Kamis, 22 Agustus 2019 | Jakarta, Indonesia

Terimakasih Powell

Bambang Aji Setiady

Kamis, 11 Juli 2019 - 18:31 WIB

Bei IDX
Bei IDX
A A A

Majalahreviewweekly.com - Penantian pasar terhadap sikap The Fed, akhirnya terjawab juga. Di depan kongres AS, Rabu kemarin, Jerome Powell memberi sinyal bahwa Fed Fund Rate kemungkinan akan dipangkas dalam waktu dekat. Perang dagang AS - China serta meredupnya perekonomian dunia telah membuat ekonomi AS tertekan. Seperti dikutip Reuters, di pertemuan itu Gubernur The Fed mengatakan suku bunga yang lebih rendah dapat meredam guncangan perang dagang.

Gairah para pelaku pasar langsung menggelegak. Gegap gempita dalam menyambut pernyataan  Powell tampak di Efek Indonesia (BEI). Lihat saja, transaksi yang terjadi pada Kamis ini (11/7). Saham yang berpindahtangan mencapai 18,25 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp9,3 triliun. Investor asing sepertinya tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ini terlihat dari aksi ambil beli bersih (net buy) investor asing yang mencapai Rp866,52 miliar.

Betul, pergerakan indeks cenderung menurun di sesi II akibat banyak investor yang melakukan aksi profit taking. Aksi ambil untung oleh investor terlihat pada transaksi beberapa saham, seperti saham PT Yanaprima Hastapersada (INCF). Pada awal perdagangan, INCF masih dihargai Rp256 per saham. Tapi ketika investor melakukan aksi ambil untung, harga INCF pun langsung terhempas ke level Rp192 per lembar atau melemah sekitar 25% %.

Tapi, syukurlah, IHSG masih mampu menguat 6,38 poin (0,1%) ke level 6.417,07. Dan tak hanya di Jakarta, kemeriahan juga terjadi di sejumlah bursa Asia. Di bursa Tokyo, misalnya, indeks Nikkei 225 dan Topix masing-masing naik 0,51% dan 0,47%. Bahkan di Hongkong, indeks Hang Seng menguat 0,81% seiring naiknya optimisme penurunan bunga The Fed.

Yang kini menjadi pertanyaan para pelaku pasar, setelah hiruk pikuk menyambut sinyal penurunan  suku bunga The Fed, akan seperti apa tampang bursa di kawasan Asia Jum’at besok? Sejumlah analis memperkirakan pasar akan kembali sepi. Apalagi, menjelang week end, biasanya investor lebih suka pegang uang ketimbang saham. “Besok indeks bakal bergerak sideway,” ujar seorang analis.

Namun tak sedikit analis yang yakin bahwa indeks masih akan melanjutkan penguatan. Salah satunya adalah Kiswoyo Adi Joe, Kepala Riset Narada Kapital. “Besok masih bullish, didukung berlanjutnya sentimen The Fed,’ ujarnya. Ia memprediksi, besok indeks akan bergerak di rentang support 6.350 dan resistance di level 6.500.

Artinya, peluang untuk memancaing gain di bursa belum habis. Kiswoyo merekomendasikan beberapa saham, kendati bebarapa di antaranya sudah mengalami kenaikan harga yang signifikan. Saham-saham yang masih pantas dilirik investor esok hari adalah HM Sampoerna (HMSP), Envy Technologies Indonesia (ENVY) dan Unilever (UNVR).

Jika di bursa indeks masih berpeluang menguat, lantas bagaimana dengan mata uang RI? Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, menduga rupiah masih akan kembali menguat. Jika BI tidak melakukan intervensi, Jum’at besok nilai tukar rupiah akan menguat di rentang Rp14.030 - Rp14.130 per dolar. “Faktor sentimen global masih akan mendukung penguatan rupiah esok hari,” ujarnya.

Kemungkinan BI melakukan intervensi, memang cukup masuk akal. Sebab, hari ini kurs rupiah di pasar spot ditutup di level Rp14.067 per dolar atau menguat 0,45% dibandingkan Rabu kemarin. Penguatan ini sebenarnya tak semata-mata faktor Powell. Menurut Ibrahim, membaiknya data PDB Inggris juga punya andil terhadap penguatan mata uang RI.

Nah, jika besok rupiah kembali menguat, bukan mustahil mata uang RI itu akan terdorong ke bawah Rp14.000. Seperti biasa, BI tentu tidak menginginkan pernguatan atau pelemahan rupiah terjadi begitu cepat. Apalagi, menurut perhitungan otoritas moneter, secara fundamental nilai rupiah mestinya berada di kisaran Rp14.200 - Rp14.400 per dolar.

Jadi, ya, untuk sementara ini kondisi nilai tukar rupiah boleh dibilang masih di jalur aman. Tapi Reny Eka Putri, Analis Pasar Uang Bank Mandiri, mengingatkan agar pelaku pasar uang tetap waspada. “Rupiah bisa melemah bila ada pejabat The Fed yang bilang suku bunga tak jadi turun,” katanya.

Benar juga. Sebab, Powell hanyalah satu dari tujuh anggota Dewan Gubernur The Fed. Artinya, bisa saja mayoritas anggota dewan menolak kebijakan pemangkasan suku bunga yang diusulkan Powell. Tapi Reny tetap optimistis, besok rupiah masih akan menguat di rentang Rp14.035 - Rp14.125 per dolar. “Apalagi pasar memprediksi neraca perdagangan (dirilis pekan depan) bakal surplus,” ujarnya.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…