Kamis, 14 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Awas Koreksi

Bambang Aji Setiady

Rabu, 10 Juli 2019 - 18:30 WIB

Ilustrasi saham turun oleh AReview Design
Ilustrasi saham turun oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kali ini para analis di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuat melongo. Mereka benar-benar tak menyangka kalau perdagangan yang berlangsung Rabu ini (10/7) begitu atraktif. Walhasil, di penghujung perdagangan, indeks harga saham gabungan mampu menembus level 6.400. Tepatnya 6.410,68 atau menguat 0,35% dibanding Selasa kemarin.

Terus mengalirnya dana asing serta aksi beli oleh investor terhadap saham-saham unggulan, ditenggarai menjadi pemicu melonjaknya indeks. Rilis data pertumbuhan PDB Inggris bulan Juli serta pertumbuhan manufacturing product Inggris, yang diprediksi akan lebih baik ketimbang Juni lalu, juga mendorong minat investor melakukan aksi beli. Sehingga, ya itu tadi, indeks pun kembali menanjak.

Meskipun indeks naik, namun dari volume transaksi sebenarnya sudah mulai menipis. Menurut sejumlah analis, terbatasnya nilai transaksi di bursa ini disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di depan anggota Komisi Keuangan Publik AS yang menyita perhatian pasar. Dari pidato itu pasar bisa mengira-ngira arah kebijakan The Fed ke depan.

Lalu, Kamis pagi ini (WIB) akan keluar rilis risalah lengkap (minutes) Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung 9 - 10 Juni lalu. Notulesi rapat FOMC banyak ditunggu orang yang ingin tahu alasan The Fed mempertahankan tingkat bunganya di level 2,25% - 2,50%. Pasar juga menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Kanada.

Meski volume transaksi menciut, William Surya Wijaya, Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas, masih optimistis indeks akan naik Kamis besok. Dengan catatan, tidak ada kabar buruk dari AS. Jika pidato Powell bernada hawkish atau netral, kemungkinan investor asing bakal angkat koper dan indeks pun terancam melemah. “Tapi sampai saat ini potensi penguatannya masih besar,” ujar William.

Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas, juga punya pandangan yang serupa. Meski cenderung terbatas, menurutnya, indeks masih berpeluang menguat. “Apalagi ada kabar negosiasi dagang AS - China akan dimulai lagi,” ujarnya. Herditya memprediksi, indeks akan akan bergerak di rentang support 6.330 dan resistance 6.430. Sementara saham yang perlu dicermati oleh investor adalah saham-saham dari sektor industri dasar dan properti.

Tak hanya di bursa, pidato Powell juga tengah dinanti oleh pelaku pasar uang. Gara-gara aksi menunggu, hari ini, kurs rupiah di pasar spot  melemah 0,01% ke level Rp 14.131 per dolar. Dari perhitungan Lana Soelistianingsih, ekonom Samuel Asset Management, rupiah berpeluang melanjutkan pelemahan ke level support 14.080 dan resistance Rp 14.180. “Itu secara teknikal. Kalau dari sentimen pasar, kita harus mendengar pernyataan Powell,” ujar

Memang, pada akhirnya, suku bunga The Fed ikut menentukan kurs rupiah. Nah, dari perkembangan data ekonomi AS, seperti membaiknya angka non-farm payroll, peluang The Fed memangkas suku bunganya sebesar 0,50% di akhir bulan ini tampaknya semakin kecil. Namun, dengan tingkat upah yang terus menurun, sebagian pelau pasar masih meyakini suku bunga acuan The Fed bakal turun 0,25%.

Kian tipisnya harapan penurunan suku bunga The Fed itulah yang menyebabkan kurs rupiah bakal kembali tertekan. Lana memperkirakan, Rabu besok rupiah akan berada di kisaran support Rp14.100 dan level resistance Rp14.150 per dolar. “Outlok kami cenderung twice, karena tergantung pernyataan Powell. Kalau tak ada pernyataan apa-apa, rupiah cenderung melemah karena dari dalam negeri tidak ada sentimen yang berarti,” ujar Lana.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…