinkronisasi

Pemerintah melanjutkan pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang perubahan atas Undang-Undang (UU) Tahun 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Business 20/07/2019 11:00 WIB

Bank Mandiri Jamin Uang Nasabah Aman

Bank Mandiri menjamin simpanan nasabah di bank itu aman. Bank pelat merah itu pun menyampaikan permohonan maaf terhadap ketidaknyamanan yang dialami nasabah terkait dengan perubahan saldo rekening.