Kamis, 14 Desember 2017

Mainan Baru Bagi Investor Kakap

(WordPress.com)

Mainan Baru Bagi Investor Kakap

Oleh: Bastaman - Senin 02 Januari 2017 | 18:22 WIB

Bahana akan menerbitkan reksa dana dengan underlying asset proyek 10 destinasi wisata. Produk ini cocok buat investor yang punya dana berlebih.

Arif Yahya paham betul bahwa derasnya dana institusi yang masuk ke sejumlah portfolio investasi tak boleh dilewatkan begitu saja. Makanya, tanpa menunggu waktu lama, Menteri Pariwisata itu langsung menitahkan PT Bahana TCW Investment Management untuk segera menerbitkan reksa dana pariwisata. Jika tak ada aral melintang, reksa dana penyertaan terbatas itu akan dirilis di triwulan I.

Produk investasi ini sebenarnya agak mirip dengan discretionary fund, yang sama-sama mensyaratkan modal besar. Hanya saja, pada discretionary fund, keputusan memilih keranjang investasi berada di tangan investor. Nah, pada reksa dana penyertaan terbatas, uang investor akan diputar di sektor riil. “Dananya digunakan untuk mengembangkan sejumlah tempat wisata,” ujar Soni Wibowo, Direktur PT Bahana TCW Investment Managemen.

Lantas, jika pada discretionary fund MI mengincar investor individu bermodal besar, maka pada reksa dana pariwisata ini investor institusilah yang menjadi target utama. Soni mengaku, saat ini ada beberapa investor institusi yang telah menyatakan minatnya membiakan dananya di produk reksa dana yang underlying asset-nya berupa 10 destinasi wisata yang akan dikembangkan pemerintah.

Untuk tahap awal, Bahana TCW Investment Managemen menargetkan dana kelolaan hingga Rp 1 triliun. “Apabila  tahap bertama sukses, barulah dilanjutkan ke tahap berikutnya,” ujar Soni.   Ada pun 10 destinasi wisata yang ditawarkan kepada para investor meliputi Mandalika, Labuan Bajo, Pulau Morotai, Tanjung Kelayang, Taman Nasional Wakatobi, Danau Toba, Pantai Tanjung Lesung, Gunung Bromo, Candi Borobudur, serta Kepulauan Seribu.

Asal tahu saja, ke-10 destinasi wisata tersebut memang disiapkan pemerintah untuk menjadi “Bali baru” dalam empat tahun ke depan. Sehingga, pada 2019, diharapkan Indonesia mampu menarik 20 juta wisatawan dari mancanegara. Untuk merealisasikan target tersebut,  pemerintah berencana membangun berbagai sarana infrastruktur seperti pelabuhan udara, jalan, hingga pelabuhan.

Bisa untung, bisa buntung

Pengembangan obyek wisata Danau Toba, Sumatera Utara, mungkin bisa jadi contoh. Setelah pembangunan bandara Silangit di Siborong-borong, Tanpuli Utara, pemerintah berencana membangun jalan tol sepanjang 130 km dari Medan menuju kawasan wisata Danau Toba. Pemerintah juga akan membangun jalan lingkar dalam Pulau Samosir, jalan lingkar luar Pulau Samosir, jalan raya Kualanamu – Parapat, serta jalan raya menuju Simbolga.

Hal itulah yang membuat Soni hakulyakin reksa dana wisata yang akan diterbitkan perusahannya bakal laris manis. Apalagi, menurut catatan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (ARDI), sejumlah korporasi dalam negeri banyak yang memutar duitnya di private equity fund di luar negeri. Artinya, potensi dana yang bisa diraup Bahana masih sangat besar.

Seperti reksa dana pada umumya yang mengandalkan underlying asset  berupa instrument pasar modal, pada reksa dana pariwisata ini investor juga bisa menikmati return yang tinggi dan bisa juga sebaliknya alias merugi. Sebab, bisa saja obyek wisata yang didanai mangkrak atau tidak jalan. Itu sebabnya, pemilihan proyek juga sangat mempengaruhi penjualan reksa dana penyertaan terbatas ini.

Sayang, Soni masih menutup rapat-rapat proyek yang akan didanai Bahana. Tapi jika proyek yang didanai berupa proyek komersial, besar kemungkinan tingkat return yang dinikmati investor reksa dana wisata akan  besar. Bahkan, Soni optimistis return yang dihasilkan bisa melebihi reksa dana yang menggunakan underlying asset instrument pasar modal. “Reksa dana pariwisata bisa memberikan return sekitar 12% sampai 15% per tahun,” ujarnya.

Menarik, memang. Hanya saja, ya itu tadi, modal yang harus disiapkan investor tergolong besar. Sesuai aturan OJK, investasi minimal di reksa dana penyertaan terbatas dipatok sebesar Rp 5 miliar untuk setiap unit penyertaan. Selain itu, berbeda dengan reksa dana umum, investor tidak bebas untuk menjual atau membeli reksa dana penyertaan terbatas ini. “Investor yang ingin melepas reksa dana ini harus menunggu calon pembeli,” ujar Jemmy Paul Wawointana, Direktur Investasi Sucorinvest Asset Magement.

Jangka waktu investasi juga relatif panjang, bisa mencapai 10 tahun. Oleh sebab itu, menurut Jemmy, investasi jangka panjang macam ini hanya cocok bagi institusi yang memang memiliki dana berlebih. “Kalau dananya pas-pasan, resiko likuiditas akan terus membayangi investor,” ujarnya. Di samping itu, investor juga harus yakin betul bahwa MI memiliki tenaga professional yang akhli dalam hal direct investmen di sektor rill.

Namun, selama mampu memberikan keuntungan yang tinggi, Jemmy yakin reksa dana wisata akan mampu memikat investor. “Selama return yang dijanjikan menarik, seharusnya produk ini bakal laku di pasaran,” ujarnya.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 27 Pebruari 2017 | 11:26 WIB
Jonan Harap Freeport Tak Alergi Dengan Kewajiban Divestasi Saham

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan berharap PT Freeport Indonesia (PTFI) tidak alergi dengan…

Selasa 27 September 2016 | 19:10 WIB
Hillary Unggul, Bursa Meriah

  Hillary mampul mengungguli Trump dalam debat capres Amerika.  Bursa di kawasan Asia pun langsung semarak,…

Senin 02 Mei 2016 | 21:42 WIB
Surat Pembaca Edisi 35-V

Saya bangga ketika membaca sebuah artikel bahwa kita pernah jadi eksportir gula terbesar di dunia. Katanya, itu terjadi…

Kamis 22 Oktober 2015 | 12:56 WIB
Pengampunan

Entah kenapa, belakangan ini, para wakil rakyat kita yang berkantor di Senayan, sering membuat keputusan yang 'mengejutkan'.

Kamis 04 Agustus 2016 | 17:31 WIB
Besok Masih Ada Harapan

Sejumlah pelaku pasar yakin, indeks masih akan menguat. Ada sejumlah sentimen positif untuk mengapai level 5.400.…