Minggu, 20 Oktober 2019 | Jakarta, Indonesia

Ironi Industri Baja

Edy Purnomo

Senin, 15 Juli 2019 - 08:00 WIB

Industri Baja. Sumber: Istimewa
Industri Baja. Sumber: Istimewa
A A A

Majalahreviewweekly.com - Kerugian PT Krakatau Steel selama tujuh tahun berturut-turut menyedot banyak perhatian. Pada 2018, perusahaan terbuka berkode KRAS itu masih merugi USD74,82 juta atau sekitar Rp1 triliun, turun dibandingkan 2017 yang kerugiannya  mencapai sebesar USD81,74 juta.

Mengapa badan usaha milik negara (BUMN) bisa rugi ketika pemerintah begitu gencar membangun infrastruktur? Bukankah proyek itu membutuhkan pasokan baja dalam jumlah besar?

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebut Krakatau Steel kalah bersaing dengan produk China. Dia membandingkan, harga produksi baja China hanya USD400 per ton, sedangkan harga produksi baja Indonesia mencapai USD600 juta per ton. Menurut Wapres, China bisa lebih efisien karena menggunakan teknologi modern. Sebaliknya, Krakatau steel teknologi lama.

Benarkah Krakatau Steel kalah bersaing hanya karena menggunakan teknologi lama? Kalau itu yang terjadi, mengapa Tata Steel, produsen baja terbesar dunia, bisa bangkrut?

Banyak kalangan sepakat bahwa kebangkrutan produsen baja di berbagai belahan dunia karena dihantam produk baja China. Produk baja dari negeri Tirai Bambu itu membanjiri pasar dunia dengan harga murah.

Mengapa China mampu menjual baja dengan harga murah? Laporan Usha C.V. Haley dan George T. Hal layak disimak. Harvard Business Review melansir laporan itu Juni 2008, jauh sebelum beberapa produsen baja di dunia berguguran.

Banyak yang berasumsi bahwa keunggulan industri manufaktur China berasal dari tenaga kerja murah. Asumsi itu salah. Penelitian terhadap industri baja China menunjukkan, biaya murah itu bersumber dari subsidi energi pemerintah yang besar, bukan faktor-faktor lain. Subsidi itu memiliki implikasi luas terhadap persaingan bisnis.

Pada 2005, Pemerintah China menetapkan baja sebagai pilar industri bagi ekonomi negeri itu. Saat itu, China sudah menjadi produsen baja terbesar di dunia, dengan total produksi mencapai 27% dari produksi global.

Hingga 2005, China masih  mengimpor 29 juta ton baja setiap tahun. Pada tahun yang sama, China mulai berubah dari negara importir menjadi negara eksportir baja. Bahkan, pada 2006, China menjadi pengekspor baja terbesar di dunia.

Hingga kini, China tetap menjadi konsumen dan produsen baja terbesar di dunia. Sebanyak 50% total produksi baja di dunia berasal dari China. Dari total produksi baja dunia 2018 yang mencapai 1.808,6 juta ton, 928,3 juta ton berasal dari China.

Bagaimana China mampu mendongkrak produksi dengan harga murah? Tenaga kerja ternyata hanya menyumbang kurang dari 10% dari biaya produksi baja China. Industri baja China juga tidak bergantung pada skala ekonomi, perkiraan rantai pasokan, atau efisiensi teknologi.

Hasil penelitian Alliance for American Manufacturing menemukan, total subsidi energi untuk baja China (dari 2000-2007) mencapai USD 27 miliar. Sekitar 95% dari jumlah itu untuk subsidi batubara. Peningkatan subsidi energi berkorelasi positif terhadap pertumbuhan produksi baja China dan ekspor baja. Subsidi energi untuk industri baja dibayarkan ke sektor energi dan diteruskan melalui energi yang lebih rendah.

Setelah Pemerintah China meningkatkan subsidi energinya untuk industri baja, produksi baja dan ekspor baja negara itu meningkat secara signifikan. Industri baja dapat mengambil manfaat secara tidak proporsional dari subsidi energi.

Ketika ekonomi China melembat, industri baja negeri itu kelebihan pasokan. Baja China pun membanjiri pasar dunia. Ekspor baja China mencapai puncaknya pada 2015. Saat itu, China mengeskpor 115 juta metrik ton produk baja, jauh melebihi Jepang.

Data terbaru yang dirilis Jumat (11/7/2019), pada paruh pertama 2019, ekspor baja China turun 3% dibandingkan periode yang sama 2018. Sepanjang Juni 2019, China mengekspor 5,3 juta metrik ton baja, turun 23,5% dibandingkan periode yang sama 2018.

Penurunan ekspor baja China itu terjadi dalam enam bulan terakhir, terutama sejak memanasnya perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Pada paruh pertama 2019, ekspor baja China turun 3% dibandingkan periode yang sama 2018. Untuk melindungi industri bajanya, Amerik Serikat mengenakan tarif bea masuk sebesar 25%. Bahkan, Departemen Perdagangan AS akan menerapkan tarif impor mulai dari 30,3% hingga 177,43% untuk baja China.

Bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini sangat longgar terhadap masuknya produk baja China. Kelonggaran tarif bea masuk itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja. Pada 2018, jumlah importasi baja di Indonesia mencapai 7,6 juta ton. Industri baja dalam negeri pun gigit jari. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan,  besi dan baja tercatat sebagai komoditas impor terbesar ketiga atau 6,45% dari total impor 2018 senilai nilai USD10,25 miliar.

Setelah melihat serbuan baja China, pemerintah mengeluarkan Permendag Nomor 110 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan dan Produk Turunannya. Meski aturan direvisi, toh produk baja hingga triwulan 1 2019 masih tinggi. Pada Januari—Maret 2019, BPS mencatat, jumlah impor besi dan baja meningkat 14,75% secara year on year menjadi USD2,76 miliar. Kenaikan impor produk tersebut menjadi yang terbesar keempat.

Data The South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) menunjukkan, pada Januari—Maret 2019, jumlah impor baja dari China untuk kategori produk baja paduan Hot Rolled Coil meningkat 83% secara year on year atau sebesar 147 ribu ton. Jumlah impor produk baja paduan Cold Rolled Coil meningkat hingga 302% secara year on year atau sebesar 53 ribu ton.

Melihat kenyataan itu, Indonesia harus berani menerapkan kebijakan perlindungan industri dalam negeri. Perlindungan itu bisa dilakukan melalui kebijakan anti-dumping, anti-subsidi, hingga kebijakan pengaman perdagangan lainnya. Selama ini, Indonesia hanya bermain aman, bahkan memberikan karpet merah, terhadap masuknya barang-barang impor.

Bagi Negara lain, Indonesia adalah anak yang baik. Padahal, setiap negara menjadikan industri baja sebagai  induk industri. Kondisi industri baja akan memberikan efek ganda bagi sektor-sektor industri lainnya. Tingginya produk baja impor menyebabkan rendahnya utilisasi industri nasional dan melemahkan daya saing industri domestik. Dampak lanjutannya, kekuatan pertahanan suatu negara akan terancam. Sebab,  baja merupakan bahan baku utama untuk produksi peralatan pertahanan dan keamanan.

Setiap negara memberlakukan  industri baja sebagai tulang punggung perekonomian bangsanya. Oleh karena itu, negara harus serius mendukung industri baja. Jangan sampai negeri ini tak mampu berdiri tegak untuk membangun negara.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…